Boyongan Rumah, Tradisi Yang Hampir Hilang

2985

2015-08-15_16.23.20

ADAKITANEWS, Nganjuk – Tradisi boyong rumah atau pindahan rumah yang dilaksanakan ketika warga akan menempati rumah baru saat ini sudah hamipir punah. Namun, masih ada beberapa warga di Tanjungrejo Kabupaten Nganjuk yang masih mempertahankannya.

Ritual boyongan rumah menjadi sangat langka hingga saat ini. Namun, masih tetap menjadi dijalankan oleh sebagian warga di Nganjuk. Pimpinan upacara boyongan adalah seorang dukun atau- pun seorang kyai seperti halnya pada upacara-upacara yang diadakan lebih dahulu.

Upacar ini dilakukan setelah bangunan selesai upacara terakhir dalam proses pembangunan rumah ba­ru. Upacara ini dimaksud untuk mengantarkan doa selamat kepada penghuni rumah-baru yang dimulai dengan proses pindah serentak bersama keluarga “boyongan”. Ada beberapa pihak yang menyebut upacara ini sebagai “upacara buka pintu”.

Upacara “boyongan” dimaksudkan oleh kultur jawa (la­ma) untuk memberi suasana tenteram pada pemakaian rumah baru tersebut sebagai tempat tinggal dan ber- lindung bagi penghuninya.

Rosmad salah satu dukun pemimpin upacara mengatakan upacara boyongan ini diselenggarakan dibangunan rumah baru. Rosmad menambahkan waktu penyelenggaraan upacara adalah sore hari atau malam hari. Sedangkan harinya diadakannya upacara ini adalah pada hari pindahan keluarga penghuni (dalam satu hari/ hari itu juga) atau sehari — dua hari setelah rumah-baru tersebut dihuni. Selamatan demikian dapat diulangi pada hari ke-5 (sepasaran) dan pada hari ke-35 (selapanan).

“Upacara boyong ini diselenggarakan oleh siempunya hajat sedapat-dapatnya bila mungkin diselenggarakan oleh orang (kepala keluarga) yang akan menghuni rumah ba­ru termaksud kalau upacara-upacara yang dahulu dapat “dipikul bersama” oleh famili orang yang berkepentingan. Maka upacara “boyongan” ini seharusnya diselengga­rakan sendiri oleh kepala keluarga yang bakal menghuni rumah baru tersebut. Terkecuali bila temyata orang yang bersangkutan, secara ekonomis tidak mampu benar benar,” ujar Rosmad

Namun ada kemungkinan lain yaitu karena jauhnya jarak antara rumah lama (rumah si empunya hajat) de­ngan lokasi rumah baru daerah diseki­tar bangunan baru tersebut. Disini dipakai kata “me­nguasai” dalam arti memiliki pengaruh pribadi di wilayah sekitamya. Pada prinsipnya – prinsip status iapun seorang dukun atau kyai atau ulama

“Untuk melestarikan serta menggali, mencari sisa-sisa tradisi yang sedang dalam proses “ditinggalkan” (proses menyusut). Namun belum punah juaga untuk mengingatkan kepada generasi berikut bahwa sejarah budaya kita sangat beragam,” ujar ahmadi sang pemilik rumah.(jati)