ADAKITANEWS, Tulungagung – Dalam sebuah pertandingan sepak bola, kita mengenal dengan istilah anak gawang. Yakni seseorang yang biasanya masih remaja, dan berdiri di sekitar gawang atau pinggir lapangan untuk mengurusi bola yang ke luar lapangan.

Lain halnya dalam olahraga panahan tradisional atau jemparingan, ada istilah banyon. Tugasnya kurang lebih sama dengan anak gawang. Jika anak gawang mengurusi bola yang ke luar lapangan, banyon bertugas mengambil anak panah usai terlepas dari busur.

Baik anak gawang atau banyon, fungsinya untuk membantu mempercepat jalannya sebuah pertandingan dan meminimalkan waktu yang tidak efektif.

Sesaat setelah seluruh anak panah dilepaskan dari busur oleh para peserta jemparingan, saat itu pula sejumlah anak berhamburan ke ujung lapangan. Mereka inilah yang dikenal dengan sebutan banyon. Mereka bertugas mengambil anak panah dan mengembalikannya pada masing-masing pemilik panah. Satu orang banyon biasanya hanya melayani satu orang pemanah.

Tidak diketahui secara pasti istilah banyon ini. Namun keberadaan banyon dalam jemparingan atau panahan tradisional tidak dapat terpisahkan. Para peserta jemparingan yang rata-rata usianya sudah tidak muda lagi, lebih memilih menggunakan jasa banyon daripada mereka harus mengambil anak panah sendiri. Ini sekaligus menjadi ladang bagi anak banyon mengais rezeki, dengan mendapatkan imbalan dari jasanya.

Dalam jemparingan dengan sasaran bandul yang digantung setinggi 20 meter, anak panah dapat melesat hingga sejauh 50 meter dari titik tempat pemanah berada.

Menurut salah seorang banyon, Dimas Farel, 15, warga Desa Talun Kulon, Kecamatan Bandung, Kabupaten Tulungagung, untuk menjadi seorang banyon tidak perlu keahlian khusus. Yang dibutuhkan hanya kemampuan fisik terutama dalam berlari agar proses pengambilan anak panah tidak memakan waktu lama. Hal lain yang perlu diperhatikan banyon adalah menghafal anak panah milik si pemanah.

“Kita harus mengenali warna dan corak bulu panah dari pemiliknya. Karena rata-rata anak panah hampir sama. Jadi membutuhkan kejelian dan ketelitian para banyon agar anak panah tidak tertukar ataupun kurang jumlahnya,” kata Dimas Farel.

Dimas mengaku dirinya sering menjadi banyon ketika ada latihan atau pertandingan jemparingan di daerahnya. Bukan hanya Dimas saja, namun anak-anak sebayanya merasa senang karena dengan menjadi banyon mereka bisa bermain dan berolahraga sekaligus mendapatkan uang untuk jajan ataupun ditabung.

Tidak ada patokan tarif untuk jasa banyon ini. Dalam satu kali jemparingan biasanya berlangsung sebanyak sepuluh kali permainan. “Anak-anak banyon akan menerima upah antara Rp 15 ribu hingga Rp 25 ribu tergantung kebaikan hati dari masing-masing pemanah. Yah, lumayan untuk uang jajan,” pungkas Dimas.(ta1)

Keterangan gambar : Aktivitas anak banyon di tengah permainan jemparingan.(foto : acta cahyono)

http://www.adakitanews.com/wp-content/uploads/2017/12/021217-ta1-tulungagung-banyon-2.jpghttp://www.adakitanews.com/wp-content/uploads/2017/12/021217-ta1-tulungagung-banyon-2-150x150.jpgREDAKSIOlahragaadakitanews,banyon,Berita,jemparingan,panahan,Tulungagung
ADAKITANEWS, Tulungagung – Dalam sebuah pertandingan sepak bola, kita mengenal dengan istilah anak gawang. Yakni seseorang yang biasanya masih remaja, dan berdiri di sekitar gawang atau pinggir lapangan untuk mengurusi bola yang ke luar lapangan. Lain halnya dalam olahraga panahan tradisional atau jemparingan, ada istilah banyon. Tugasnya kurang lebih sama...