ADAKITANEWS, Sidoarjo – “Duh bolo konco priyo wanito , Ojo mung ngaji syariat bloko . Gur pinter ndongeng nulis lan moco . Tembe mburine bakal sangsoro. Akeh kang apal Quran Hadise . Seneng ngafirke marang liyane . Kafire dewe dak digatekke . Yen isih kotor ati akale. Gampang kabujuk nafsu angkoro . Ing pepahese gebyareng dunyo . Iri lan meri sugieh tonggo . Mulo atine peteng lan nisto….”

=========

Siapa yang tak kenal dengan lagu syiiran yang setiap kali berkumandang di masjid, musala, langgar atau surau di seluruh penjuru tanah air saat menjelang waktu salat ini. Banyak kalangan awam yang menyebut bahwa syiiran ini adalah karya Gus Dur. Padahal Syiir Tanpo Waton itu diciptakan oleh seorang kiai muda nan kharismatik asal Sidoarjo, yakni KH Moh Nizam As Shofa, atau yang lebih dikenal dengan sebutan Gus Nizam, pengasuh Ponpes Ahlus Shofa wal Wafa, Wonoayu Kabupaten Sidoarjo.

Gus Nizam merupakan cucu dari KH Sahlan, seorang ulama besar dari Krian dengan amalan aurod-aurod tarekatnya. Seiring perjalanan spiritualnya, kiai yang juga keturunan kiai besar asal Bangil, Mbah Ridwan ini lebih condong mengamalkan amalan tarekat yang diterimanya itu kepada jamaahnya. Sebagai tokoh Tarekat Naqsabandiyah Kholidiyah Mujadaddiyah.

Gus Nizam yang juga merupakan putra pasangan almarhum Ahmad Syaiful Huda dan Hj Siti Maryam ini merupakan pengasuh serta pemangku tarekat di wilayahnya. Kiai Nizam, mendapatkan gemblengan serta baiat dari Abah Hasan, seorang Kholifah dari Mursyid Syekh Khadirun Yahya, pemimpin tarekat di Jakarta sejak tahun 2007 silam.

Di masa remajanya, Kiai Nizam telah mendapat banyak tempaan, gemblengan serta mempelajari dan mendalami tarekat sebagai bagian dari perjalanan spiritualnya mencari jalan mencapai ridho Allah SWT.

Hal ini juga tak lepas dari peran orangtuanya yang gemar mengaji dan mengamalkan aurod-aurod serta menekuni wirid-wirid tarekat yang ditempuhnya. Kesenangan tersebut ia warisi dari orangtuanya sehingga dalam kehidupannya ia sangat zuhud sebagai bukti atas kesufiannya dengan tingkat pendalaman tasawuf yang cukup mumpuni.

Tak berhenti sampai disitu, ia juga pernah mendalami ilmu agama hingga ke Kairo, Mesir. Berbekal beasiswa yang diterimanya, ia kuliah di Universitas Islam Al Azhar, Kairo, Mesir. Dari kuliahnya tersebut Kiai Nizam mendapatkan gelar LC (Lisence, red) untuk Ilmu Bahasa Arab. Di sela-sela menimba kuliahnya tersebut, Gus Nizam juga berkholwat atau sulukan ke Syekh Jajar dan Syekh Tantowi, ulama tarekat asal Mesir ketika ia menimba ilmu di negeri Raja Firaun itu.

Selama kurang lebih 5 tahun. Sejak 1995-2000, Gus Nizam mendapatkan gemblengan ilmu Nahwu Saraf serta Balaghoh juga kitab Alfiyah di sebuah universitas terkemuka di dunia yang berbasis agama di negeri tersebut. April 2000, sekembalinya dari Kairo, Mesir, Gus Nizam langsung mengajarkan ilmunya yang telah diperolehnya selama meneguk ilmu dari perjalanan spiritualnya di negeri seribu satu malam itu.

“Bermula dari pengajian-pengajian rutin di masjid sekitar tempat tinggalnya (Desa Tanggul, Krian) ini mulai berkembang hingga akhirnya mendirikan Ponpes As Shofa wal Wafa,” jelasnya menceritakan kiprahnya syiar agama di Sidoarjo dengan mendirikan ponpes yang juga menjadi cikal bakal perkembangan tarekat yang dibinanya.

Kini, pengajian yang diasuhnya telah memiliki ribuan jamaah yang tersebar dari berbagai penjuru kota di Jawa Timur. Di ponpes seluas 4 hektare ini setiap Rabu malam selalu dipadati jamaah yang melakukan zikiran dan pengajian tasawuf.

Gus Nizam dikenal sebagai pribadi yang haus akan ilmu agama demi menggapai ridho Allah. Berbagai riyadhoh serta wasilah dari ponpes satu ke ponpes lainnya pun ia lakoni demi dahaganya itu. Diantara ponpes yang pernah ia singgahi serta reguk ilmunya itu yakni Darul Falah, Krian asuhan KH Islamuddin, Lirboyo Kediri asuhan Gus Imam dan KH Idris, serta el Nur el Khasysyaf asuhan KH Dhawam Anwar.

Sebagai pengasuh ponpes sekaligus memimpin pengajian tarekat, Gus Nizam dibantu oleh murid-muridnya. “Para murid tersebut yang membantu saya mengajarkan pengajian tarekat ke berbagai wilayah di Jawa Timur,” katanya.

