Setio Wahyudi bersama putri bungsunya memberi makan anakan Love Bird.

Setio Wahyudi bersama putri bungsunya memberi makan anakan Love Bird.

ADAKITANEWS, Sidoarjo – Menjadi sukses terkadang membuat orang hilang akal bahkan menjadikannya sombong. Namun tidak bagi Setio Wahyudi. Peternak burung berkicau jenis Love Bird ini tetap ingin bersahaja dan tak ingin dianggap sebagai juragan meski burung-burung peliharaannya banyak ditawar dengan harga puluhan juta.

=========

Sesuai dengan perangainya dalam keseharian. Pria 40 tahun ini tetap santai dan menyapa dengan santun siapapun yang berkunjung ke rumah sederhananya di Perum Surya Asri Blok C 3/16 Desa Sidokepung Kecamatan Buduran Kabupaten Sidoarjo.

Tepat di pekarangan rumah berukuran 6 x 15 meter tersebut, pria yang akrab disapa Yudi ini tengah asyik memandikan burung-burungnya. Ada sebuah kandang yang cukup besar berada di sudut rumah itu. Berisi beberapa pasang Love Bird. Di dalam rumah, kerap terdengar kicauan burung yang semakin membuat Tim Adakitanews.com betah berlama-lama di rumah tersebut. “Itu (yang berbunyi) umurnya satu tahun. Salah satu andalan saya,” ujarnya.

Sudut rumah bagian dalam juga yang juga dipakai Yudi untuk memelihara Love Bird.

Sudut rumah bagian dalam juga dipakai Yudi untuk memelihara Love Bird.

Sejatinya, Yudi bukanlah seperti kebanyakan peternak burung berkicau pada umumnya. Meski di rumahnya ada sekitar 50 pasang Love Bird unggulan, ternyata di luar rumah, ia sengaja meminjamkan burung-burung andalan miliknya kepada para perawat burung.

Ide meminjamkan burung-burung andalannya itu muncul sekitar 7 bulan lalu. Yudi sengaja meminjamkan kepada orang-orang yang serius merawat burungnya. Uniknya, setiap kali burung yang ia pinjamkan memenangkan lomba, Yudi tak pernah meminta imbalan sepeserpun dari hasil kemenangan itu. “Kalau menang, biar dibawa semua hasilnya sama yang merawat,” imbuhnya.

Lalu, apa yang diharapkan Yudi dengan meminjamkan burung istimewa tersebut? Yudi menjelaskan, selain ingin membantu sesama pecinta Love Bird, yang ingin ia raih hanya nama burungnya dikenal oleh banyak orang. Hal itulah yang nantinya akan menaikkan harga jual burung tersebut. “Saya cuma minta sertifikatnya. Kalau banyak yang tahu, pasti harganya juga semakin mahal,” ujarnya.

Sistem tawar menawar hingga deal hargapun, Yudi menyerahkan sepenuhnya kepada sang perawat. Ia hanya mendapatkan imbalan beberapa persen dari hasil penjualan itu. “Paling tidak, orang akan mengenal bahwa burung yang menang lomba itu dari saya,” tuturnya sambil masih menyibukkan diri dengan burung-burungnya.

Salah satu Love Bird peliharaan Yudi.(foto: kurniawan)

Salah satu Love Bird peliharaan Yudi.(foto: kurniawan)

Kepercayaan menjadi modal utama Yudi memilih perawat. Saat lomba, nama pemilik bisa saja diakui oleh sang perawat. Namun, jika hal itu terjadi, seluruh kepercayaan yang diberikan Yudi akan langsung hilang. “Yang penting kepercayaan,” ungkapnya.

Pernah beberapa kali burung yang dititipkan Yudi mati saat dirawat oleh orang lain. Meski seharusnya bisa menghasilkan banyak uang, Yudi tetap harus merelakan lantaran niatnya bukan hanya mengejar keuntungan. “Biasa saja kalau burung mati. Soalnya kan punya nyawa. Enak santai seperti ini. Yang penting nggak disebut juragan,” pungkasnya. (rochmatullah kurniawan)

http://www.adakitanews.com/wp-content/uploads/2016/04/20160425_223832-1024x768.jpghttp://www.adakitanews.com/wp-content/uploads/2016/04/20160425_223832-150x150.jpgRedaksiGaya Hidupadakitanews,Berita,burung berkicau,love bird,sidoarjo
ADAKITANEWS, Sidoarjo - Menjadi sukses terkadang membuat orang hilang akal bahkan menjadikannya sombong. Namun tidak bagi Setio Wahyudi. Peternak burung berkicau jenis Love Bird ini tetap ingin bersahaja dan tak ingin dianggap sebagai juragan meski burung-burung peliharaannya banyak ditawar dengan harga puluhan juta. ========= Sesuai dengan perangainya dalam keseharian. Pria 40...