ADAKITANEWS, Jombang – Hingga kini kelompok anak punk masih kerap dipandang sebelah mata oleh kebanyakan orang, karena keberadaannya yang selalu meresahkan. Ternyata hal tersebut bertolak belakang dengan sejumlah anak-anak punk di wilayah Kabupaten Jombang.

Seperti yang terlihat kawasan lereng Gunung Wonosalam Kabupaten Jombang, Jumat (23/02). Sejumlah anak punk yang berasal dari kota santri itu menggelar aksi sosial yang jarang sekali dilakukan oleh kebanyakan orang. Aksi sosial tersebut berupa penyebaran dan pembagian selebaran ke desa-desa sekitar wilayah lereng Gunung Wonosalam. Selebaran yang disebarkan tersebut berkaitan tentang penolakan eksploitasi lahan produktif yang terjadi di wilayah sekitar lereng Gunung Wonosalam.

Beberapa hari lalu, tepatnya pada Senin (19/02), sejumlah warga di Desa Banjarsari Kecamatan Bareng Kabupaten Jombang, yang juga masih di sekitar wilayah lereng Pegunungan Wonosalam terjadi aksi demonstrasi warga yang menolak adanya penambangan tanah di area lahan produktif.

Dari permasalahan agraria (land reform,red) tersebut, menggugah hati sejumlah anak punk yang ada di Jombang untuk turut serta melawan adanya eksploitasi alam oleh pihak yang tidak bertanggung jawab.

Salah satunya Imron Hamid Ubaidillah, 25, warga Kecamatan Bareng Kabupaten Jombang yang sangat kecang menyuarakan persoalan reforma agraria di berbagai daerah. Pemuda yang akrab disapa Ipung di kalangan komunitas anak punk ini mengatakan, bahwa aksi yang dilakukannya bersama teman-teman punknya itu sebagai simbol pengabdiannya terhadap negeri. “Karena kepedulian kita. Kita buat acara ini bertujuan untuk menyuarakan kegelisahan kita,” ujar Ipung saat diwawancarai Tim Adakitanews.com, Jumat (23/02).

Dalam selebaran yang dibagikan kepada masyarakat itu, tampak jelas nada-nada perlawanan soal eksploitasi lahan produktif dan juga poster bernada protes. Salah satu yang tertulis di selebaran itu yakni,

Karena makanan tumbuh pada tanaman,
Karena butuh lingkungan bukan kendali,
Karena kita ruang bukan penggusuran,
Karena kita butuh makan bukan tambang,
Banjarsari Bareng bertani bukan bergali,
Banjarsari Bareng tidak untuk ditambang,
Panjang Umur Perlawanan ! Panjang Umur Solidaritas !

Kutipan dari selebaran tersebut merupakan gambaran kecil protes yang disuarakan anak-anak punk dalam perjuangan reforma agraria di Kabupaten Jombang.

Ipung menceritakan, sebelum memberikan selebaran, aksi solidaritas yang dimulai sejak siang hingga malam tersebut, terlebih dahulu diawali dengan pembukaan taman baca yang diberi nama Perpus Tanam Cilukba di lokasi yang sama. Taman baca yang digelar tersebut, dikatakan Ipung juga sebagai sarana pengetahuan yang diberikan kepada masyarakat sekitar. “Iya, soal galian kemarin. Ini kami menyuarakannya dengan cara kami sendiri,” ujar Ipung.

Perjuangan anak-anak punk untuk negeri ini, tidak hanya dalam memperjuangkan reforma agraria saja. Melainkan juga perjuangan dalam mencerdaskan anak bangsa dengan cara membuka taman baca di area Ruang Terbuka Hijau Taman Kebonrojo Jombang. “Kami buka taman baca juga di Kebon Rojo setiap Minggu pagi,” pungkas Ipung.(ar)

Keterangan gambar: Contoh selebaran soal perjuangan reforma agraria yang dilakukan oleh anak-anak punk. (bawah) Kegiatan aksi yang dilakukan oleh sejumlah anak punk di Wonosalam.(ist)

http://www.adakitanews.com/wp-content/uploads/2018/02/250218-ar-jombang-punk-4-1024x576.jpghttp://www.adakitanews.com/wp-content/uploads/2018/02/250218-ar-jombang-punk-4-150x150.jpgREDAKSIAda Sajaadakitanews,Berita,jombang,punk,taman belajar
ADAKITANEWS, Jombang – Hingga kini kelompok anak punk masih kerap dipandang sebelah mata oleh kebanyakan orang, karena keberadaannya yang selalu meresahkan. Ternyata hal tersebut bertolak belakang dengan sejumlah anak-anak punk di wilayah Kabupaten Jombang. Seperti yang terlihat kawasan lereng Gunung Wonosalam Kabupaten Jombang, Jumat (23/02). Sejumlah anak punk yang berasal...