Over Produksi Harga Bawang Merah Jatuh di Level Paling Bawah 

903

ADKITANEWSpanen bawang merah, Nganjuk – Harga bawang merah di tingkat petani anjlok total, mencapai titik terendah selama lima tahun ini. Saat ini harga bawang merah hanya Rp 5 ribu/ Kg. Padahal pekan  lalu harganya masih berkisar Rp 12 ribu hingga Rp 14 ribu/ Kg.

Anjloknya harga ini membuat petani kecewa. Perubahan harga itu membuat para petani yang mengalami kerugian besar. “Padahal harga pupuk dan tenaga kerja tidak pernah mengalami penurunan jika harga anjlok,” ujar petani bawang  merah, Sutrisno.

Ditemui di kediamannya di kawasan Sukomoro, Nganjuk, Sutrisno menjelaskan bahwa untuk musim panen kali ini jika harga tidak anjlok akan menguntungkan petani, karena hasil panen maksimal, rata-rata 1 hektarnya mampu menghasilkan 13-15 ton.

Namun demikian, Sutrisno menolak jika anjloknya harga bawang merah itu dipicu over produksi musim tanam kali ini. Dia menyebutkan karena terjadinya over suplai bawang merah yang didatangkan para pedagang di Sukomoro sendiri pada saat harga masih tinggi.

Forum Petani Bawang Merah Nganjuk, Arif Zulkarnaen mengakui hal itu. Bahwa sejak harga bawang merah di pasar Sukomoro membumbung tinggi banyak pedagang yang mendatangkan komoditas itu dari Tegal, Brebes, Pare, dan Bantul.

Akibatnya ketika petani panen menciptakan kondisi over suplai bawang merah over di pasaran. Ini mempengaruhi harga jual bawang merah menjadi anjlok dalam tingkatan yang sangat rendah. “Ini tidak diperhitungkan oleh petani,” kata Arif Zulkarnaen ditemui terpisah.

Sikap spekulan para petani itu tidak bisa dicegah, karena mereka ingin mendapatkan keuntungan, namun mereka tidak menyadari jika apa yang dilakukannya justru membuat mereka buntung sendiri, tambahnya.

Terkait dengan over suplai, Arif telah melakukan koordinasi dengan para petani untuk mencegah kerugian yang cukup besar lagi, forum menawarkan kepada hasil panen kali ini disimpan di gudang penyimpanan bawang merah di sentra agrobisnis Sukomoro.

Harapannya bisa dijual nanti kalau harga sudah normal untuk ukuran bisnis bawang merah bagi petani. Namun pihak forum pesimistis dengan saran itu, karena para petani sendiri sangat bergantung dengan uang hasil usahanya itu.

Mereka rata-rata tidak memiliki cadangan modal, sehingga, berapapun anjloknya harga, mereka memilih menjualnya agar modalnya kembali bisa diputar untuk beli bibit di musim tanam selanjutnya.(Jati).