ADAKITANEWS, Sidoarjo – Terdakwa kasus pelepasan aset BUMD Jawa Timur, PT Panca Wira Usaha, Dahlan Iskan, divonis 2 tahun penjara dan denda Rp 100 juta subsider 2 bulan penjara oleh majelis hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Surabaya, Jumat (21/04).

Majelis hakim yang diketuai Taksin memutuskan, terdakwa tidak melanggar dakwaan primer, namun tetap terbukti melanggar dakwaan subsider. “Terdakwa terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana korupsi secara besama-sama sebagaimana dalam dakwaan subsider,” jelasnya.

Terdakwa dianggap bersalah karena tidak melaksanakan tugas dan fungsinya secara benar saat menjabat sebagai Direktur Utama PT Panca Wira Usaha (PWU) sehingga harga aset yang terjual di bawah NJOP. “Menyatakan terdakwa tetap dalam tahanan kota,” katanya.

Dijelaskan, terdakwa terbukti melakukan pelanggaran prosedur antara lain transaksi sudah dilakukan sebelum penawaran lelang, tidak menunjuk lembaga appraisal independen untuk melakukan taksiran harga sebagai acuan, serta pelepasan aset yang tidak diumumkan di media massa. Dan akibatnya, negara dirugikan sebesar Rp 10,8 miliar.

Vonis itu lebih ringan daripada tuntutan jaksa. Sebelumnya Dahlan dituntut 6 tahun penjara dan denda Rp 750 juta subsider 6 bulan penjara.

Dahlan dinyatakan melanggar Pasal 3 juncto Pasal 18 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana diubah dalam UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

Menanggapi putusan tersebut, Dahlan dan tim kuasa hukumnya langsung menyatakan banding. Di hadapan majelis hakim, Dahlan mengatakan secara moral, dia selaku Dirut akan bertanggung jawab. “Saya terima kasih (karena,red) tidak terbukti menerima uang,” ujarnya.

Terdakwa mengaku bertanggung jawab atas keputusan yang dibuatnya saat menjadi Dirut. “Saya ingin bertanggung jawab. Jadi pimpinan itu ya harus bisa menerima tidak hanya enaknya tapi juga pahitnya. Misalnya tanda tangan tadi ya pasti harus tanda tangan karena saya Direktur Utama. Bahwa ternyata yang saya tanda tangan tidak betul ya itu risiko pimpinan,” kata Dahlan.

Ia mengakui kesalahannya hingga divonis 2 tahun adalah kebodohannya serta emosi pengabdian saat menjadi Dirut PT PWU periode 2001-2003. “Jadi anggaplah ini kebodohan saya, anggaplah ini yang saya terlalu emosi mengabdi waktu itu,” ungkapnya.

Ia juga mengingatkan kepada para Direksi BUMN dan BUMD yang masih mengabdi agar bisa mengambil pelajaran dari kasusnya.(sid2)

Keterangan gambar : Terdakwa Dahlan Iskan saat menjalani persidangan.(foto : mus purmadani)

http://www.adakitanews.com/wp-content/uploads/2017/04/210417-sid2-sidoarjo-dahlan.jpghttp://www.adakitanews.com/wp-content/uploads/2017/04/210417-sid2-sidoarjo-dahlan-150x150.jpgREDAKSIHukum Kriminaladakitanews,Berita,dahlan iskan,korupsi,sidoarjo
ADAKITANEWS, Sidoarjo - Terdakwa kasus pelepasan aset BUMD Jawa Timur, PT Panca Wira Usaha, Dahlan Iskan, divonis 2 tahun penjara dan denda Rp 100 juta subsider 2 bulan penjara oleh majelis hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Surabaya, Jumat (21/04). Majelis hakim yang diketuai Taksin memutuskan, terdakwa tidak melanggar dakwaan...