ADAKITANEWS, Tulungagung – Korek api gas kebanyakan akan dibuang begitu saja oleh pemiliknya, ketika gas atau isinya telah habis. Namun siapa sangka jika barang bekas tersebut, akan memiliki nilai seni dan nilai jual. Di tangan Trianto, seorang warga binaan lembaga pemasyarakatan kelas II B Tulungagung, pemantik api bekas itu pun mampu diubah menjadi barang kreasi yang memiliki nilai baik secara seni maupun ekonomi.

=========

Banyak yang menganggap bahwa seorang nara pidana tidak memiliki aktivitas selain menghabiskan hari-harinya dalam sel. Anggapan itu terbantahkan, setidaknya bagi Trianto.

Meski kehidupan sehari-hari tidak seperti warga lain yang hidup di luar tahanan, namun keinginan untuk berkreasi tidak pernah terhenti. Pihak Lapas Tulungagung pun menyambut positif apa yang dilakukan Trianto. Karena salah satu kegiatan Lapas sendiri bertujuan untuk membekali warga binaan yaitu dengan keterampilan hidup (life skill) sehingga bisa mandiri saat nanti selesai menjalani masa hukuman.

“Awalnya kegiatan yang saya lakukan ini hanya sekedar untuk mengisi waktu saja. Daripada jenuh di dalam rutan,” kata Trianto,

Di Lapas kelas II B Tulungagung, setiap har,i mulai pagi sekitar pukul 07.30 WIB hingga pukul 11.30 WIB dan pukul 13.30 WIB hingga pukul 16.30 WIB, para Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) atau narapidana (napi), disibukkan dengan berbagai aktivitas. Kecuali bagi napi yang harus mendapatkan perlakuan khusus.

Berbagai kegiatan itu diantaranya membuat kerajinan trails, pagar, kerajinan keset dari sabut kelapa, dan masih banyak kegiatan kreativitas lainnya. Kegiatan ini diberikan agar para WBP memiliki keterampilan yang bisa diterapkan ketika sudah selesai menjalani masa hukumannya.

Bagi Trianto, kegiatan ini selain wadah untuk berkreasi dan pengisi waktu, juga membawa manfaat secara ekonomi. Dengan korek gas bekas, Trianto mampu mengubahnya menjadi miniatur vespa, trail, moge, dan masih banyak lainnya.

Trianto mengaku tidak mau diam meskipun harus menyelesaikan hukumannya di balik sel. Dia ingin bangkit dan termotivasi memanfaatkan waktunya selama menjalani hukuman. “Selain membuat miniatur motor, kadang juga bantu buat keset dari sabut kelapa, kadang-kadang kerajinan lain, pokoknya tidak nganggur,” ungkap Trianto.

Trianto mengakui, dirinya menekuni keterampilan membuat miniatur motor ini baru empat bulan lalu, semenjak dipindahkan dari Lapas Blitar. Apalagi hobinya memang suka dengan motor ditambah memiliki wawasan tentang otomotif, dia mencoba mengkreasikan dengan mengubah bekas korek api gas tersebut.

Bagi pria yang berusia 28 tahun ini, butuh kejelian dan ketelatenan untuk menghasilkan karya yang bernilai seni tinggi itu. “Ya ketertarikan awalnya saya diajari oleh salah satu WBP di Lapas II B Blitar, kemudian ketika saya pindah di sini (Lapas Tulungagung) baru saya kembangkan dengan kreasi saya sendiri,” kata pria asli asal Desa Nglegok, Kabupaten Blitar itu.

Hanya saja dia terkendala pada keterbatasan korek api bekas tersebut. Mengingat, setiap satu miniatur motor yang akan membutuhkan 3 sampai 11 korek api gas, tergantung model motor yang ingin dibuat. Maka dari itu, terkadang dia nekat cari hingga ke tempat sampah atau mencari setiap petugas yang memiliki korek api gas tersebut.

Selain korek api, bahan lain yang digunakan yakni spon yang digunakan untuk roda, lem, hingga gabus sisa rokok untuk perekat. “Biasanya satu motor yang rumit, misal moge, butuh waktu seharian untuk menyelesaikan. Tapi kalau vespa hanya dua sampai tiga jam. Namun karena di dalam Lapas, bahannya pun kadang susah didapatkan. Kalau gak ada bahan ya berhenti ngrakit,” kata pria yang divonis 1,5 tahun atas kasus penggelapan mobil ini.

Hasil kreasi uniknya ini juga sering diikut sertakan pada pameran. Terkadang malah dibarter dua pak rokok oleh teman napi sebagai kenang-kenangan, atau petugas dan bahkan pengunjung yang ketika itu melihatnya. Totalnya, ada sekitar 18 unit yang sudah dihasilkan.

“Karena peraturannya tidak boleh bentuk uang, jadi barter dua pak rokok. Tapi kalau dinominalkan bisa mencapai Rp 25 ribu sampai ke atas tergantung dengan kerumitan dan jumlah korek yang digunakan,” tambahnya.

Sementara itu Kepala Lapas II B Tulungagung, Erry Taruna mengatakan bahwa pihak Lapas selalu mendukung semua kreativitas para WBP. Salah satu bentuknya, yakni dengan memfasilitasi sarana meskipun terbatas agar para WBP dapat menyalurkan kreativitasnya dengan membuat sebuah karya yang bernilai seni dan ekonomi itu.

“Selain miniatur motor, kami juga ada kegiatan pembuatan keset dari serabut kelapa, matras untuk hewan ternak, dan lainnya. Yang mana, kegiatan itu bisa menjadi salah satu bekal mereka yang bisa dikembangkan ketika sudah bebas,” kata Erry Taruna.

Karena terkendala masalah pemasaran, Erry berharap jika ada pihak yang membantu menawarkan untuk memasarkan, baginya sangat membantu, karena itu bisa memicu WBP untuk semangat lagi dalam membuat karya.(ta1)

Keterangan gambar : Trianto dan miniatur motor kreasinya.(ist)

http://www.adakitanews.com/wp-content/uploads/2017/09/050917-ta1-tulungagung-lapas-1024x682.jpghttp://www.adakitanews.com/wp-content/uploads/2017/09/050917-ta1-tulungagung-lapas-150x150.jpgREDAKSIAda Sajaadakitanews,Berita,lapas,miniatur motor,Tulungagung
ADAKITANEWS, Tulungagung – Korek api gas kebanyakan akan dibuang begitu saja oleh pemiliknya, ketika gas atau isinya telah habis. Namun siapa sangka jika barang bekas tersebut, akan memiliki nilai seni dan nilai jual. Di tangan Trianto, seorang warga binaan lembaga pemasyarakatan kelas II B Tulungagung, pemantik api bekas itu...