ADAKITANEWS, Tulungagung – Harga tembakau rajangan kering di Kabupaten Tulungagung pada masa panen saat ini mengalami penurunan, menyusul terjadinya hujan dalam beberapa hari terakhir.

Petani di Desa Waung Kecamatan Boyolangu Kabupaten Tulungagung, Sutikno salah satunya, yang menyebutkan penurunan harga tembakau rajangan kering berkisar antara Rp 5 ribu sampai Rp 10 ribu perkilogramnya untuk semua jenis.

Sutikno menuturkan hujan atau mendung yang terjadi pada siang hari membuat proses pengeringan tembakau tidak maksimal sehingga menyebabkan kualitas tembakau turun.

Ia mengatakan jika cuaca panas proses pengeringan tembakau memerlukan waktu dua hari. “Kalau pengeringan tidak tuntas dalam dua hari maka warna tembakau tidak bagus. Apalagi kalau terkena air hujan maka tembakau rajangan tersebut bisa rusak,” kata Sutikno,.

Ada dua jenis tembakau yang diolah Sutikno, yaitu jenis tembakau gula kering yang berwarna kuning kecokelatan dan tembakau jenis pilesan. Untuk tembakau gula kering, prosesnya tanpa melalui pembuangan kadar air dan minyak. Sedangkan untuk jenis pilesan, setelah dirajang tembakau tersebut diinjak-injak secara tradisional menggunakan kaki untuk membuang kadar air dan cairan minyak yang terkandung pada daun tembakau.

“Untuk jenis tembakau gula kering, saat awal musim harga di kisaran Rp 60 ribu hingga Rp 70 ribu. Kondisi saat penghujan turun di kisaran Rp 55 ribu hingga Rp 60 ribu,” katanya.

Sedangkan, tembakau jenis pilesan yang memiliki mutu lebih baik harganya lebih tinggi dibanding jenis tembakau gula kering, yakni di kisaran Rp 60 ribu hingga Rp 70 ribu per kilogram.

“Kalau kondisi cuaca bagus, jenis pilesan ini harga antara Rp 70 ribu hingga Rp 80 ribu per kilogram. Turunnya harga tembakau ini disebabkan pengeringan yang tidak optimal. Sehingga berpengaruh terhadap mutu tembakau yang dihasilkan, warna dan rasa tidak sebagus saat cuaca cerah,” lanjut Sutikno.

Strategi yang dilakukan Sutikno menghadapi cuaca yang tidak menentu ini adalah mengurangi produksi. Jika biasanya dua ton perhari, kini menjadi kurang dari satu ton perhari, dan memaksimalkan tenaga kerja.

“Strategi untuk meminimalkan risiko kerugian adalah membatasi volume produksi yang disesuaikan dengan kemampuan pengeringan, penjadwalan waktu perajangan agar pagi hari segera mulai proses jemur, serta manajemen pekerja yang harus optimal agar siaga setiap kali dilakukan tahap pengeringan,” pungkasnya.(ta1)

Keterangan gambar : Proses perajangan tembakau.(ist)

http://www.adakitanews.com/wp-content/uploads/2017/10/TEMBAKAU-1024x679.jpghttp://www.adakitanews.com/wp-content/uploads/2017/10/TEMBAKAU-150x150.jpgREDAKSIEkbisadakitanews,Berita,tembakau,Tulungagung
ADAKITANEWS, Tulungagung – Harga tembakau rajangan kering di Kabupaten Tulungagung pada masa panen saat ini mengalami penurunan, menyusul terjadinya hujan dalam beberapa hari terakhir. Petani di Desa Waung Kecamatan Boyolangu Kabupaten Tulungagung, Sutikno salah satunya, yang menyebutkan penurunan harga tembakau rajangan kering berkisar antara Rp 5 ribu sampai Rp 10...