Hiswana Migas Mokong, Harga Elpiji 3 Kg Tembus Rp. 18 Ribu

739

ADAKITANEWSmelon, Nganjuk – Himpunan wiraswasta nasional minyak dan gas (HISWANA MIGAS) DPC Kediri, Mokong dan tidak konsisten. Dalam surat yang ditujukan ke Bupati Nganjuk, Hiswana Migas nomor 0221/HM/DPC-KDR/II/2015, terkait perubahan harga sesuai Pergub Jatim Nomor 6 tahun 2015 dimana harga eceran tertinggi Rp 16 ribu.

Kenyataanya, secara sepihak Hiswana migas telah menaikkan harga elpiji 3 Kg bersusidi, sehingga ditingkat pengecer harga gas elpiji 3 kg bersubsidi, melambung menjadi 17 ribu hingga 18 Rupiah. Padahal belum ada pengumuman resmi dari pemerintah pusat.

Hiswana Migas Kediri adalah  pihak yang harus bertanggung-jawab, dengan melambungnya harga tersebut. Karena tidak konsisten dengan surat yang pernah dilayangkan terkait dengan harga elpiji 3 Kg.

Bila hal ini dibiarkan dan ditemukan pelanggaran, Bupati Nganjuk, berhak membekukan ijin usaha bagi pangkalan maupun agen elpiji tanpa perlu kordinasi mereka.

Wakil Ketua DPRD Nganjuk dari Fraksi Partai Golkar, Sumardi mengatakan, Hiswana Migas harus konsisten dengan surat yang pernah dilayangkan ke Bupati Nganjuk terkait kenaikan harga elpiji 3 Kg bersubsidi ini. “Ini menciderai rakyat yang kini tengah dihadapkan pada problem ekonomi, dan Hiswana Migas jangan seperti mafia menaikkan harga elpiji bersubsidi secara sepihak,”ungkap sumardi.

Sumber adakitanews.com menerangkan, kenaikan harga elpiji 3 Kg bersubsidi hinggA 17 ribu-18 ribu ini, dikarenakan harga elpiji diringkat pangkalan ke pengecer naik antara Rp 1000 hingga Rp 1500. Sehingga harga elpiji bersubsidi 3 Kg  menembus angka Rp 18.000 per tabung, ditingkat konsumen.

Pengecer terpaksa menjual dengan harga yang tinggi, karena harga kulakan juga tinggi. ”Kalau harga murah ya dijual murah, tapi kalau kulakannya sudah tinggi masa dijual murah,” ujar Ibnu, pedagang elpiji eceran di kawasan Nganjuk kota.

Kenaikan ini banyak dikeluhkan banyak konsumen. Seperti diungkapkan Martini, ibu rumah tangga di kawasan Kauman Nganjuk. Dia mengeluhkan karena dalam sepekan ini, terjadi perubahan harga sampai tiga kali. “Awal pekan kemarin elpiji 3 Kg Rp 16.500 per tabung, kemudian Selasa kemarin naik menjadi Rp 17.000 per tabung 3 Kg. Sekarang harganya Rp 18.000 per Kg,” ujar Martini.

Menyingkapi ini, Sumardi meminta Diperindakoptamben Daerah kabupaten Nganjuk untuk melakukan pengawasan dan operasi penertiban pasar sehingga elpiji bersubsidi tersebut berlaku pada harga yang wajar.

Sementara itu, Sekretaris Dinas Perindagkoptamben Nganjuk, Adi Suyanto mengaku kaget dengan naiknya harga elpiji bersubsidi tabung 3 Kg hingga 18 ribu rupiah.

Menurut Adi, Mengutip pasal 3 Pergub Jatim No 6 Tahun 2015, pihak pengecer boleh merubah harga lebih tinggi dari HET yang ditetapkan jika jarak antara pangkalan di luar radius dari pengecer lebih dari 60 km.

Namun untuk wilayah kota Nganjuk tidak ada alasan untuk menaikkan harga HET elpiji itu. Pasalnya letak pangkalan terjauh dari area pasar Nganjuk yaitu berada di Kertosono berjarak hanya 25,1 Km. “Ini sangat memprihatinkan,” tambah Adi.

Diketahui sesuai dengan pasal 2, HET Rp 16.000 per tabung 3 kg. Ini sudah inklud dengan biaya operasional dan distribusi Rp 1.715,22. Sehingga  keuntungan agen Rp 1.150, margin pangkalan/pengecer Rp 1.500, sementara harga dari produsen Pertamina Rp 11.584,78 per tabung 3 kg.

Namun kenyataanya, tanpa alasan yang jelas, pihak Hiswana Migas Kediri, dengan sepihak menaikan harga tanpa melakukan koordinasi. (Kmto/Jati)