2015-11-29_21.15.58ADAKITANEWS –  Tarik ulur antara pihak Kepolisian dan Kejaksaan dalam menuntaskan kasus persetubuhan yang dilakukan Sony Sandra terhadap belasan gadis belia masih terkatung-katung di atas meja kerja masing-masing kedua instansi penegak hukum tanpa adanya kejelasan hukum yang pasti.

Sudah empat bulan lebih kasus persetubuhan terhadap anak di bawah umur yang dilakukan oleh Sony Sandra terhadap belasan Anak Baru Gede (ABG) di Kediri, tidak menemukan titik terang. Meskipun, banyak kecaman dari para aktivis dan pejabat daerah untuk menuntaskan kasus tersebut secara hukum,  tetap saja Kejaksaan Negeri Ngasem masih menilai barang bukti hasil visum dan keterangan korban sekaligus saksi yang disodorkan Polresta Kediri kurang valid. Sehingga, membuat Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Kediri beranggapan bahwa Kejari sudah mulai bermain-main dengan kasus tersebut.

Setelah melalui serangkaian proses penyelidikan terhadap para korban yang sekaligus saksi kunci pada kasus itu, pihak kepolisian Polresta Kediri yang sempat merasa kesulitan dalam pengungkapan kasus persetubuhan di bawah umur oleh Sony Sandra berhasil juga menangkap terdakwa di Bandar Udara Juanda dengan bantuan petugas keamanan setempat setelah dirinya mencoba melarikan diri, begitulah keterangan dari AKBP. Bambang W. Baiin selaku Kapolres Kota kediri.

Banyaknya aktivis serta para mahasiswa yang menuntut penegak hukum untuk memproses perkara tersebut seakan-akan hanyalah sebuah angin lalu.  Mengingat pihak Kejari yang berkewajiban memutuskan perkara seakan sedang mengulur waktu dan melakukan penundaan keputusan hukum. Perkara yang sudah jelas-jelas melanggar ketentuan Undang-Undang Nomer 35 tahun 2014 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak seakan-akan tidak diindahkan oleh Kajari. Walaupun, Kepala Bagian Pengaduan Masyarakat Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Sudarmadji telah melaporkan perkara yang menimpa lima korban pelecehan seksual itu kepada Ibu menteri dan atasannya, namunkasus itu tetap mentah di pihak Kejari sendiri.

Tak ayal selama empat bulan berlalu, banyak para akivis dan mahasiswa yang mengeluarkan petisi menentang kasus kekerasan pada anak. Bagi mereka, sudah kewajiban bersama terlebih bagi para penegak hukum dan para pejabat pemerintahan untuk menjaga serta melindungi generasi muda. Anak-anak harus tetap berekspresi dan berprestasi demi masa depan yang layak tanpa ada campur tangan orang tua untuk mencegah kreasi anak-anak.

Berbagai macam alasan klise dari Kejari sempat menuai pro kontra antara penegak hukum di republik ini. Pihak kepolisian yang sudah bekerja maksimal dalam penyelidikan dan LPA yang sudah mendampingi proses hukum tersebut merasa geram terhadap kejari. Kejari sendiri tetap santai dan diperparah dengan tindakannya mengembalikan berkas-berkas pokok perkara kepihak penyelidik karena Kejari menganggap barang bukti. Kekurangan itu berupa hasil visum dan keterangan korban sekaligus saksi kurang lengkap tanpa print out pesan singkat antara korban dan pelaku sebelum melakukan pertemuan untuk berintim ria disebuah Hotel yang berlokasi di Kota Kediri.

Hal itulah yang membuat pihak penyidik dan LPA yang dimotori Heri Nurdiyanto merasa permintaan Kejari terkait kevalidan barang bukti secara menyeluruh adalah sebuah permintaan yang tidak rasional, mengingat kedua barang bukti diatas sesuai kesepakatan antara pihak penyidik dan LPA sudah memenuhi aturan hukum untuk menjerat Sony Sandra sesuai hukum yang berlaku di negara ini.

