aa@dakitanews Nganjuk – Bangsa yang besar adalah bangsa yang tak pernah melupakan jasa para pahlawanya. Berbeda yang terjadi di Nganjuk Jawa Timur ini, justru pahlawan asli Nganjuk justru tersisih dan terlupakan yaitu Supriadi dan Kolonel Witarmin. Keduanya seakan lenyap ditelan bumi.

Berdasarkan penelusuran @dakitanews.com dari nara sumber Bpk R. KOESDIANTO (putra R. Sudibyo/ yang menjabat Camat Kertosono tahun 1955) dan Ibu RA. TUTIK SARWOSIH (pensiunan guru SMP 2 Kertosono, putri dari Wedono Kertosono 1942 ( RT DARIANTO) suami istri tersebut saat ini berdomisili di sebelah baratnya Kawedanan Kertosono yang sekarang menjadi kec Kertosono.

Keduanya menegaskan bila pengganti Wedono Kertosono th 1942 adalah ayahnya dari pahlawan PETA (SUPRIADI) yang dahulu berdomisili di Kudu – Kertosono

Kedua suami istri itu menjelaskan, di Kertosono Desa Kutorejo  tepatnya di sebelah barat tanggul Sungai Brantas adalah asal dari Jendral Witarmin. Beliau yang pernah mendapat tugas dari negara menumpas pemberontakan PKI di Blitar selatan.

Setelah ayahnya Supriyadi dipindah tugas menjadi Bupati di Blita, Supriyadi ikut ke Blitar. Pada saat di Blitar inilah Supriyadi masuk menjadi anggota PETA dengan posisi sebagai Pemimpinnya (sodanco). Dalam perjalanan waktu, Supriyadi tidak tahan melihat kekejaman Jepang terhadap masyarakat Blitar. Adanya penderitaaan, kemiskinan akibat dari perampasan hasil panen rakyat yang diambil paksa oleh Jepang. Setelah para pasukan PETA yang dipimpin Supriyadi mengatur siasat dan membawa senjata, akhirnya mereka mengangkat senjata menyerang Jepang pada tanggal 14 Pebruari 1945

Witarmin lahir pada tahun 1929 di Desa Kutorejo Kecamatan Kertosono Kabupaten Nganjuk. Witarmin kecil lulusan sekolah setingkat SMA yang bernama sekolah Gajah Mada Kertosono. Sekolah Gajah Mada ini merupakan cabang dari sekolahan yang ada di Yogyakarta yang pada saat itu kepala sekolahnya adalah Pak Jati Kartomo. Di sekolah ini yang boleh sekolah hanyalah anak keturunan dari carik, lurah dan anak Belanda.

Witarmin adalah seorang cucu dari Carik Kertosono dan anak tunggal dari pasangan Samin Sastra Miharjo dan Wiji. Teman-teman akrabnya membantu Witarmin dalam peperangan yang ada di Kertosono adalah Amir Murtono, Imam Samudi, Subkan, Kartijo. Pada tahun 1942 Witarmin menjadi kapten di PETA. Pada saat itu beliau ditempatkan di asrama Sukorame Kediri. Pada tahun 1965 saat pemberontakan G30/S PKI di Blitar Selatan Witarmin memimpin pemusnahan PKI. Jasanya diabadikan dengan dibangunnya patung Kolonel Witarmin di Blitar. Witarmin wafat pada tanggal 9 Juli 1987 dimakamkan di JL.Bandung Taman Makam Pahlawan.

Kini sang jendral telah pergi gugur sebagai Kusuma Bangsa. Sunarto salah satu tokoh masyarakat Kertosono berharap Pemerintah Kabupaten Nganjuk membangun monumen untuk Kolonel Witarmin di dekat bantaran Sungai Brantas kertosono. “Kami sudah seringkali mengajukan tapi tidak pernah direspon oleh pemerintah daerah” tutur sunarto.(Jati)

Keterangan Gambar :Jendral Witarmin, pahlawan nasional asal Nganjuk

REDAKSITokohJendral witarmin,pahlawan nasional,Supriyadi
@dakitanews Nganjuk - Bangsa yang besar adalah bangsa yang tak pernah melupakan jasa para pahlawanya. Berbeda yang terjadi di Nganjuk Jawa Timur ini, justru pahlawan asli Nganjuk justru tersisih dan terlupakan yaitu Supriadi dan Kolonel Witarmin. Keduanya seakan lenyap ditelan bumi. Berdasarkan penelusuran @dakitanews.com dari nara sumber Bpk R. KOESDIANTO...