Pemkot Kediri, Atasi Lonjakan Inflasi Dengan “Raskinda”

516

unduhan (3)@dakitanews Kota Kediri – Inflasi Kota Kediri mengalami penurunan 0,02% satu bulan terakhir ini. Dari angka 0,34% di bulan September, menjadi 0,32% di bulan Oktober. Akan tetapi isu kenaikan harga bahan bakar minyak dapat memicu kenaikan tingkat inflasi yang lumayan signifikan. Pemerintah Kota Kediri membuat program Beras untuk rakyat miskin daerah (Raskinda), guna mengatasi tingkat inflasi di segmen kebutuhan pokok.

Inflasi secara pasti akan selalu mendorong kenaikan harga diatas permintaan kebutuhan. Utamanya inflasi yang disebabkan oleh kenaikan salah satu barang, seperti Bahan Bakar Minyak (BBM). Hal tersebut diistilahkan dengan ‘Demand Cost Push Inflation’, kenaikan tingkat inflasi yang disebabkan atas kenaikan harga suatu barang yang mendorong kenaikan inflasi.

Dalam satu tahun, terhitung tingkat inflasi Kota Kediri sekitar 3,83%. Jumlah tersebut terhitung masih dibawah tingkat inflasi provinsi Jawa Timur yang mengalami inflasi 4,57%. Meskipun demikian hal ini diprediksikan akan terus bertambah seiring dengan isu kenaikan harga BBM di tahun 2015.

Kenaikan BBM ditahun 2012 sejumlah Rp 1.000, menyumbang tingkat inflasi sebanyak 0,96%, dan mendorong kenaikan harga-harga. Apalagi yang dikabarkan BBM mengalami kenaikan sejumlah Rp 3.000, 46,15% dari harga saat ini Rp 6.500. Akan menyumbang angka inflasi yang lumayan signifikan.

Untuk mengatasi hal itu, Pemkot Kediri memrogramkan Raskinda yang dinilai dapat menekan lonjakan harga di sektor beras. Hal ini disampaikan oleh Yudi Herlambang, Bank Indonesia kepada tim @dakitanews.com, dalam acara Rapat TPID Kota Kediri, Rabu (12/11). Bahwa nantinya Raskinda dinilai dapat menjadi solusi menekan lonjakan harga beras, ditengah-tengah lonjakan angka inflasi.

Selain itu, program Raskin dari pusat juga mengalami kemacetan sejauh 3 bulan terakhir ini. Akan tetapi masih tetap diragukan program Raskinda tersebut, karena tidak menjadikan kestabilan tingkat harga kebutuhan lain. Dalam artian Raskinda hanya akan menjadi bantuan kebutuhan hidup saja, tanpa berpengaruh pada efek kenaikan harga yang disebabkan atas kenaikan tingkat inflasi.

“Setidaknya Raskinda dapat membantu memenuhi kebutuhan masyarakat.” ungkap Yudi Herlambang. Setidak-tidaknya masyarakat (khususnya miskin) yang mengalami dampak kenaikan harga merasa sedikit diringankan.

Seperti yang dijelaskan Lulus, Kasi Statistik dan Distribusi, Biro Pusat Statistik (BPS) Kota Kediri, kepada tim @dakitanews.com. Inflasi Kota Kediri diprediksi akab mengalami kenaikan lebih dari 1% di tahun 2015 yang disebabkan dari kenaikan harga BBM. Jadi dampak kenaikan yang sebelunya 1,11% di sektor transportasi, diprediksi meningkat dua kali lipat menjadi 2,22%, bahkan lebih.
“Dampak dari kenaikan harga BBM akan mendorong tingkat kenaikan inflasi kota kediri. Seperti dampak tak langsung di sektor transportasi, yang sebelumnya 1,11%, diprediksi naik 2,22%.” jelas Lulus.

Selain itu, isu kenaikan harga BBM 2015, kini menyebabkan kenaikan harga-harga pasar. Terlepas dari pentauan Pemkot Kediri, harga pasar sudah banyak mengalami kenaikan menyambut akan naiknya harga BBM. Bahkan secara reaktif memungkinkan masyarakan melakukan langkah-langkah liar seperti penimbunan BBM.

“Saat ini harga-harga pasar juga sudah banyak mengalami kenaikan. Hal ini terlepas dari hitungan kami. Akan tetapi secara tidak langsung, hal ini juga menjadi dampak isu kenaikan harga BBM. Bahkan diprediksi pula masyarakat juga melakukan penimbunan, akibat dari isu kenaikan.” pungkas Lulus. (Ega)