ADAKITANEWS, Jombang – “Idealisme adalah kemewahan terakhir yang hanya dimiliki oleh pemuda”. Salah satu pesan dari pahlawan nasional, Tan Malaka tersebut sangat dipegang teguh oleh sejumlah pemuda di Kabupaten Jombang. Hal itu terlihat dalam konsistensi sejumlah pemuda di Jombang yang mengatasnamakan dirinya sebagai Komunitas Dagelan Etan Brantas, dalam memperkenalkan pementasan drama dalam bentuk yang berbeda.

=========

Komunitas Dagelan Etan Brantas merupakan kelompok pementasan drama yang menampilkan sebuah dagelan (cerita lucu,red) dalam setiap pementasannya. Dalam Komunitas Dagelan Etan Brantas tersebut, di dalamnya tergabung sejumlah pemuda yang mayoritas berangkat dari dunia teater di Jombang.

Seperti yang disampaikan oleh Alip, 22, mahasiswa asal salah satu Perguruan Tinggi Swasta di Jombang. Alip selaku koordinator Komunitas Dagelan Etan Brantas menjelaskan bahwa komunitas tersebut dibentuk oleh beberapa anak muda yang tergabung dalam beberapa sanggar teater, yang sering kali melakukan pementasan bersama. “Semuanya anak-anak teater dari berbagai sanggar,” tuturnya saat ditemui Tim Adakitanews.com, Jumat (01/11).

Awal terbentuknya Komunitas Dagelan Etan Brantas sendiri, lanjut Alip, berawal pada tahun 2017, yang saat itu sedang dilakukan proses pementasan di Jombang. Dari berbagai pementasan yang sering dikerjakan, sedikit ada kejenuhan dalam proses.

Menurut Alip, dari kejenuhan itulah para pelakon teater tersebut terbesit untuk membuat penampilan yang berbeda dari biasanya, dan akhirnya terbentuklah konsep pementasan yang berkarakter dagelan.

“Awalnya ada rasa bosan dalam proses teater, untuk menghilangkan kebosanan setiap kali evaluasi pasca pementasan. Saat itu terbesit untuk membuat pementasan yang setelah pentas tidak ada pembahasan yang menguras otak. Dan saat itu juga terpikirkan sebuah pementasan dagelan,” paparnya.

Saat ini Komunitas Dagelan Etan Berantas mulai diperkenalkan di dunia pementasan di Kabupaten Jombang. Tidak hanya di Jombang, sempat juga dari sanggar teater luar kota juga mengundang komunitas tersebut untuk tampil di daerahnya. “Kami juga pernah diundang untuk tampil di Jawa Tengah. Kedepan kita juga ada pementasan di Rembang,” tandasnya.

Konsistensi para pemuda yang tergabung dalam Komunitas Dagelan Etan Brantas ini memang mempunyai tujuan tersendiri dalam setiap kali pementasannya. Dalam setiap pementasan, para lakon selalu membawakan alur cerita sesuai dengan realitas kehidupan saat ini.

Alip menjelaskan bahwa di Dagelan Etan Berantas memiliki lakon pokok yang selalu muncul dalam pementasan. Dan setiap lakon memiliki karakter yang kuat setiap masing-masing lakon.

“Seperti sosok Ari, yang selalu diperankan oleh Eka Agustiawan, 23. Sosok Ari sendiri ialah pemuda yang memiliki keterbatasan mental yang memiliki keinginan kuat untuk berproses di dunia sastra dan kesenian. Meski Ari dalam kondisi seperti itu, Ari mengajarkan para penonton untuk selalu melakukan proses kehidupan meski dalam kondisi terjepit atau dalam keterbatasan,” ungkap Alip.

Sedangkan untuk pementasannya, Dagelan Etan Brantas berbeda dengan ludrukan. Pementasan ludruk yang kental akan budaya jawa, yang selalu menggunakan parikan atau pantun dengan bahasa Jawa dalam setiap awal pementasannya, berbeda dengan Dagelan Etan Brantas yang selalu diawali dengan puisi yang dibacakan dengan karakter Ari dengan alunan musik. “Kalau ludruk selalu menggunakan parikan, tapi kita menggunakan musikalisasi puisi yang dibacakan oleh karakter Ari,” jelas Alip.

Meski Komunitas Dagelan Etan Brantas tergolong baru di kalangan pementasan drama di Jombang, tetapi komunitas tersebut sudah mendapatkan apresiasi tinggi dari pemerintah daerah. Terbukti dari penghargaan yang baru diterimanya dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Jombang.

“Kami baru saja mendapatkan penghargaan sebagai Penyaji Terbaik Tanpa Jenjang dari Disbudpar, kemarin. Alhamdulillah kami bisa diterima di Jombang,” ujarnya.

Untuk kedepan, kata Alip, akan terus memperkenalkan Komunitas Dagelan Etan Brantas sebagai karya pementasan asli Jombang untuk diperkenalkan di seluruh wilayah di Indonesia. “Ya yang jelas kami mempunyai harapan untuk memperkenalkan dan mempopulerkan ke seluruh wilayah, tetapi kami masih melakukan proses pembelajaran di internal agar bisa menyuguhkan yang terbaik dalam setiap pementasan,” pungkas Alip.(ar)

Keterangan gambar: Komunitas Dagelan Etan Brantas saat melakukan pementasan. (bawah) Komunitas Dagelan Etan Brantas saat menerima penghargaan dari Disbudpar Jombang.(ist)

http://www.adakitanews.com/wp-content/uploads/2017/12/021217-ar-jombang-dagelan-2-1024x768.jpghttp://www.adakitanews.com/wp-content/uploads/2017/12/021217-ar-jombang-dagelan-2-150x150.jpgREDAKSISeni Budayaadakitanews,Berita,dagelan etan brantas,jombang
ADAKITANEWS, Jombang - 'Idealisme adalah kemewahan terakhir yang hanya dimiliki oleh pemuda'. Salah satu pesan dari pahlawan nasional, Tan Malaka tersebut sangat dipegang teguh oleh sejumlah pemuda di Kabupaten Jombang. Hal itu terlihat dalam konsistensi sejumlah pemuda di Jombang yang mengatasnamakan dirinya sebagai Komunitas Dagelan Etan Brantas, dalam memperkenalkan pementasan...