Berebut Gunungan Jaler – Estri

1534

ADAKITANEWS, Kota Madiun – Puncak peringatan Grebeg Maulid Nabi Muhammad 1438 Hijriah di alun-alun Kota Madiun berlangsung meriah, Senin (12/12). Salah satu yang istimewa adalah saat berebut gunungan. Masyarakat masih percaya bahwa isi gunungan itu akan membawa berkah bagi siapa saja yang mendapatkannya.

=======

Sejak pagi, di setiap sudut alun-alun Madiun sudah dipenuhi lautan manusia. Seperti tahun-tahun sebelumnya, masyarakat berkumpul untuk menyaksikan puncak kegiatan grebeg maulid yang biasanya banyak diisi dengan berbagai kegiatan kesenian diantaranya tari-tarian, drumband dan puluhan stand pameran.

Yang paling ditunggu dalam acara tersebut adalah datangnya dua buah gunungan. Yaitu gunungan “Jaler” atau “Lelaki” dalam bahasa Jawa, dan gunungan “Estri” yang artinya “Perempuan”.

Sesuai namanya masing masing gunungan mempunyai ciri khas atau komposisi yang berbeda. Gunungan Jaler diarak menggunakan kain putih sebagai penutup, disusun dari berbagai macam hasil bumi seperti, padi, kacang panjang, jagung, singkong, cabai merah serta pisang.

Sedangkan gunungan Estri berpenutup kain merah dengan bagian puncak yang berisi lauk pauk, dan disusun dengan komposisi aneka macam kue camilan seperti, donat, cucur, kue kukus, bakpao, dan utri.

Pembuatan dua gunungan tersebut dilakukan oleh Putut Rijono, guru SMPN 1 Kota Madiun berserta timnya dan memakan waktu selama sekitar sembilan jam.

Kedua gunungan tersebut diberangkatkan bersama-sama dari halaman Masjid Kuno Taman Kecamatan Taman Kota Madiun sekitar pukul 08.00 WIB oleh Camat Taman, Doris Eko yang didampingi oleh unsur Forkopimka. Kirab gunungan tersebut juga diikuti oleh ratusan pelajar mulai dari SD, SMP, dan SMA, yang secara estafet terus mendampingi sampai dengan finish di alun-alun Kota Madiun. Tidak hanya mendampingi, tapi mereka (para pelajar,red) juga menari dengan nuansa Islami sehingga menambah kemeriahan kegiatan tersebut.

Selain dua gunungan raksasa tersebut, ikut pula diarak tigapuluh buceng pisungsung yang melambangkan adanya tiga kecamatan dan duapuluhtujuh kelurahan di Kota Madiun. Ketigapuluh bucengan inilah yang nantinya akan diserahkan oleh Wakil Walikota Madiun, Sugeng Rismiyanto kepada tigapuluh masyarakat perwakilan. “Sunan Kalijogo dulunya melakukan hal ini saat melakukan syiar agama Islam,” ujar Sugito perwakian dari Perpadi dan Dewan Kesenian Daerah.

Diceritakan, kegiatan ini dulunya diprakarsai oleh Kyai Misbach, pendiri Masjid Kuno Taman yang ingin meniru Kasultanan Yogyakarta Hadiningrat. “Kedepannya kita usahakan ini bisa menjadi wisata religi,” ujar Gandi Hatmoko, Ketua Panitia yang juga sebagai Kepala Dinas Pendidikan Kota Madiun.

Dalam wawancaranya dengan Tim Adakitanews.com, Wakil Walikota Madiun, Sugeng Rimiyanto menyampaikan, grebeg Maulid Nabi seyogyanya bisa meningkatkan tali silaturrahmi antar umat beragama yang ada di Kota Madiun. Sugeng juga berkeinginan kedepannya nanti kegiatan tersebut bisa menjadi ikon wisata Kota Madiun.

“Keinginan Pemerintah Kota Madiun menarik wisatawan adalah berbanding lurus dengan dengan pemanfaatan peluang ekonomi bagi masyarakatnya,” jelasnya.

Hal tersebut juga diamini oleh Sekda Kota Madiun, Maidi yang mengatakan bahwa untuk bisa menyedot banyak wisatawan, mutu UMKM harus bisa ditingkatkan. “UMKM yang berjumlah ratusan ini harus mampu meningkatkan mutunya,” kata Sekda Maidi.

Menutut kalkulasi Maidi, wisatawan pasti membawa uangnya yang nantinya akan dibelanjakan. Selain itu, Maidi juga memberikan masukan agar nantinya ada ciri khas tertentu dari Kota Madiun di sektor Kebudayaan.

Acara yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba. Sesaat setelah gunungan didoakan oleh KH Musfroil Aida, tanpa dikomando warga langsung saling berebut gunungan tersebut. Hanya dalam waktu sekitar lima menit, gunungan tersebut ludes tanpa sisa. “Ini golek berkah (cari berkah,jawa-red),” ujar salah satu warga bernama Agus, sambil membawa aneka hasil bumi.(adv/dinas pendidikan/BODIES)