Sekolah adalah tempat belajar, mencari ilmu, dan mengembangkan kemampuan para generasi bangsa untuk menggapai cita-cita. Di tempat inilah generasi bangsa yang hebat dapat tercipta. Melalui sekolah, kita dapat mengubah keadaan bangsa untuk menjadi lebih baik. Oleh karena itu, kita harus memperhatikan keadaan sekolah-sekolah yang berada di negara ini. Sudah layakkah untuk menciptakan generasi bangsa yang hebat?

Ketika membahas mengenai sekolah, seringkali kita tidak hanya terfokus pada sistem pendidikan yang berlangsung di dalamnya. Isu kebersihan lingkungan sekolah, menjadi “sesuatu” yang penting untuk dikaji sekaligus dievaluasi pada tataran implementasi. Di Indonesia, hal ini kemudian dibuktikan, yaitu salah satunya dengan program-program kompetisi bertemakan “sekolah hijau” atau green school.

Sebenarnya, tujuan dari terciptanya “green school” yaitu menumbuhkan kesadaran lingkungan warga sekolah dan mewujudkannya melalui perilaku yang ramah lingkungan. Banyak hal yang dapat dilakukan untuk menangani masalah kebersihan sekolah melalui pengelolaan lingkungan sekolah. Berikut diantaranya adalah tindakan ramah lingkungan dapat diterapkan oleh sekolah-sekolah di Indonesia:

1. Memisahkan sampah organik dan sampah anorganik
Hal ini dikarenakan pengolahan sampah organik dan sampah anorganik memiliki cara yang berbeda. Sampah organik dapat dimanfaatkan untuk pembuatan pupuk tanaman. Siswa dapat mempelajari bagaimana cara membuat pupuk tanaman dari sampah organik. Kemudian pupuk tersebut dapat digunakan untuk tanaman-tanaman yang berada di lingkungan sekolah.

Sedangkan untuk sampah anorganik, kita dapat memisahkannya kembali menjadi sampah yang dapat didaur ulang (misalnya botol dan kaleng) dan sampah yang tidak dapat didaur ulang. Sampah-sampah yang dapat didaur ulang dapat dimanfaatkan (misalnya membuat kerajinan) ataupun dijual secara kiloan. Hal ini tentu sangat bermanfaat dan memiliki nilai ekonomi yang akan berguna untuk warga sekolah. Melalui hal ini siswa juga bisa belajar mengenai kewirausahaan dengan memanfaatkan sesuatu yang tidak berharga (sampah) menjadi sesuatu yang memiliki nilai jual.

2. Kantin ramah lingkungan bebas plastik
Dengan adanya kantin bebas plastik tentu saja akan meminimalisir jumlah sampah di sekolah. Lalu, bagaimana jika tidak menggunakan plastik? Setiap siswa yang makan makanan dari kantin harus makan di area kantin dan menggunakan piring dari kantin ataupun tempat makan yang dibawanya sendiri dari rumah. Dengan begitu, kita dapat mengurangi sampah plastik di sekolah.

3. Menghemat energi di sekolah
Banyak sekali hal yang dapat dilakukan untuk menghemat energi di sekolah. Misalnya, dengan memanfaatkan sinar matahari saat proses belajar dan mengajar di kelas. Kemudian menggunakan air seperlunya dan mematikan kran air yang tidak digunakan. Dengan demikian kita dapat menghemat listrik di sekolah.

4. Membuat IPAL (Instalasi Pengolahan Air Limbah di Sekolah)
Dengan IPAL, air limbah kantin dan juga air limbah toilet dimanfaatkan untuk mengairi tanaman-tanaman yang berada di sekitar sekolah. IPAL yang berada di sekolah lebih sederhana. Sistem kerja dari IPAL yaitu air limbah toilet dan kantin diendapkan di tempat penampungan dengan menggunakan ijuk, kerikil, sabit, dan arang. Hasil endapan air limbah ini akan disalurkan ke tendon pertama. Di dalam tendon pertama ini, air limbah yang sudah jernih diberikan larutan Effective Microorganism 4 (EM4). Manfaat dari EM4 ini yaitu untuk menekan pertumbuhan bakteri pathogen yang bisa menimbulkan penyakit dan menghilangkan bau yang tidak sedap. Hasil dari air endapan pada tendon pertama akan dipindahkan ke tendon kedua untuk kemudian digunakan untuk menyirami tanaman di halaman sekolah.

5. Menyediakan bak-bak Penampungan Air Hujan (PAH)
Bak-bak penampungan air hujan dapat berupa kolam ataupun sumur resapan. PAH dinilai lebih sederhana dari IPAL. Dengan adanya PAH kita dapat mendapatkan air bersih melalui air hujan. PAH juga mampu menjaga ekologi lingkungan karena mampu menampung air hujan jika daerah resapan air kurang luas sehingga dapat mencegah banjir.

6. Membuat green house dan TOGA (Taman Obat Keluarga)
Dengan membuat green house ataupun TOGA, warga sekolah dapat dianggap telah melakukan pelestarian lingkungan. Selain itu, warga sekolah juga dapat belajar menanam tanaman dan merawatnya di green house atau toga. TOGA berguna untuk melakukan beberapa pertolongan pertama dalam pengobatan. Misalnya, jika ada warga sekolah yang mimisan, kita dapat memberinya daun sirih untuk menghentikan mimisannya.

Banyak keuntungan yang diperoleh apabila banyak sekolah di Indonesia yang menerapkan beberapa hal tersebut. Selain ramah lingkungan, tindakan tersebut juga membuat warga sekolah memahami bagaimana cara mengelola lingkungan di sekitarnya. Dengan demikian warga sekolah dapat menerapkannya kembali di lingkungan lain, seperti lingkungan tempat tinggalnya. Hal tersebut tentu saja membawa banyak pengaruh positif bagi masyarakat. Dalam hal pembelajaran, tindakan tersebut dapat dipelajari lebih lanjut oleh siswa untuk kemudian dikembangkan ataupun disempurnakan.

 

Penulis: Dinda Amelia Ramadhani
– Mahasiswi semester pertama pendidikan S1 Teknik Lingkungan Universitas Brawijaya Malang.

http://www.adakitanews.com/wp-content/uploads/2017/12/dinda-amelia.jpghttp://www.adakitanews.com/wp-content/uploads/2017/12/dinda-amelia-150x150.jpgREDAKSISuara Kitaadakitanews,artikel,Berita,dinda amelia ramadhani,Universitas Brawijaya
Sekolah adalah tempat belajar, mencari ilmu, dan mengembangkan kemampuan para generasi bangsa untuk menggapai cita-cita. Di tempat inilah generasi bangsa yang hebat dapat tercipta. Melalui sekolah, kita dapat mengubah keadaan bangsa untuk menjadi lebih baik. Oleh karena itu, kita harus memperhatikan keadaan sekolah-sekolah yang berada di negara ini. Sudah...