ADAKITANEWS, Kota Blitar – Dinas Kesehatan Kota Blitar mengaku kesulitan dalam mengatasi penggunaan bahan kimia berbahaya dalam makanan ringan.

Dari hasil sampling oleh Dinas Kesehatan Kota Blitar secara acak yang dilakukan di dua tempat berbeda dengan penjual yang berbeda, serta dengan rentan waktu sejak awal Januari hingga akhir Februari 2017 membuktikan, jika kesadaran para penjaja makanan ringan di Kota Blitar soal makanan higienis masih rendah. Dalam uji sampling tersebut, 1 penjaja makan ringan terbukti masih menggunakan zat pewarna tekstil dalam makanan.

Menurut Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat (Kesmas) di Dinas Kesehatan Kota Blitar, dr Dharma Setiawan, para pedagang yang masih menggunakan zat pewarna tekstil cenderung beralasan menghemat anggaran produksi.

“Kita akui susah. Karena mereka juga tergolong ekonomi menengah kebawah, jadi mereka berusaha untuk menekan angka produksi demi laba yang tinggi,” katanya kepada Tim Adakitanews.com , Jumat (17/03).

dr Dharma menjelaskan, sosialisasi dan penindakan tak mampu untuk meningkatkan kesadaran penjual makanan dalam menyajikan makanan higienis. “Sebetulnya kembalinya tetep kepada penjualnya. Kita selalu berusaha untuk mencegahnya dengan berbagai sosialisasi,” jelasnya.

Sesuai data di Dinas Kesehatan Kota Blitar, kandungan Rhodamin B dan Metanil Yellow merupakan dua Zat yang sering ditemukan pada jajanan anak. Kedua zat itu bereaksi setelah terakumulasi sekian tahun. Berbeda dengan bakteri seperi E Coli yang dampaknya langsung terasa.

“Kita akan terus pantau biar kesadaran penjual soal makanan hygene terus meningkat,” tutupnya. (blt1)

http://www.adakitanews.com/wp-content/uploads/2017/03/20170317_193825-1024x768.jpghttp://www.adakitanews.com/wp-content/uploads/2017/03/20170317_193825-150x150.jpgREDAKSIKesehatanadakitanews,Berita,blitar,dinas kesehatan kota blitar,makanan
ADAKITANEWS, Kota Blitar - Dinas Kesehatan Kota Blitar mengaku kesulitan dalam mengatasi penggunaan bahan kimia berbahaya dalam makanan ringan. Dari hasil sampling oleh Dinas Kesehatan Kota Blitar secara acak yang dilakukan di dua tempat berbeda dengan penjual yang berbeda, serta dengan rentan waktu sejak awal Januari hingga akhir Februari 2017...