ADAKITANEWS, Sidoarjo – Di tengah harga kebutuhan pokok yang kian meningkat serta tidak diimbangi dengan penghasilan membuat Ali Mas’ad harus mencari cara untuk mencukupi kebutuhan keluarganya. Kepala Madrasah Aliyah (MA) Khalid bin Walid Porong itu akhirnya memutuskan untuk menjadi pedagang keliling.

=========

Dengan berbekal sebuah kotak kayu berisi kosmetik dan aksesoris harian yang diletakkan di bagian belakang kendaraannya, Ali menyusuri kampung-kampung untuk menjajakan dagangannya.

Pria 43 tahun ini mengaku sudah belasan tahun melakoni pekerjaan itu, tepatnya sejak 2002 silam. Meski memiliki banyak pelanggan, hanya sedikit dari mereka yang sadar bahwa ia adalah seorang kepala sekolah.

Ali, merupakan Kepala Madrasah Aliyah Khalid bin Walid Porong sejak tahun 2002. Meski memiliki jabatan sebagai pendidik, dia tidak malu untuk berjualan keliling dengan motornya. “Gaji sebagai guru belum cukup,” ungkapnya.

Menurut dia, Tunjangan Profesi Pendidik (TPP) juga tidak rutin cair setiap bulan. Biasanya, dana itu turun sekitar dua sampai empat bulan sekali. “Padahal, kebutuhan hidup sehari-hari membutuhkan biaya,” ucapnya.

Ali pun pada akhirnya lebih mengandalkan hasil jerih payah berjualan keliling daripada upah sebagai guru. Ali menjelaskan, pengalaman berwiraswasta sudah dimulai setelah ia menamatkan pendidikan S1 di UINSA Surabaya pada tahun 2000 silam.

Ali yang kuliah sembari mengajar di MA Khalid bin Walid sejak 1997 itu kemudian meneruskan kiprahnya sebagai pendidik sembari berdagang. “Lulus kuliah jualan telur asin dan snack,” paparnya.

Usai jam pulang sekolah, dia biasa menjajakan dagangannya ke sejumlah kawasan. Misalnya, Candi, Tanggulangin, Porong, dan Jabon. Dia rela melakoni pekerjaan itu agar penghasilannya bertambah.

Dia tidak pernah putus asa meski harus berpeluh keringat di jalan. Ali mengatakan, keuntungan yang didapat dari berjualan itu ditabung secara perlahan. Dan pada tahun 2002, Ali memilih untuk ganti berjualan kebutuhan ibu-ibu. “Lebih praktis, masa kedaluwarsanya juga lebih lama,” tuturnya.

Cita-cita Ali untuk meneruskan pendidikan di jenjang S2 baru kesampaian setelah dua tahun berselang. Dia akhirnya mengambil Jurusan Manajemen Pendidikan Islam di STAI AL Khoziny Sidoarjo. Dulu, dia berjualan setiap hari. Saat itu, proses Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) di sekolah berlangsung pada siang. Dia pun leluasa menggunakan waktu paginya untuk berkeliling menjajakan dagangan. “Setelah ada lumpur, sekolah masuk pagi. Jadi, hanya bisa jualan ketika hari libur,” katanya.

Bapak tiga anak ini mengaku memperolah laba yang lumayan dari pekerjaan sampingannya itu. Dalam sehari saja, rata-rata pemasukannya bisa mencapai Rp 600 ribu. Hasil yang lumayan itulah yang membuatnya tidak segan untuk menempuh pendidikan S3 di UINSA Surabaya dengan mengambil program pascasarjana Dirasah Islamiyah. Meski, pendidikan itu belum bisa selesai karena dia ingin fokus untuk membiayai pendidikan anak-anaknya. “Hasil jualan keliling juga bisa untuk menyekolahkan S2 istri,” ungkap suami dari Umi Latifah ini.(sid2)

Keterangan gambar : Ali Mas’ad saat berdagang keliling.(ist)

http://www.adakitanews.com/wp-content/uploads/2017/04/adakitanews20170416_182255-1024x576.jpghttp://www.adakitanews.com/wp-content/uploads/2017/04/adakitanews20170416_182255-150x150.jpgREDAKSITokohadakitanews,Berita,Kepala sekolah,sidoarjo
ADAKITANEWS, Sidoarjo - Di tengah harga kebutuhan pokok yang kian meningkat serta tidak diimbangi dengan penghasilan membuat Ali Mas’ad harus mencari cara untuk mencukupi kebutuhan keluarganya. Kepala Madrasah Aliyah (MA) Khalid bin Walid Porong itu akhirnya memutuskan untuk menjadi pedagang keliling. ========= Dengan berbekal sebuah kotak kayu berisi kosmetik dan aksesoris...