ADAKITANEWS, Tulungagung – Bagi sebagian besar orang, ular dianggap sebagai hewan menakutkan dan menggelikan. Namun anggapan itu sepertinya tidak berlaku bagi Zainal Arifin. Pria asal Desa Majan Kecamatan Kedungwaru Kabupaten Tulungagung ini justru memiliki hobi unik, beternak ular.

=========

Dengan memanfaatkan teras rumahnya, Zaenal Arifin sukses membudidayakan ular phyton jenis reticulatus. Tidak memerlukan lahan yang luas untuk budidaya ini. Puluhan ekor indukan ular reticulatus phyton yang dipelihara di dalam kandang kotak kayu, hanya ditempatkan di teras rumahnya.

Zainal Arifin atau yang akrab disapa Azzen itu mengaku, saat ini koleksi ular yang dikenal berjenis mematikan ini sudah berjumlah puluhan. Azzen bahkan bisa meraup uang puluhan juta rupiah setiap bulannya dari hasil menjual phyton.

“Ular jenis reticulatus phyton dapat tumbuh hingga mencapai ukuran 10 meter, jenis ini yang banyak digemari oleh pecinta ular,” kata Zainal Arifin.

Lanjut Zainal, selain corak kulitnya yang eksotis, ular jenis ini tidak berbisa dan relatif jinak. Di alam liar ular reticulatus phyton merupakan hewan endemik negara-negara Asia Tenggara, seperti Indonesia, Malaysia dan Philipina. Sedangkan ular yang banyak dijadikan peliharaan adalah reticulatus phyton hasil persilangan seperti retics sun fire, retic tiger, retic platina, dan golden child.

Bagi Zainal untuk mengembangbiakkan ular khususnya jenis reticulatus phyton ini tidak sulit. Hanya perlu menyiapkan indukan ular betina minimal berumur 3 tahun, dan ular pejantan minimal umur dua tahun. Untukmengetahui jenis kelamin ular dapat menggunakan alat sexing ular yang dimasukkan ke lubang kelamin ular. Jika masuk sedalam 10 sisik atau sekitar 10 sentimeter, maka ular tersebut adalah jantan. Namun jika hanya masuk sedalam 5 sisik, maka berjenis kelamin betina.

“Setelah memasuki musim kawin, terjadi pada bulan Mei hingga Juli, kedua ular disatukan dalam satu kandang untuk proses pembuahan. Jika tidak ada penolakan dari masing-masing ular, dalam waktu satu hingga dua minggu perut ular betina akan mulai tampak membesar. Dalam sekali bertelur ular mampu menghasilkan puluhan butir telur,” ujarnya.

Ditambahkan, proses dari pembuahan hingga telur ular menetas, dibutuhkan waktu 6 hingga 7 bulan. “Agar penetasan telur bisa maksimal, sebaiknya ditetaskan di inkubator dengan suhu 30 derajat celcius dengan kelembapan 90 persen,” papar Zainal.

Dari 40 ekor indukan yang dimiliki Zainal, setiap bulannya mampu menjual 5 hingga 10 ekor anakan ular yang dijual dengan harga rata-rata Rp 5 juta per ekor. Dan semakin besar ular, harganya juga semakin mahal.

Selain ukuran, harga ular juga ditentukan oleh motif yang dimiliki, bahkan harganya bisa mencapai puluhan juta rupiah per ekor. Sedangkan untuk biaya operasional dengan ular sebanyak 40 ekor indukan dan 50 ekor anakan yang dimiliki saat ini, Azen mengeluarkan uang sekitar Rp 500 ribu perbulan. Biaya itu untuk pemberian pakan berupa ayam dan tikus yang diberikan pada masing-masing ular satu bulan sekali.(ta1)

Keterangan gambar : Zainal Arifin dengan indukan phytonnya.(foto : acta cahyono)

http://www.adakitanews.com/wp-content/uploads/2017/10/adakitanews20171008_144134.jpghttp://www.adakitanews.com/wp-content/uploads/2017/10/adakitanews20171008_144134-150x150.jpgREDAKSIGaya Hidupadakitanews,Berita,Tulungagung,ular phyton
ADAKITANEWS, Tulungagung – Bagi sebagian besar orang, ular dianggap sebagai hewan menakutkan dan menggelikan. Namun anggapan itu sepertinya tidak berlaku bagi Zainal Arifin. Pria asal Desa Majan Kecamatan Kedungwaru Kabupaten Tulungagung ini justru memiliki hobi unik, beternak ular. ========= Dengan memanfaatkan teras rumahnya, Zaenal Arifin sukses membudidayakan ular phyton jenis reticulatus....