2015-07-05_23.08.042015-07-05_23.08.422015-07-05_23.09.382015-07-05_23.10.42

ADAKITANEWS, Nganjuk – Masjid Al-Mubarok peninggalan kerajaan Mataram yang berada di Desa Kacangan Kecamatan Berbek menjadi saksi perjuangan ulama’ menyebarluaskan agama islam di Kabupaten Nganjuk. Selain itu, Masjid yang di bangun sekitar abad ke IV itu memiliki arsitektur tinggi dengan menggabungkan budaya Hindu dan Islam.

Pada tahun 1700-an, masjid tersebut pernah menjadi satu-satunya masjid utama dari Kadipaten Berbek yang merupakan daerah kekuasaan kerajaan Mataram. Perihal itu membuat corak dan bangunan khasnya yang kuno tetap dipertahankan hingga sekarang. Karena dari corak dan arsitektur Masjid merupakan penggabungan dari dua unsur budaya masa itu, yakni Hindu dan Islam.

Hal itu terlihat dari berbagai ornamen yang menghiasinya. Mulai dari tatanan batu-bata hingga ukiran di dalamnya. Selain itu, pada bangunan masjid terdapat sinengkalan huruf arab berbahasa jawa. Pada bagian depan berbunyi, Ratu Pandito Tata Terus (1759), bagian bawah, Ratu Nitih Buto Murti (1758) dan pada bagian kanan,kiri serta belakang berbunyi Ratu Pandito Tata Terus (1759).

Berdasarkan catatan sejarah, masjid ini didirikan oleh Kanjeng Raden Toemenggoeng Sosrokoesoemo I, seorang kerabat keraton Mataram yang kemudian diangkat menjadi adipati atau bupati pertama di Kabupaten Berbek.

Kedatangan Sosrokoesoemo atau yang kemudian lebih dikenal dengan sebutan Kanjeng Jimat bukan hanya untuk memperkuat kekuasaan Mataram saja. Melainkan juga untuk menyebarkan agama islam di daerah-daerah pedalaman kaki Gunung Wilis yang merupakan bekas wilayah kerajaan Majapahit.

Sebab, pada masa itu daerah Berbek hingga lereng Gunung Wilis, termasuk Dusun Curik Desa Bajulan Kecamatan Loceret menjadi daerah harapan baru bagi masyarakat hindu setelah Majapahit runtuh. Dengan bantuan para ulama saat itu, Kanjeng Jimat berhasil mengislamkan daerah Gunung Wilis dan hanya menyisakan Dusun Curik Desa Bajulan Kecamatan Loceret.

Salah seorang takmir Masjid Al-Mubarok, Muhammad Sururi mengatakan, setelah berhasil mengislamkan seluruh daerah kekuasannya, pada tahun 1745 didirikanlah masjid Kabupaten Berbek yang diberi nama Masjid Al-Mubarok, sebagai pusat penyebaran agama islam. “Masjid ini sebagai pusat penyebaran agama islam di wilayah selatan,” tuturnya, Minggu (5/7).

Lebih lanjut Sururi menunjukkan letak makam Kanjeng Jimat pada posisi 6 dari timur. Dengan panjang kijingan makam berukuran 2,60 meter, lebar 0,90 meter, dan tinggi 0,50 meter serta tinggi nisan 0,95 meter. Di utara makam terdapat payung tingkat 2. Pada bagian selatan kijingan terdapat prasasti memakai huruf Arab menggunakan bahasa Jawa yang berbunyi “Punika Pasarean Kanjeng Ratu Toemenggoeng Sosro Koesoemo”.

“Kanjeng Raden Toemenggoeng Sosrokoesoemo wafat pada tahun 1760 dan dimakamkan di samping kanan masjid,” terang Sururi.

Sururi menjelaskan setiap malam jum’at legi, masjid Al-Mubarok penuh dengan kedatangan peziarah atau hanya beriktikaf di dalam masjid. “Setiap malam jumat legi banyak peziarah yang datang dan beriktikaf di masjid ini,” pungkas Muhammad Sururi.(Jati/Zay)

http://www.adakitanews.com/wp-content/uploads/2015/07/2015-07-05_23.08.04.jpghttp://www.adakitanews.com/wp-content/uploads/2015/07/2015-07-05_23.08.04-150x150.jpgRedaksiSeni Budayahindu,islam,kuno,masjid,nganjuk
  ADAKITANEWS, Nganjuk – Masjid Al-Mubarok peninggalan kerajaan Mataram yang berada di Desa Kacangan Kecamatan Berbek menjadi saksi perjuangan ulama’ menyebarluaskan agama islam di Kabupaten Nganjuk. Selain itu, Masjid yang di bangun sekitar abad ke IV itu memiliki arsitektur tinggi dengan menggabungkan budaya Hindu dan Islam. Pada tahun 1700-an, masjid tersebut...