Namun sebelum menjadi sosok panutan seperti sekarang, Gus Nizam yang saat masih muda juga mempunyai gejolak yang menggebu-gebu. Pria kelahiran Sidoarjo, 23 Oktober 1973 ini bahkan pernah mengembara demi mencari kesaktian, dan mengantarkannya terdampar hingga ke Medan Sumatera Utara.

Gus Nizam mengaku saat di usianya baru menginjak 17 tahun atau setara kelas 2 SMA, saat masih mondok di Lirboyo Kediri. Ia merasa apa yang dicarinya kurang. Sebagai darah muda yang penuh gejolak, akhirnya ia meninggalkan dunia pesantren untuk berkelana. Bukan materi yang dikejarnya, melainkan kesaktian karena motto hidupnya kala itu adalah di atas langit masih ada langit.

Berbekal tekad, dirinya mulai mencari jawara yang nantinya dijadikan guru. Banten yang dikenal sebagai gudangnya orang sakti pun pernah ia singgahi. Namanya juga darah muda, sifat kurang puas masih menggelayuti rasa penasarannya sehingga berniat mencari guru di tempat lain. Sampailah, ke Medan dan kisah kelam pun dimulai.

Di Terminal Medan ia pun mulai menginjakkan kaki untuk pertama kalinya. Namun, perbekalan yang dibawa hanya cukup sampai pada tempat itu. Di tengah rasa lapar dan dahaga itu. Ia pun berusaha mencari sesuap nasi demi menghilangkan rasa perih perut lantaran kelaparan. Ngemis (meminta-minta, red) pun dilakoni bahkan kerap mendapat perlakuan diusir hingga dihardik menjadi buah kesengsaraan atas cita-citanya sebagai jawara.

Dalam kondisi yang tak sanggup lagi menahan lapar itu dirinya tak sengaja terlalu lama menatap mata seorang laki-laki bertubuh besar. Namun sialnya, karena ada keyakinan orang Medan bahwa sikap itu dianggap menantang, maka ditaboklah ia dalam kondisi merintih lapar.

Jengkel, dalam kondisi lapar, Gus Nizam berpikiran daripada mati lapar, lebih baik berkelahi. “Sekali pukul kena ulu hatinya. Ternyata pria tinggi besar itu preman. Lalu orang tersebut minta maaf,” kenangnya.

Akibat peristiwa itu ia diberikan daerah kekuasaan karena telah mengalahkan sang preman. Ia mulai menjadi preman yang menguasai lahan parkir terminal sekitar tahun 1990-an dan berganti nama Antok.

Setoran uang haram sekitar Rp 100 ribu – Rp 200 ribu sebagai bentuk penghormatan kepada sang penguasa akhirnya Antok terima. Namun, uang haram pun berujung pada perbuatan tercela alias molimo merupakan perilaku keseharian. Hingga dirinya kerap berurusan dengan aparat kepolisian.

“Was-was dikeroyok massa pernah saya alami,” ujarnya mengenai masa lalunya penuh cerita kelam hingga dirinya diselamatkan seseorang hingga terbebas dari petugas.

Alhamdulillah, jalan Allah pun dirasakan Antok, yang tiada lain adalah nama masa lalu Gus Nizam hingga dirinya kembali pada kebenaran dan pencerahan bahkan akhirnya dikenal sebagai seorang ulama serta mursyid tarekat yang bermarkas di Wonoayu Sidoarjo dengan puluhan ribu jamaah. “Saya bersyukur, banyak hikmah disitu karena hikmah tidak ada kitabnya,” tutur Gus Nizam.

Ia terbebas dari jerat jalan setan setelah diajak seorang pengusaha yang akan berhijrah bisnis di Kramat Jati, Jakarta. Dan sejak saat itu gelar preman ditanggalkannya. Meski demikian, ia mengaku bahagia karena mampu diberikan hikmah untuk dapat mengenal atau lebih peka dengan prilaku preman demi dakwahnya. Dan akhirnya dirinya pulang serta menimba ilmu agama ke Kairo hingga dirinya mendapatkan ijazah dan baiat sebagai sebagai seorang mursyid.

“Sebelumnya saya juga mondok di pondok El Nur El Kasysyaf Bekasi selama 3,5 tahun,” pungkasnya.(sid2)

Keterangan gambar : KH. Moh. Nizam As Shofa ketika ditemui di rumahnya di kawasan Wonoayu Kabupaten Sidoarjo.(foto : mus purmadani)

http://www.adakitanews.com/wp-content/uploads/2017/06/040617-sid2-sidoarjo-gus-nizam.jpghttp://www.adakitanews.com/wp-content/uploads/2017/06/040617-sid2-sidoarjo-gus-nizam-150x150.jpgREDAKSITokohadakitanews,Berita,gus nizam,sidoarjo,syiir tanpo waton
ADAKITANEWS, Sidoarjo - “Duh bolo konco priyo wanito , Ojo mung ngaji syariat bloko . Gur pinter ndongeng nulis lan moco . Tembe mburine bakal sangsoro. Akeh kang apal Quran Hadise . Seneng ngafirke marang liyane . Kafire dewe dak digatekke . Yen isih kotor ati akale. Gampang kabujuk...