ADAKITANEWS – Pilkada adalah sebuah momentum politik lokal yang tidak akan berhenti pada perjalanan demokrasi Indonesia di era kini hingga masa akan datang. Karena sudah menjadi ketetapan dan cita-cita bangsa dalam menyelenggarakan budaya politik yang jujur, adil, demokratis dan penuh dengan nilai-nilai lokal yang masih didambakan mulai dari pemilihan pemimpin nasional hingga pemimpin daerah. Tentu menuju Pilkada (Pemilihan Kepala Daerah) tidak serta merta muncul secara instan dan mengandalkan hal lain (baik mengandalkan uang, dinasti orang tua maupun afiliasi kelompok politik besar lainnya), akan tetapi dibalik dari keistimewaan atau pengandalan sebuah pragmatisme politik atau disebut tak sempurna bila investasi politik masih kurang dan belum terjamah pada wilayah-wilayah keadaban.

Pilkada bukan sekedar ajang merebut kuasa tanpa ada investasi sebelumnya, artinya belajar dari pengalaman Pilkada sebelumnya hingga Pilkada Desember 2015 kemarin adalah bagian dari turbulensi politik bagi yang merasa diri memiliki uang banyak, nama besar orang tua, petahana dan berafilisasi dengan kelompok politik besar, ternyata semua itu hanyalah fatamorgana politik yang tak bisa merebut kuasa politik local, namun yang tidak memiliki itu dan punya investasi sebelumnya lebih mendapat kuasa penuh oleh rakyat di daerahnya masing-masing. Tentu teori rekayasa politik juga tak relefan bila politik menjadi bagian dari keadaban yang harus di lalui dengan model politik yang jujur tanpa ada rekayasa.

Rekayasa politik tidak relevan bila politik diartikan sebagai keadaban atau konteks sederhana adalah pengabdian kepada masyarakat, dimana rakyat lebih memilih calon pemimpin daerah yang lebih merakyat dan memiliki kompetensi dalam membangun sebuah daerah dari keterbelakangan menuju daerah berkembang dan maju. Dialah pemimpin yang dinantikan oleh rakyat Indonesia di daerahnya masing-masing. Bukan janji tetapi bukti nyata yang dia lakukan. Bukti seorang pemimpin daerah adalah sejauh mana calon pemimpin tersebut bekerja dengan tulus di daerahnya dengan sepenuh hati tanpa memandang tempat asal, dimana dan kapan harus bekerja, tetapi Ia harus membuktikan dengan karya nyata walaupun sedikit demi sedikit atau memulai dengan hal kecil akan memetik dengan hal besar.

Belajar dari Pilkada: Perspektif Survei Opini dan Fakta 2015

Kurang lebih 264 wilayah provinsi dan kabupaten-kota yang menyelenggarakan Pilkada serentak 2015 adalah pembelajaran penting dalam menyiapkan kader pada Pilkada 2017, dimana dari setiap pemilihan kepala daerah adalah sebuah pelajaran berharga bagi rakyat di Indonesia. Artinya rakyat lebih cerdas melihat sosok pemimpin yang benar-benar tulus dan peduli akan sebuah negeri yang ingin menuju masyarakat yang cerdas dan sejahterah. Berbicara soal Pilkada memang penuh dengan dinamika. Dinamika yang dimaksud adalah sebuah agenda politik di daerah-daerah yang memiliki segudang pengetahuan baik menjadi skenario hingga benar-benar terjadi.

Melihat data survei opini publik yang dilakukan oleh beberapa Lembaga Survei, yakni Pasifik Resources Indonesia (PRI) dan Survey Politik Indonesia (SPI) di beberapa tempat Pilkada di Indonesia antara lain Pilkada di Provinsi Jambi, Pilkada di Kota Samarinda, Pilkada di Kota Ternate dan Pilkada di Kota Tidore, Pilkada di Kab. Seram Bagian Timur, Pilkada di Kab. Bintuni dan Pilkada di Kab. Raja Ampat. Menunjukkan bahwa partisipasi politik sangat tinggi walaupun motifasi partisipasi lebih tinggi dipengaruhi oleh money politik, tetapi juga menunjukkan bahwa perubahan setiap daerah juga diinginkan oleh masyarakat disekitarnya.

Apatisme terhadap kepemimpinan sebelumnya memberikan gambaran kepada publik bahwa kepemimpinan sebelumnya harus diganti dengan kepemimpinan baru yang lebih pro terhadap perubahan. Kenapa demikian?, karena masyarakat di setiap daerah juga mulai menginginkan sebuah daerah yang dipimpin oleh pemimpin yang peduli tanpa memandang latar belakang yang lain. Perubahan adalah langkah maju untuk memberikan harapan baru bagi daerah-daerah, angka kuantitatif diatas 70 % hingga 90 % menunjukkan bahwa memilih pemimpin yang merakyat adalah angka yang signifikan, setelah itu terbukti bekerja untuk rakyat dan urutan ketiga adalah pemimpin yang jujur dimata rakyat.

Ini angka yang membuktikan bahwa investasi politik lebih dominan diingat oleh para  pemilih dalam Pilkadanya. Artinya calon pemimpin hadir di tengah-tengah masyarakat itu adalah calon yang siap dari segala aspek, dimana Ia sudah bekerja, berbuat dan selalu memikirkan nasib rakyat sebelumnya atau pemimpin yang sudah berkarya sebelum berkepentingan menjadi pemimpin daerah. Arti kemenangan dari Abdul Gani Kasuba (Gubernur terpilih Maluku Utara) adalah bukan karena uang, tetapi nama besar Gani Kasuba sudah membumi di hampir setiap pelosok negeri Maluku Utara.

