opsepk@dakitanews kediri – Orientasi Pendidikan Mahasiswa Baru (Ordik Maba) Universitas Islam Kadiri (Uniska) dinilai masih bernuansa orde baru (Orba). Pasalnya, budaya otoriter selalu dilakuan oleh para senior panitia terhadap mahasiswa baru. Padahal, kegiatan itu bertujuan untuk mengenalkan para calon mahasiswa pada dunia akademik.

Paradigma dan budaya OSPEK pada era 90-an masih sangat kental di Uniska, meskipun budaya “pemloncoan” dan kekerasan fisik sudah tidak lagi tampak, namun nuansa akademik yang seharusnya menjadi konsen dari kegiatan masih belum mampu dimaksimalkan oleh panitia.

Dunia perguruan tinggi yang dulunya menentang aksi kediktatoran rezim ode baru, tampaknya justru terjeba pada budaya orba. Dimana, kooptasi terhadap mahasiswa justru masih tetap dipelihara. Kegiatan Ordik yang seharusnya memperkenalan para Maba pada dunia akademik yang demokratis dan menjunjung tinggi kebebasan berkreasi, justru tanpa disadari telah melakukan pemasungan terhadap kreatifitas para Maba.

“Katanya perguruan tinggi saat ini sudah berubah, kenapa masih otoriter seperti Orba. Kami selalu disalahkan, tanpa dijelaskan kesalahan kami dimana. Itukan pemasungan kebebasan kami,” keluh M. Lukman Hakim, salah seorang Maba yang mengikuti kegiatan tersebut. Selasa, (23/9).

Lukman mengaku sangat kecewa oleh ulah para senior mahasiswa yang telah membibingnya. Sebab menurutnya, prilaku otoriter yang dipertontonkan para seniornya tersebut tidak sesuai dengan angan-anganya sebagai mahasiswa baru.

“Masak mahasiswa kok berfikirnya begitu, selalu mwnganggap dirinya paling benar. Kami disini seharusnya mendapatkan penjelasan tentang dunia kampus, bukan untuk disalah-salahkan,” lanjutnya.

Hal senada diungkapkan Brody, mahasiswa baru asal wamena juga hendak menempuh pendidikan di pwrguruan tinggi tersebut. Brody mengungkapan, selain banyak larangan dari panitia, dirinya juga diminta untuk perbekalan makanan dengan mana-nama yang tidak lazim.

“Kami juga disuruh membawa bekal atau barang-barang dengan nama aneh misalnya bekal makanan semut merah, cacing menggeliat dan masih banyak lagi seperti yang tertera pada buku panduan yang menurut saya juga tidak ada manfaatnya,” jelas Brody.

Sementara, salah seorang panitian Faridha saat dikonfirmasi mengtakan, tindakan diktator yang dilakukan panitia Ordik untuk melatih kedisipinan dan eseriusan mahasiswa baru.

“Sebenarnya panitia ingin melatih kedisiplinan dari mahasiswa baru,dari sini kan kita bisa menilai keseriusan mahasiswa baru”.

Faridha juga menjelaskan tentang alasan panitia yang menghukum peserta. Menurutnya, panitia memiliki kewenangan penuh terhadap peserta. “Panitia mempunyai wewenang penuh untuk menghukum mahasiswa baru yang melanggar peraturan panitia dan salah satu aturan itu adalah panitia selalu benar,” tegasnya.

Bersamaan dengan informasi yang dihimpun, panitia juga mengklarifikasi bahwa barang yang dibawa peserta memang diberikan nama yang tidak pada lazimnya karena panitia ingin melatih kreatifitas mahasiswa dan menguji nalar kritisnya, karena kedepan mahasiswa baru akan terbiasa diajak berpikir kritis.

Untuk diketahui, Ordik Maba Uniska berlangsung selama empat hari, dimulai sejak Sabtu,(20/9) hingga Selasa, (24/9). Kegiatan tersebut diikuti oleh sekitar 1.284 calon mahasiswa baru Uniska.

Kegiatan ini sepenuhnya dilaksanakan panitia dari mahasiswa aktif yang tidak hanya aktif dalam kegiatan akademik namun juga ekstrakulikuler yang telah mengenal kehidupan kampus dan mampu berpikir akademis. Meski banyak dikecam para Maba, kegiatan tersebut tetap dialngsungkan sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan panitia. (bimo)

Keterangan Gambar :

RedaksiPendidikan
@dakitanews kediri - Orientasi Pendidikan Mahasiswa Baru (Ordik Maba) Universitas Islam Kadiri (Uniska) dinilai masih bernuansa orde baru (Orba). Pasalnya, budaya otoriter selalu dilakuan oleh para senior panitia terhadap mahasiswa baru. Padahal, kegiatan itu bertujuan untuk mengenalkan para calon mahasiswa pada dunia akademik. Paradigma dan budaya OSPEK pada era 90-an...