ADAKITANEWS, Sidoarjo – Sejumlah pengungsi Rohingya di Sidoarjo, memohon perhatian masyarakat dunia atas kekerasan yang dialami etnisnya di Rakhine, Myanmar. Para pengungsi ini bahkan mengecam adanya pembantaian terhadap saudara-saudaranya.

Hingga saat ini diketahui ada 14 pengungsi Rohingya yang berada di kawasan Aparna Puspa Agro, Jemundo Kecamatan Taman Kabupaten Sidoarjo. Mereka mengantongi kartu pengungsi dari United Nations High Commissioner for Refugees (UNHCR), dan sudah berada di tempat tersebut sekitar empat tahun. “Kami sudah tinggal disini sejak tahun 2013,” katanya Suaib, salah satu pengungsi ketika dihubungi Tim Adakitanews.com melalui telepon selulernya, Jumat (15/09).

Suaib menceritakan, saat lari dari negaranya, mereka bermaksud mengungsi ke dua negara tetangga terdekat, yang jauh lebih makmur secara ekonomi diantaranya Thailand dan Malaysia. Ia menganggap, dua negara itu kerap menjadi pilihan tujuan pelarian warga Rohingya. “Pada awalnya kami bersama warga Rohingya ingin tinggal di Malaysia dan Thailand, namun kapal yang ditumpangi saat itu nyasar ke Makassar,” ujarnya.

Suaib menuturkan jika saat itu setelah dari Makassar mereka berkeinginan melanjutkan perjalanan ke negara lain seperti Australia, namun menemui kegagalan. Kapal yang mereka tumpangi dihantam oleh ombak hingga mesin kapal mati dan tidak bisa meneruskan perjalanan. “Karena dihantam ombak besar, Alhamdulillah berhasil menepi di Timor Leste,” tuturnya.

Suaib menjelaskan, selanjutnya ia bersama warga Rohingya lain oleh pihak Timor Leste dikirim ke Indonesia. “Akhirnya kami tinggal di rusunawa ini sudah empat tahun tidak ada kegiatan apa-apa, mau kerja, untuk mendapatkan uang takut diamankan oleh Polisi,” katanya.

Yang terjadi saat ini di Rakhine, kata Suaib, merupakan peristiwa terparah sejak dia meninggalkan Myanmar pada tahun 2005. Hidup di pengungsian dan tak bisa berkirim kabar dengan keluarga di rumah yang tengah dalam tekanan penguasa tentu saja sangat membuat mereka gelisah. ”Dulu rumah kami diambil, motor kami diambil, orang-orang dipukuli, dan sekarang orang-orang mulai ditembaki dan dibunuh. Kami salah apa?” katanya.

Suaib mengaku putus komunikasi dengan keluarganya di Maungdaw sejak 25 Agustus lalu. “Perasaan kami sakit saat melihat dari media bahwa ada warga muslim di Rohingya dibantai, dan rumah dibakar. Namun kami hanya pasrah,” jelasnya.

Para pengungsi asal Rohingya ini mengaku sangat kecewa dengan sikap Penasihat Negara Aung San Suu Kyi yang seolah menutup mata atas penindasan kepada etnis Rohingya. Padahal dahulu, Nobelis Perdamaian itu begitu getol menyuarakan hak warga negara dan demokrasi, khususnya terhadap etnis mayoritas di Myanmar yang tertindas.

“Sekarang sudah dapat Nobel, dia malah diam. Semua orang di sini (pengungsi di Aparna Puspa Agro,red) dan di rumah saya kecewa,” ungkapnya.

Ketika Suu Kyi diangkat menjadi penasihat negara, kekerasan memang sempat mereda. Tapi, tak berselang lama kebrutalan terhadap etnis Rohingya kembali memuncak. Bahkan, untuk pergi ke luar sekolah dan keluar dari kota, mereka harus mengantongi surat dari pemerintah setempat.

Suaib dan para pengungsi lainnya berharap dunia segera bergerak bersama untuk menolong warga Rohingya. Mereka juga masih menyimpan mimpi bisa pulang lagi ke kampung halaman. Namun tentu saja dalam kondisi yang sudah kondusif. “Saat ini kami berharap pada pemerintah Indonesia untuk membantu menghentikan perbuatan keji tersebut,” katanya.(pur)

Keterangan gambar: Salah satu pengungsi Rohingya di Aparna Puspa Agro, Jemundo Kecamatan Taman Kabupaten Sidoarjo.(ist)

http://www.adakitanews.com/wp-content/uploads/2017/09/160917-pur-sidoarjo-rohingya-2-1024x768.jpeghttp://www.adakitanews.com/wp-content/uploads/2017/09/160917-pur-sidoarjo-rohingya-2-150x150.jpegREDAKSIDaerahadakitanews,Berita,rohingya,sidoarjo
ADAKITANEWS, Sidoarjo - Sejumlah pengungsi Rohingya di Sidoarjo, memohon perhatian masyarakat dunia atas kekerasan yang dialami etnisnya di Rakhine, Myanmar. Para pengungsi ini bahkan mengecam adanya pembantaian terhadap saudara-saudaranya. Hingga saat ini diketahui ada 14 pengungsi Rohingya yang berada di kawasan Aparna Puspa Agro, Jemundo Kecamatan Taman Kabupaten Sidoarjo. Mereka...