ADAKITANEWSBlurImage(30-6-2015 9-53-19), Kota Kediri – Setelah mengalami penutupan beberapa eks lokalisasi di Kediri oleh pemerintah setempat beberapa bulan lalu membuat seorang germo melakukan transaksi jual beli Wanita Tuna Susila (WTS) menggunakan jejaring sosial. Cara ini dianggap lebih efektif untuk dapat menggaet para penikmat hiburan sahwat ini.

Himpitan ekomoni menjadi alasan klise bagi para perempuan untuk nekat terjun kedunia prostitusi. Sebut saja Larasati,22, yang mengaku ditinggal pergi suaminya beberapa bulan lalu ini, dia rela melacurkan diri untuk memenuhi kebutuhan akan lebaran mendatang.

Untuk menjajakan dirinya, Larasati memilih jasa seorang germo atau mucikari sebut saja bernama Kenyot,23, seorang pemuda yang saat ini baru saja selesai menempuh pendidikan pendidikan tinggi di Kediri.

Dari pengakuan Kenyot, dia memilih untuk menggunakan jaringan media sosial, yakni via BlackBarry Massagger (BBM) untuk menjalankan bisnisnya. Alasanya, disamping banyak ekslokalisasi di Kediri yang sudah tutup, jejaring sosial menjadi media efektif dan efisien untuk bisa menggaet kastemer.

“Janda(Larasati..red) ini sangat membutuhkan uang untuk lebaran. Mau terjun di lokalisasi, jelas tidak mungkin, sudah ditutup semua. Dan lagi kalau lokalisasi di Kediri, jelas tidak bisa menjangkau harga mereka,” ungkap Kenyot saat wartawan media ini mencoba memancingnya. Selasa (30/06)

Kenyot mengaku memiliki banyak Wanita Tuna Susila (WTS) yang masuk dalam katagori kelas wahid. Betapa tidak demikian, para wanita binaannya masih tergolong dalam usia antara 20-25 dan rata-rata sebagai seorang Mahasiswi, dan para Selles Promotion Girl (SPG) dari beberapa merk produk ternama sebuah pabrik rokok. Selain itu juga, para wanita binaannya memiliki postur tubuh yang semampai dengan body gitar Spanyol.

Diakui oleh Kenyot, para wanita binaannya selalu menerima ajakan para lelaki hidung belang jika harga yang dibandrol sesuai. Lokasi yang dipilihpun bukan sembarangan, di sebuah hotel, kendati hotel yang dipih juga sesuai kesepakat mereka dengan para laki-laki yang membokingnya. Tarif harga yang dibandrol WTS binaan Kenyot adalah kisaran antara Rp. Rp.750, untuk Short Time dan untuk long time mencapai angka Rp. 1 juta.

Meskipun sebagai germo bagi para WTS, Kenyot tidak pernah meminta imbalan yang terlalu tinggi. Ia hanya mengambil 10 persen dari hasil keringat WTS plus mendapatkan jatah untuk berintim ria dari seorang WTS binaannya di rumah kost miliknya.

Lebih lanjut Kenyot mengungkapkan, pekerjaan sebagi germo yang digelutinya selama beberapa bulan terakhir, Ia lakukan karena kebutuhan ekomoni untuk menyukupi kebutuhan pribadi. Sebab, seja lulus penempuh pendidikan, ia mengaku belum memiliki pekerjaan pasti. Padahal, ia harus membayar uang kos yang selama ini masih ditempatinya.

“Kita(Kenyot dan WTS..red) sama-sama membutuhkan uang,” ungkap Kenyot.

Para lelaki hidung belang yang menjadi pelanggan setia merasa senang dengan para WTS binaan Kenyot, baginya Kenyot mampu menyuplai para WTS sesuai dengan kriteria dan selalu menampilkan wajah baru.

“Anak buah Mas Kenyot tergolong wajah-wajah baru,” jelas salah seorang pelanggan kenyot. (Blot)

http://www.adakitanews.com/wp-content/uploads/2015/06/BlurImage30-6-2015-9-53-19.jpghttp://www.adakitanews.com/wp-content/uploads/2015/06/BlurImage30-6-2015-9-53-19-150x150.jpgRedaksiGaya Hidupkediri,online,prostitusi
ADAKITANEWS, Kota Kediri - Setelah mengalami penutupan beberapa eks lokalisasi di Kediri oleh pemerintah setempat beberapa bulan lalu membuat seorang germo melakukan transaksi jual beli Wanita Tuna Susila (WTS) menggunakan jejaring sosial. Cara ini dianggap lebih efektif untuk dapat menggaet para penikmat hiburan sahwat ini. Himpitan ekomoni menjadi alasan klise...