1411817495981id203131@dakitanws Kediri – Masyarakat Dusun Kaliawen Barat, Desa Ngino, Kecamatan Plemahan, Kabupaten Kediri bergantung pada hasil pertanian sebagai penopang utama kebutuhan hidup. Namun, hasil kerajinan batu bata merah sebagai pendapatan tambahan seolah menjadi berkah, tak terkecuali kawula muda di dusun itu.

“Saya sejak masih bersekolah telah membantu orang tua saya. Kini saya mandiri melakukan pekerjaan ini,” kata Inun, saat diwawancarai di rumahnya pada Sabtu (27/09).

Pemilik nama lengkap M. Ainun Naim ini adalah satu dari puluhan pengrajin batu bata merah di desa tersebut. Pemuda berusia 18 tahun itu mengatakan bahwa sudah sejak kanak-kanak bisnis ini dijalankan orang tuanya. Sanak familinya yang telah berkeluarga pun tak luput ambil bagian dalam usaha ini. Semua dikelola secara individu. Tak perlu ijazah. “Saya lulusan Madrasah Tsanawiyah, itu pun ijazahnya belum saya ambil,” ujarnya.

Tidak seperti Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang mengawali kerjanya pukul 08.00 WIB, Inun dan pengrajin lainnya sudah mengangkat cangkul sejak matahari baru nongol. Alasannya, supaya rampung sebelum terik sang surya menyengat kepala. Terlebih, ia harus menghasilkan ratusan batu bata per hari agar cepat dibakar dan menghasilkan uang. “Setiap hari saya bisa mencetak 500 sampai 700 batu bata basah,” tuturnya.

Pagi, pukul 06.00 WIB, ia telah sibuk mengolah adonan yang dinamakan dengan rendeman. Suatu hasil percampuran komposisi tanah dan air. Keduanya dilumat hingga menjadi lumpur. Kemudian didiamkan sampai esok hari. Cara ini dilakukan agar ketika mencetak batu bata, adonan yang dipakai lumer, sehingga hasilnya lebih padat.

Cetakan yang berisi dua batu bata disiapkan di pelataran samping rumahnya. Dengan berjongkok, satu persatu batu bata dicetak. Sehabis itu, benda kotak-kotak ini dibiarkan di bawah terik matahari, agar mengeras. Pembuatan batu bata memang sangat mengandalkan panas matahari. Itulah mengapa di saat musim kemarau produktivitas semakin meningkat. ”Kalau tidak musim hujan, ya cepat menghasilkan,” jelasnya.

Setelah terkumpul batu bata kering kira-kira 15-20 ribuan, maka harus segera dibakar. Pembakaran kira-kira memakan waktu 10 hari. “Begitulah proses terakhir hingga menjadi batu bata merah siap jual,”.

Perlu diketahui: pada intinya semua proses, dilakukan secara manual. Kepincut Beda dengan Inun yang beralasan ingin meneruskan usaha orang tuanya, Suwaji, 35 tahun, mengukui kepincut dengan penghasilan kerajianan batu bata. “Saya bukan orang asli sini dan dulu kerja sebagai supir, tapi melihat tetangga yang membuat batu bata dan hasilnya kelihatan, maka saya juga ikut-ikutan,” Pak Suwaji menjelaskannya sembari tersipu ramah.

Ketika ditanya tentang pendapatan, pria asal kota Semarang ini menyatakan, cukup membuat orang kepincut. Harga batu bata per-seribu biji bata merah dibandrol Rp 450.000,-. Sedangkan modal produksi kira-kira hanya Rp. 200.000,-1000 biji. Maka, jika dua bulan mampu menjual 20.000 biji, omset yang didapat 9 juta atau 4,5 juta perbulan. Laba bersih: 2,5 juta/bulan. Tentu ini, lebih menjanjikan dari pada menjadi buruh pabrik atau sopir. Terlebih pekerjaan dilakukan di samping rumah sendiri.

“Urusan modal tidak perlu dipusingkan. Asal punya cangkul, cetakan, sepetak pekarangan usaha dapat dimulai. Pembelian bahan baku, seperti tanah, bekam padi sebagai bahan bakar bisa hutang pada penyetoknya. Tentu tanpa bunga. Hanya butuh tetesan keringat dan ketelatenan, pasti akan menghasilkan,” urainya.

Meski bertani tetap menjadi pekerjaan mayoritas penduduk dusun ini, tapi bagi Kharis atau Pak Suwaji tetap nyaman dengan profesi ini. Pun tidak semua orang punya petak sawah. Resiko bercocok tanam juga lebih tinggi dibanding pekejaan ini. Namun, bukan berarti yang memiliki petak sawah, disewakan atau bahkan dijual. Tetap digarap, tapi cenderung untuk sambilan. “Bata merah tetap menjadi berkah utama,” kata pak Suwaji.(anam)

Keterangan Gambar : Kerajinan batu bata milik Ainun Naim

RedaksiEkbisbatu bata merah; Desa Ngino Kec. Plemahan
@dakitanws Kediri - Masyarakat Dusun Kaliawen Barat, Desa Ngino, Kecamatan Plemahan, Kabupaten Kediri bergantung pada hasil pertanian sebagai penopang utama kebutuhan hidup. Namun, hasil kerajinan batu bata merah sebagai pendapatan tambahan seolah menjadi berkah, tak terkecuali kawula muda di dusun itu. “Saya sejak masih bersekolah telah membantu orang tua saya....