”Dua sampai tiga barang bukti yang dihadirkan penyelidik dalam sebuah kasus sudah kuat secara hukum untuk menjerat pelaku (Sony Sandra-red) di meja pengadilan,” ungkap Arif Asisten Jaksa Pengawas Kejaksaan Tinggi Jawa Timur.

Para Jaksa Penuntut Umum (JPU) yang terdiri dari Benny Nugroho, Priyo Wicaksono, dan Sukmawati Diah Nalendani beranggapan bahwa pelaku (Sony Sandra-red) salain memiliki banyak perusahaan juga terkenal sebagai tokoh yang memiliki pengaruh cukup besar di Kediri. Karena pengaruh diri Sony Sandra di kalangan masyarakat Kediri, membuat pihak Kejari bersikap hati-hati dalam menentukan keputusan secara hukum bagi pelaku persetubuhan anak di bawah umur itu.

Beberapa minggu lalu, Sony Sandra sempat dibebaskan penahannya oleh Polresta Kediri karena massa penahanannya sudah melewati batas penyelidikan. Namun, belum jauh pergi, pelaku persetubuhan di bawah umur itu meninggalkan Mapolresta Kediri, dirinya sudah dihadang Satuan Reskrim Kota Kediri untuk ditngkap kembali di Jl. KDP. Slamet No. 2. Pihak kepolisianpun akhirnya menyakini, untuk penangkapan kali kedua terhadap Sony Sandra semua berkas sudah valid dan menunggu waktu selama tiga minggu untuk penyerahan berkas perkara kepada Kejaksaan Negeri Kediri.

“Empat belas hari lagi berkas Sony Sandra akan kami serahkan ke meja Kejaksaan Negeri Kediri untuk diproses secara hukum yang berlaku di negara ini,”ungkap Kompol Harissandi Waka Polresta Kediri pada awak media.

Penyerahan berkas yang sedianya dilakukan ke Kejari Ngasem, kini dipindah oleh pihak kepolisian Polresta Kediri ke Kejari Kediri, mengingat para korban persetubuhan banyak adalah warga Kota Kediri. Namun anehnya, selama ini pihak Kejari Kediri mengaku belum menerima berkas kasus Sony Sandra dari pihak kepolisian Kota Kediri.

“Sampai saat ini kami (Kejari Kediri-red) belum menerima berkas kasus Sony Sandra,” ungkap Amiek Wulandari Kepala Kejari Kediri beberapa hari lalu.

Pada saat melakukan kunjungan kerja, Irjen. Pol Anton Kapolda Jawa Timur, bertekad untuk memeriksa Kejari apabila nanti ada tarik ulur yang kedua kalinya dalam kasus penyelidikan terhadap Sony Sandra dari pihak kepolisian. Dan pihaknya juga akan memberikan kesaksian kepada Kejaksaan Agung bahwwa berkas kasus itu sudah sesuai penyelidikan yang dilakukan oleh pihak kepolisian.“Nanti kasus ini (persetubuhan di bawah umur-red) juga akan kami laporkan kepada Kejati dan Kejagung sesuai prosedur hasil penyelidikan pihak kepolisian Kota Kediri,”tuturnya.(red)

http://www.adakitanews.com/wp-content/uploads/2015/11/2015-11-29_21.15.58.jpghttp://www.adakitanews.com/wp-content/uploads/2015/11/2015-11-29_21.15.58-150x150.jpgREDAKSISuara Kitaanak,kasus,kediri,pencabulan
ADAKITANEWS -  Tarik ulur antara pihak Kepolisian dan Kejaksaan dalam menuntaskan kasus persetubuhan yang dilakukan Sony Sandra terhadap belasan gadis belia masih terkatung-katung di atas meja kerja masing-masing kedua instansi penegak hukum tanpa adanya kejelasan hukum yang pasti. Sudah empat bulan lebih kasus persetubuhan terhadap anak di bawah umur yang...