ADAKITANEWS, Tulungagung – Meski sempat tenggelam, olahraga panahan kini mulai bangkit dan banyak diminati. Panahan tradisional, dalam masyarakat Jawa khususnya dikenal dengan istilah jemparingan, merupakan salah satu jenis olahraga tradisi Jawa dengan menggunakan busur dan anak panah tradisional sebagai alatnya.

Salah seorang penghobi panahan tradisional, Afan Effendi mengatakan saat ini olahraga panahan tradisional mulai bangkit kembali, meski mayoritas pelakunya didominasi kalangan tua. “Setelah lama tidak ada aktivitas, olahraga panahan mulai bangkit lagi. Apalagi ketika digelar event seperti saat ini,” kata Afan Effendi, penghobi panahan yang sekaligus panitia pelaksana lomba panahan tradisional.

Warga Desa Talun Kulon Kecamatan Bandung Kabupaten Tulungagung ini menambahkan, pihaknya juga secara rutin melaksanakan kegiatan jemparingan. Ini sebagai upaya untuk menjaga kelestarian olahraga dan sekaligus budaya warisan nenek moyang.

“Dalam sepekan biasanya dilakukan tiga kali, yaitu hari Senin, Kamis dan Minggu. Kegiatan ini sekaligus sebagai ajang latihan dan silaturahmi,” ujarnya.

Bahkan katanya, yang datang tidak saja dari Tulungagung, tapi juga ada yang dari Blitar, Trenggalek dan kota-kota sekitarnya. Berbeda dengan panahan modern yang memanah dengan posisi berdiri, para pemanah dalam jemparingan memanah dengan posisi duduk atau bersila. Alat yang digunakan pun juga sangat tradisional.

Busur dan anak panah, terbuat dari kombinasi bahan kayu dan bambu tanpa dilengkapi berbagai peralatan tambahan seperti stabilizer maupun viring seperti pada alat panah modern. Sehingga jemparingan sangat mengandalkan insting dan hati untuk bisa membidik tepat sasaran. Sasaran panah atau bidikan dalam jemparingan, biasa disebut bandul atau balon terbuat dari batang pisang berdiameter sekitar dua sentimeter dengan panjang 12 sentimeter.

Untuk mendapatkan nilai dalam jemparingan, Afan Effendi menjelaskan, anak panah peserta harus menancap pada bandul yang digantung setinggi sekitar 20 meter dengan jarak antara 20 hingga 30 meter.

“Jika mengenai kepala bandul berarti mendapat nilai dua. Sedangkan bila mengenai tubuh bandul akan mendapat nilai satu,” pungkas Afan.(ta1)

Keterangan gambar : Penghobi panahan tradisional sedang membidik sasaran.(foto : acta cahyono)

http://www.adakitanews.com/wp-content/uploads/2017/11/231117-ta1-tulungagung-panahan-3.jpghttp://www.adakitanews.com/wp-content/uploads/2017/11/231117-ta1-tulungagung-panahan-3-150x150.jpgREDAKSIOlahragaadakitanews,Berita,jemparingan,panahan,Tulungagung
ADAKITANEWS, Tulungagung – Meski sempat tenggelam, olahraga panahan kini mulai bangkit dan banyak diminati. Panahan tradisional, dalam masyarakat Jawa khususnya dikenal dengan istilah jemparingan, merupakan salah satu jenis olahraga tradisi Jawa dengan menggunakan busur dan anak panah tradisional sebagai alatnya. Salah seorang penghobi panahan tradisional, Afan Effendi mengatakan saat ini...