Kejari Madiun Belum Terima Sprint Hukuman Mati

610

ADAKITANEWSM Aliq Rohman, Madiun – Kejaksaan Negeri (Kejari) Madiun selaku tim eksekutor belum dapat memastikan pelaksanaan eksekusi mati terhadap terpidana kasus narkoba yaitu Raheem Agbaje Salami warga Cordova, Spanyol. Hal itu, setelah pengajuan grasi kepada Presiden RI, Joko Widodo ditolak. Saat ini terpidana masih di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas 1 Madiun dan Kejari Madiun belum terima surat resmi.

“Hingga siang ini (kemarin) belum terima surat resmi pelaksanaan eksekusi mati dari Kejagung dan Kejati Jatim.  Jika surat diterima, kami pasti melakukan persiapan, seperti mengirim terpidana mati ke tempat pelaksanaan eksesusi tertuang dalam surat perintah dan Peraturan Kapolri  Nomor 02/2010 tentang tata cara eksekusi,” jelas Kasi Intelijen Kejari Madiun, M Aliq Rohman Yakin, Jum’at (20/2).

Ia menyatakan pasti siap melaksanakan eksekusi, jika memang mendapat surat perintah atau tidak alasan tidak siap. “Kapan pun surat itu turun, kami pasti siap melaksanakan perintah. Jadi, saya tidak bisa jawab pertanyaan rekan-rekan wartawan soal kapan pelaksanaan hukuman mati itu dilaksanakan. Lha ini, surat perintah saja belum ada,” ujarnya.

Diperoleh informasi Kejati Jawa Timur telah menunjuk Kepala Seksi Pidana Umum, Kejari Madiun, untuk membantu pelaksanaan eksekusi terhadap Rahem. Namun, tidak tahu waktunya kapan, sebab pelaksanaan eksekusi menunggu instruksi dari Kejaksaan Agung. Sementara itu, Kasi Pidum R Wisnu Bagus Wicaksono dikonfirmasi enggan memberikan keterangan.

“Wah, kalau soal itu (eksekusi), saya tidak bisa komentar, Saya sendiri belum tahu soal itu. Tadi kan sudah dijawab Kasi Intel sekaligus juru bicara Kejari Madiun, sudah cukup itu. Itu bisa-bisanya rekan-rekan wartawan sendiri,” ujarnya sembari pergi mengelak.

Terpisah, Kasi Perawatan Lapas Kelas 1 Madiun Romi Novetrion mengatakan juga belum dapat memastikan pelaksanaan eksekusi, sebab Lapas Kelas 1 Madiun hanya ketempatan terpidana layaran Lapas Porong Sidoarjo.  Saat menunggu hari-hari akhirnya sebelum pelaksanaan eksekusi mati, Raheem di dalam LP Kelas I Madiun dikabarkan sehat secara fisik.

“Kami pun belum dikasih tahu apakah itu bulan ini atau kapan. Kita sifatnya kan hanya ketempatan aja disini. Raheem kini rutin melakukan peribadatan di gereja Lapas untuk mempersiapkan mental menjelang pelaksanaan eksekusi mati. Apalagi berita tentang pemberian hukuman itu beberapa kali disiarkan stasiun televisi yang tayangannya dilihat oleh warga binaan LP,” ujarnya.

Untuk diketahui, Raheem Agbaje Salami, divonis mati karena menyelundupkan heroin seberat 5 kilogram melalui Bandara Juanda Surabaya, tahun 1999 lalu. Atas putusan hukuman mati dari peradilan tingkat pertama yang kuatkan oleh Mahkamah Agung, Raheem kemudian mengajukan grasi kepada Presiden. Tapi, tanggal 9 Januari 2015, melalui Keppres No.4 Tahun 2015, Presiden Jokowi menolak grasi diajukan Raheem.

Selain Raheem, saat ini ada 14 terpidana mati yang masuk daftar tunggu untuk dieksekusi karena grasinya telah ditolak oleh Presiden. Sedangkan enam orang, sudah dieksekusi lebih dulu pada tanggal 18 Januari 2015 lalu di dua tempat berbeda di Nusakambangan dan Boyolali, Jawa Tengah. (UK)