Gubernur Jambi terpilih (Bung Zumi Zola) mengalahkan incumbent yang begitu kuat dan punya kuasa. Kemudian Kabupaten Raja Ampat juga dimenangkan oleh sosok AFU (Abdul Faris Umlati) yang bertarung dengan Sekda yang didukung Bupati sebelumnya. Mereka terpilih, selain karena punya usaha dan keyakinan, tentu mereka juga dipilih karena sudah sejak lama membangun investasi politiknya, baik investasi politik pada komunitas politiknya hingga pada komunitas social kemasyarakatan lainya.

Investasi Politik Sebagai Modal Utama

Menjadi pemimpin daerah tak sekedar mengandalkan uang banyak dan nama besar dari keluarga atau orang tua, tetapi menjadi pemimpin di daerah juga harus menyiapkan investasi politik yang kuat dan mendasar. Artinya uang juga penting tapi bukan segalanya, nama besar keluarga atau orang tua juga penting tapi bukan utamanya. Yang sangat penting dan utama adalah sejauh mana berbakti kepada masyarakat atau serahkan dirinya untuk rakyat artinya rakyat lebih utama dibandingkan meraih keuntungan pribadinya.

Rakyat sendiri akan menilai baik dan buruknya seorang calon pemimpin daerah, maka bila rakyatlah menentukan tentu seorang pemimpin daerah harus memiliki modal yang kuat, investasi politik yang bagus adalah memiliki dua modal besar meminjam istilah Ruslan Ismail Mage dalam kajiannya tentang Strategi Investasi Politik. Ia melihat pertama investasi politik jangka pendek, yaitu; (1). pasar demokrasi selalu menganut paham klasik “suara rakyat adalah suara Tuhan”. (2). harus memahami budaya (kebiasaan pemilih), meliputi tingkat emosi, etika dan komunikasi yang baik dalam kehidupan sosial kemasyarakatannya. (3), harus memiliki kecerdasan intelektual dan kecerdasan spiritual. (4), harus memiliki setumpuk modal untuk berinvestasi dalam pasar demokrasi.

Sedangkan kedua adalah investasi politik jangka panjang yaitu investasi harus dilakukan jauh-jauh hari. Figur harus berniat paling tidak beberapa tahun sebelum pilkada. Pencitraannya dilakukan melalui rancangan strategi investasi politik yang santun. Berada di samping rakyat, dan mendengarkan apa yang mereka mau, merupakan salah satu cara. Mencarikan jalan keluar melalui tawaran konsep perubahan arah pembangunan, merupakan strategi yang bijak. Sembari, membentuk karakter figur yang berwibawa, berbudaya dan cerdas secara intelek maupun spritual.

Kedua investasi tersebut, penulis bermaksud pada wilayah investasi jangka panjang, dimana cita-cita seorang calon pemimpin harus diawali dengan spirit yang tulus tanpa di dominasi agenda kepentingan kuasa. Kuasa akan hadir bila amanah itu sudah di berikan oleh rakyatnya, maka penting sekali calon pemimpin di daerah dalam rangka menuju masa depan depan daerah harus diawali dengan segala bentuk investasi, yakni: Pertama, Selalu bersama dengan rakyat (alias kepentingan masyarakat di utamakan sebelum kepentingan pribadi) sehingga anda atau kita semua calon pemimpin daerah akan dianggap orang yang selalu memperjuangkan nasib rakyatnya.

Kedua, Menunjukkan jiwa kerendahan diri atas segala bentuk hiruk pikuk rakyat, karena watak dan tingkah laku masyarakat itu berbeda-beda, maka tunjukanlah jiwa yang selalu kalah dalam kemenangan, demi tercipta masyarakat yang unggul dan bermartabat. Ketiga, Memiliki dedikasi, pengayom dan amanah dalam segala kebutuhan masyarakat, sehingga disitulah rakyat mulai melihat bahwa sosok inilah yang bagus untuk memimpin dan menjadi penyambung aspirasi masyarakat di daerah setempat. Keempat, Harus tegas dalam mengambil keputusan, sehingga keputusan yang diambil selalu menjadi indicator dalam setiap kebijakan-kebijakan dalam masyarakat. Kelima, berani dan bijaksana adalah kunci utama dalam setiap pendirian dan ketangguhan dalam bekerja.

Kelima modal investasi politik tersebut adalah utama dalam melangkah menjadi pemimpin daerah di masa akan datang, Pilkada di Indonesia akan terus di langsungkan setiap periode, tentu peluang calon pemimpin daerah selalu di depan mata, tinggal siapa yang menyiapkan dirinya dalam peluang tersebut, apakah anda, kita atau siapakah nanti. Yang jelas adalah siapa yang punya investasi lebih awal dalam setiap kehidupanya, maka dialah yang akan menjadi sosok yang diamanahkan oleh rakyat di daerahnya.

 

1447217042522-1

Penulis : Muliansyah Abdurrahman Ways
E-mail: mul_kieraha@yahoo.com
Penulis Adalah: Dosen FISIP-Univ. Muhammadiyah Sorong dan Direktur Eksekutif Survei Politik Indonesia (SPI)

Sorong, 20 Maret 2016

http://www.adakitanews.com/wp-content/uploads/2016/03/1447217042522-1.jpghttp://www.adakitanews.com/wp-content/uploads/2016/03/1447217042522-1-150x150.jpgREDAKSISuara Kitainvestasi politik,pilkada,politik lokal
ADAKITANEWS - Pilkada adalah sebuah momentum politik lokal yang tidak akan berhenti pada perjalanan demokrasi Indonesia di era kini hingga masa akan datang. Karena sudah menjadi ketetapan dan cita-cita bangsa dalam menyelenggarakan budaya politik yang jujur, adil, demokratis dan penuh dengan nilai-nilai lokal yang masih didambakan mulai dari pemilihan...