ADAKITANEWS, Tulungagung – Jika berkunjung ke Tulungagung dan menikmati secangkir minuman kopi di warung, istilah cethe pasti sudah populer. Menyethe merupakan suatu aktivitas melukis yang memanfaatkan ampas kopi ke media sebatang rokok.

Namun tidak demikian bagi Adhitya Kreshna, seorang seniman lukis di Tulungagung. Baginya, dengan cethe justru memberikan inspirasi untuk melukis di atas media kanvas ataupun kertas yang dapat menghasilkan gradasi warna lukisan yang unik meski teknik melukisnya lebih sulit di banding melukis menggunakan warna lainnya.

Bertempat di galeri seninya di Jalan Letjen Suprapto Kelurahan Kepatihan Kabupaten Tulungagung, Adhitya Kreshna mengawali aktivitasnya melukis dengan cethe kopi. Dia mempersiapkan dua cangkir minuman kopi hitam dan kopi hijau, lalu dituangkan ke piring kecil. Dari piring kecil inilah didapatkan ampas kopi yang halus untuk bahan warna melukis di atas kanvas atau kertas gambar.

Menurut Adhitya Kreshna, ide melukis cethe kopi ini berawal karena kejenuhannya selama melukis menggunakan warna sintetis seperti cat acrylic, crayon, maupun pensil warna. Pasalnya dengan bahan-bahan itu, dirinya dapat dengan mudah mendapatkan warna yang diinginkannya.

“Awalnya hanya coba-coba menggunakan cethe kopi, akhirnya keterusan melukis dengan menggunakan ampas kopi,” kata Aditya Kreshna.

Aditya merasakan, melukis dengan cethe kopi akan menemukan tantangan baru dalam menghasilkan gradasi warna di kanvas. Hasil lukisan pun dirasanya menjadi lebih hidup dan unik.

Dari ampas kopi hitam, Adhitya mendapatkan warna coklat yang soft. Sedangkan dari ampas kopi hijau, di dapat warna hijau kehitam-hitaman. Kedua warna inilah oleh yang menjadi dasar Adhitya untuk menghasilkan lukisannya.

“Sebelumnya saya melukis sering menggunakan warna dari cat, crayon ataupun pensil warna. Tapi dengan dua warna dasar yang didapatkan dari ampas kopi ini, saya harus menemukan paduan warna-warna lain,” ungkap pelukis yang beraliran ekspresif ini.

Melukis dengan cethe kopi ini sangat berbeda dengan melukis kebanyakan. Dibutuhkan ketelatenan serta kesabaran untuk menghasilkan lukisan, karena ampas kopi yang ada di atas kanvas tidak cepat kering.

Untuk menghasilkan gradasi warna unik yang diinginkan, Adhitya harus menunggu beberapa saat, agar cethe sedikit mengering, kemudian melanjutkan kembali goresan kuas yang dikehendaki.

Meski lukisan cethe kopi belum banyak muncul, namun karya lukisan cethe kopi dari Adhitya Kreshna ini telah digemari oleh sejumlah kolektor lukisan maupun pejabat dari berbagai kota di Jawa Timur.

Untuk mendapatkan hasil karya lukisan cethe ini tidak harus merogoh kocek dalam-dalam. Hanya dengan Rp 1 juta hingga Rp 2 juta saja, sudah dapat mengoleksi lukisan cethe kopi dengan media kertas gambar. Sedangkan untuk media kanvas, biasanya dibanderol mulai dari Rp 3 juta hingga Rp 5 juta.(ta1)

Keterangan gambar : Aditya Kreshna tengah menyelesaikan lukisannya, dan hasil karya lukisan dari ampas kopi.(foto : acta cahyono)

http://www.adakitanews.com/wp-content/uploads/2017/10/adakitanews20171015_172114.jpghttp://www.adakitanews.com/wp-content/uploads/2017/10/adakitanews20171015_172114-150x150.jpgREDAKSIGaya Hidupadakitanews,ampas kopi,Berita,cethe,lukisan cethe,Tulungagung
ADAKITANEWS, Tulungagung – Jika berkunjung ke Tulungagung dan menikmati secangkir minuman kopi di warung, istilah cethe pasti sudah populer. Menyethe merupakan suatu aktivitas melukis yang memanfaatkan ampas kopi ke media sebatang rokok. Namun tidak demikian bagi Adhitya Kreshna, seorang seniman lukis di Tulungagung. Baginya, dengan cethe justru memberikan inspirasi untuk...