ADAKITANEWS, Tulungagung – Berbagai produk kerajinan bisa dibuat dari bahan baku limbah kaca. Potensi ekonomi inilah yang ditangkap oleh Supriyanto. Dia menyulap serpihan kaca yang tak bernilai menjadi produk bernilai jual tinggi, seperti replika perahu phinisi, replika pesawat tempur, dan replika candi.

=========

Supriyanto mulai menjajaki usaha kerajinan limbah kaca sejak enam bulan lalu. Dia mengaku tertarik dengan usaha ini, lantaran usaha membuat etalase berbahan aluminium dan kaca miliknya mengalami kelesuan ditambah lagi ketatnya persaingan.

Keadaan itu membuat Supriyanto, pembuat etalase di Desa Kaliwungu Kecamatan Ngunut Kabupaten Tulungagung ini terpaksa harus berfikir keras, agar usahanya tidak gulung tikar, dan tetap dapat mencukupi kebutuhan sehari-hari.

Dia berharap, dengan memanfaatkan limbah kaca, tidak ada lagi serpihan-serpihan kaca yang terbuang percuma begitu saja. “Apalagi di lingkungan sekitarnya belum banyak yang menggarap bisnis ini,” katanya.

Dengan modal kreativitas dan ketekunan, menurutnya, bisnis ini masih memiliki prospek bagus. Apalagi dengan pasokan bahan baku yang melimpah dan mudah diperoleh, membuat usaha ini makin menarik.

Limbah kaca yang dikumpulkan selama membuat etalase ini, dipotong-potong sesuai ukuran kerajinan yang mereka inginkan, yakni replika perahu phinisi atau bentuk lain. Bahkan alat-alat yang digunakannya pun tergolong masih sederhana yang biasa untuk membuat etalase.

Potongan-potongan kaca tersebut satu persatu dirangkai membentuk lambung perahu yang direkatkan menggunakan lem kaca. Untuk membuat sebuah perahu phinisi ini Supriyanto membutuhkan waktu satu minggu untuk menyelesaikan seorang diri.

Agar nampak lebih cantik dan artistik, Supriyanto menambahkan aksesoris berupa lampu led yang di pasang di sejumlah sudut perahu tersebut. Setelah dihubungkan ke aliran listrik, dari perahu phinisi tersebut muncul cahaya lampu warna-warni.

Supriyanto mengaku, dirinya tidak saja membuat replika perahu phinisi namun juga membuat replika pesawat tempur dan replika candi untuk kap lampu. Untuk produk miniatur perahu phinisi, Supriyanto mematok harga Rp 150 ribu hingga Rp 250 ribu per unit. Harganya bervariasi tergantung ukuran. Untuk replika pesawat tempur dibanderol Rp 75 ribu hingga Rp 100 ribu, sedangkan replika candi Rp 50 ribu hingga Rp 75 ribu per unit.

Ia mengaku, kendala bahan baku memang tak pernah terjadi, namun pengemasan menjadi masalah. Dia mengaku mengalami kesulitan dalam proses pengemasan atau packaging saat pengiriman ke pelanggan yang dari luar kota seperti Kediri, Blitar dan Malang.

“Kaca adalah produk yang sangat sensitif dan dapat rusak sewaktu-waktu,” katanya. Meski kerajinan replika dari limbah kaca ini banyak diminati, namun saat ini Supriyanto belum berani membuat yang lebih banyak lagi karena keterbatasan modal.(ta1)

Keterangan gambar : Supriyanto dan perahu phinisi dari limbah kaca karyanya.(foto : acta cahyono)

http://www.adakitanews.com/wp-content/uploads/2017/11/051117-ta1-tulungagung-kaca-3.jpghttp://www.adakitanews.com/wp-content/uploads/2017/11/051117-ta1-tulungagung-kaca-3-150x150.jpgREDAKSIEkbisadakitanews,Berita,limbah kaca,Tulungagung
ADAKITANEWS, Tulungagung – Berbagai produk kerajinan bisa dibuat dari bahan baku limbah kaca. Potensi ekonomi inilah yang ditangkap oleh Supriyanto. Dia menyulap serpihan kaca yang tak bernilai menjadi produk bernilai jual tinggi, seperti replika perahu phinisi, replika pesawat tempur, dan replika candi. ========= Supriyanto mulai menjajaki usaha kerajinan limbah kaca sejak...