330 Pengidap HIV-AIDS di Tulungagung Meninggal Dunia

659

ADAKITANEWS, Tulungagung – Sudah sekitar 30 tahun HIV dan AIDS menjadi epidemi di Indonesia. Penyakit akibat infeksi virus HIV ini pun menjadi sorotan dunia. Dan sebagai momentumnya, setiap 1 Desember diperingati sebagai Hari AIDS Sedunia (HAS).

Momentum HAS 2017 ini mungkin seharusnya bisa dipakai semua pihak untuk kembali merefleksikan praktik dan kerja pemerintah maupun lembaga non pemerintah dalam upaya penanggulangan epidemi HIV dan AIDS selama 30 tahun terakhir.

Dari catatan Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kabupaten Tulungagung, dalam rentang waktu 12 tahun terakhir di Kabupaten Tulungagung terdapat 1.830 warga yang terjangkit virus HIV-AIDS. Dengan pengidap didominasi kalangan tenaga non profesional atau karyawan.

“Jumlah yang terinfeksi HIV ada 1.830 penderita. Sebagian besar dari tenaga non profesional sebanyak 586,” kata Didik Eka dari Pokja Promotif Dan Preventif KPA Tulungagung, Jumat (01/12).

Sebanyak 98 persen kejadian HIV di Tulungagung, lanjutnya, disebabkan oleh hubungan seksual yang tidak terproteksi. Virus HIV-AIDS ini, di Tulungagung tidak hanya menjangkiti pada golongan usia dewasa. Namun sebanyak 40 anak juga telah terinfeksi virus yang mematikan ini dari orang tuanya. “Dalam 12 tahun terakhir, tercatat ada 330 pengidap HIV-AIDS yang meninggal dunia. Sedangkan selama tahun 2017 ini sekitar 40 ODHA meninggal dunia,” ujarnya.

Didik mengaku prihatin karena kasus kebanyakan terjadi pada mereka yang berusia produktif. Upaya pemerintah, lanjutnya, dirasa cukup optimal melalui promotif, preventif, kuratif dan rehabilitasi. Namun, semua tak akan berarti tanpa adanya keterlibatan masyarakat.

Sementara itu, Ahmad Shokib salah seorang ODHA (Orang Dengan HIV-AIDS) di Tulungagung mengakui dirinya telah divonis sebagai ODHA sejak empat tahun lalu. Namun demikian dirinya masih mampu menjalani aktivitas seperti kebanyakan orang tanpa HIV-AIDS.

Kini ia juga menjadi salah seorang motivator bagi sesama ODHA, sehingga keberadaannya lamban laun diterima dalam pergaulan masyarakat umum. “Kita berharap masyarakat lebih terbuka sehingga tidak akan ada lagi stigma buruk bagi ODHA. ODHA biasanya merasa didiskriminasi masyarakat karena pandangan buruk masyarakat akan HIV/AIDS,” jelas Ahmad Shokib.(ta1)

Keterangan gambar : Relawan lakukan sosialisasi bahaya HIV AIDS.(foto : acta cahyono)