ADAKITANEWS, Sidoarjo – Fenomena keberadaan gelandangan dan pengemis (gepeng) di setiap sudut perkotaan sampai saat ini masih menjadi perdebatan. Mulai dari persoalan yang tak kunjung terselesaikan, hingga kebutuhan perekonomian yang memaksa mereka, para gepeng tetap bertahan.

=======

Hampir dipastikan, setiap Jumat pagi, di pelataran Masjid Agung Sidoarjo selalu penuh dengan barisan ibu-ibu berpakaian lusuh ala kadarnya, sambil membawa wadah yang sesekali disodorkan pada setiap jamaah yang datang.

Keberadaan para pengemis mingguan di Masjid Agung Sidoarjo diakui merupakan fenomena lama yang hingga kini sulit ditiadakan. Meski telah berkali-kali ditertibkan, para gepeng tetap nekat mengais rejeki dari para dermawan yang saat itu datang.

Takmir Masjid Agung Sidoarjo, Kusdarmawan mengatakan, meski para gepeng dianggap bukan merupakan suatu gangguan, namun keberadaan mereka diakui cukup mengganggu pemandangan. Wawan, sapaan akrab pengurus takmir itu mengatakan, tidak ada dampak apapun yang dirasakan oleh pihak pengurus masjid terkait adanya gepeng. Baik soal kebersihan atau ketertiban. “Sebenarnya tidak mengganggu sama sekali. Hanya memang mengganggu pemandangan,” ujarnya saat ditemui Tim Adakitanews.com, Jumat (26/08).

Ditambahkan Wawan, selama ini para gepeng sebenarnya mudah ditertibkan. Meski tidak melarang aktivitas mereka, pihak takmir mengaku telah melarang para gepeng memasuki halaman masjid. “Kalau kami sudah melarang mereka masuk ke dalam halaman masjid. Dan mereka nurut,” imbuhnya.

Tetapi, takmir juga berharap agar suasana kenyamanan dan estetika di masjid terbesar di Kabupaten Sidoarjo tersebut tetap bisa terjaga. Salah satunya dengan bebasnya area Masjid Agung dari keberadaan pengemis dan gelandangan. “Harapannya bisa ditertibkan,” tambahnya.

Sementara, salah satu pengemis yang sempat diwawancarai Tim Adakitanews.com, Painem, 86, warga asli Ngoro Kabupaten Jombang mengaku hari Jumat memang menjadi rutinitasnya bersama rekan-rekan seprofesinya untuk datang ke Masjid Agung. Painem mengatakan, selain hari Jumat, ia biasa melakukan aktivitas di kawasan Pasar Sepanjang Sidoarjo. “Tinggalnya di Pasar Sepanjang Sidoarjo. Kalau Jumat baru kesini naik angkutan sama-sama,” ujar wanita tua tersebut.

Ditanya soal penghasilannya siang itu, Painem mengaku hanya mendapatkan Rp 17 ribu. Tidak seperti Jumat biasanya yang bisa melebihi Rp 20 ribu.

Persoalan penertiban gelandangan dan pengemis memang tidak bisa langsung terselesaikan. Meski membutuhkan waktu lama, masyarakat tetap berharap ada tindak lanjut dari pemerintah setempat agar keberadaan para gepeng tidak semakin menjamur merusak pemandangan sudut perkotaan.(rochmatullah kurniawan)

Keterangan gambar: Deretan pengemis menunggu uluran tangan para dermawan yang keluar dari Masjid Agung Sidoarjo.(foto: kurniawan)

http://www.adakitanews.com/wp-content/uploads/2016/08/20160826_192247-1024x768.jpghttp://www.adakitanews.com/wp-content/uploads/2016/08/20160826_192247-150x150.jpgRedaksiDaerahadakitanews,Berita,gelandangan,gepeng,masjid agung sidoarjo,pengemis,sidoarjo
ADAKITANEWS, Sidoarjo - Fenomena keberadaan gelandangan dan pengemis (gepeng) di setiap sudut perkotaan sampai saat ini masih menjadi perdebatan. Mulai dari persoalan yang tak kunjung terselesaikan, hingga kebutuhan perekonomian yang memaksa mereka, para gepeng tetap bertahan. ======= Hampir dipastikan, setiap Jumat pagi, di pelataran Masjid Agung Sidoarjo selalu penuh dengan barisan...