Hukum Cambuk di Ponpes Sudah Berlangsung Puluhan Tahun

1140

UPDATE PONDOK.mp4_000001267UPDATE PONDOK.mp4_000023156UPDATE PONDOK.mp4_000036636@dakitanews Jombang – Misteri beredarnya video hukum cambuk di sebuah pesantren di Kabupaten Jombang mulai menemukan titik terang. Video berdurasi 21 detik itu ternyata berasal dari Pondok Pesantren (Ponpes) Al-Urwatul Wutqo yang berada di Desa Bulurejo, Kecamatan Diwek.

Terungkapnya asal vidio tersebut didasarkan dari pengakuan santri dan warga sekitar yang juga pernah menjadi korban hukuman cambuk. Hukuman itu dilaksanakan di halaman pondok.

Para santri yang menerima hukuman, diikat di tiga pohon belinjo terlebih dulu. Kemudian baru hukuman cambuk dilaksanakan dihadapan ratusan santri lainnya.

Muhammad Anang, salah seorang santri yang mengaku pernah menjalani hukuman cambuk mengatakan, hukuman cambuk dilakukan oleh pengasuh pondok. Hukuman ini menurut Anang diberlakukan pada santri yang dianggap melanggar tata tertib Ponpes, pulang tanpa ijin dan bolos sekolah.

Menurut Anang, hukuman itu sudah menjadi tradisi dalam pesantren itu. Selain itu hukuman tersebut juga sudah menjadi kesepakatan antara pihak orang tua santri dengan ponpes. Tak ayal, dirinya harus menerima hukuaman dengan dicambuk menggunakan kayu sebanyak 10 kali secara sukarela.

“Selain melanggar tata tertib, minum miras juga di hukum cambuk. Hukumanya sampek 40 kali cambuk. Untuk perbuatan zina hukumanya 100 kali cambuk. Biasanya ditawari dulu, apakah yang bersangkutan mau dihukum dengan cara pondok atau lainya. Rata-rata memilih dihukum cambuk. Setelah dicambuk biasanya ada pengobatan. Saya dulu diobati dengan minyak telon,” ungkap Anang.

Suwoko, salah seorang warga sekitar ponpes menuturkan, hinga saat ini ponpes Al-Urwatul Wutsqo masih menerapkan hukuman cambuk. Hukuman itu menurutnya tidak hanya berlaku bagi para santri, namun juga bagi warga sekitar.

Suwoko mengaku anak laki-lakinya juga pernah menjalani hukuman cambuk akibat menjalin hubungan asmara dengan santriwati ponpes. Padahal, anaknya tidak pernah sama sekali belajar di ponpes itu.

“Keluarga saya juga pernah mendapat hukuman cambuk. Waktu itu anak saya berpacaran dengan santriwati, padahal tidak diajak pulang, cuma di ponpes saja. Tahu-tahu saya dipanggil oleh pihak pondok bahwa anak saya dihukum cambuk. Kalau tidak mau diancam urusannya akan dilanjutkan. Seharusnya hukuman itu tidak boleh, menurut hukun di Indonesia kalau salah ya dibawa ke Kantor Polisi,” ungkapnya.

Sejauh ini, pihak kepolisian sendiri berencana akan mendatangi Ponpes Al-Urwatul Wutsqo untuk melakukan mediasi. (hanif/jati).

Keterangan Gambar : Ponpes Al-Urwatul Wutsqo Kecamatan Diwek Jombang