ADAKITANEWS, Nganjuk – Pengumuman hasil seleksi penerimaan tenaga penyuluh agama Islam non PNS yang diselenggarakan oleh Kantor Kementrian Agama (Kemenag) Nganjuk berbuntut pro kontra. Sejumlah peserta calon penyuluh yang tidak lolos seleksi mengaku mencium gelagat tidak beres dari panitia seleksi dan menduga adanya praktik titipan dari oknum Kemenag.

Yang paling mencolok dari keganjilan proses rekrutmen itu adalah terkait persyaratan ijazah. Dari 160 jumlah tenaga penyuluh yang dibutuhkan, tercatat hampir 10 persen peserta yang dinyatakan lolos seleksi berijazah SMP. Padahal menurut ketentuan yang tertuang dalam petunjuk pelaksanaan dan petunjuk teknis, persyaratan minimal ijazah adalah SMA atau sederajat. Tapi faktanya, panitia justru berani meloloskan peserta berijazah SMP menjadi penyuluh agama yang digaji pemerintah.

Seperti yang dikatakan salah satu peserta asal wilayah Kecamatan Patianrowo yang enggan disebutkan namanya. Ada indikasi kuat dalam proses seleksi ini unsur permainan kotor. Betapa tidak, ada sejumlah peserta yang lolos seleksi ternyata memiliki pekerjaan tetap seperti tenaga honorer atau terdaftar sebagai pengurus lembaga desa yang setiap bulanya menerima uang tunjangan dari pemerintah.

Artinya peserta tersebut akan menerima gaji rangkap dari pemerintah setelah mendapat status profesi tambahan sebagai penyuluh agama. ”Dobel job semestinya dilarang. Panitia tutup mata,” tegasnya, Rabu (12/12).

Salah seorang peserta lain yang juga tidak lolos seleksi di Kecamatan Nganjuk Kota juga mengatakan, disinyalir ada praktik peserta titipan bermunculan. “Ketentuan dobel job pun dilanggar. Bahkan persyaratan yang minimal berijazah sarjana harus dikalahkan dengan peserta yang hanya berijazah smp, namun masih menjadi keluarga maupun bawaan oknum Kemenag yang menjadi prioritas diterima menjadi penyuluh,” imbuhnya.

Sementara dikatakan Kepala Kantor Kemenag Kabupaten Nganjuk, Barozi bahwa untuk peserta yang berijazah SMP tetap diperbolehkan ikut tes. Yakni dengan catatan harus mendapatkan surat rekomendasi MUI tingkat kecamatan. ” Kalau memang ada yang dobel job saya minta datanya. Kalau benar akan kami del (hapus,red). Jadi nantinya bisa digantikan peserta cadangan,” paparnya, Rabu (13/12).

Ditanya wartawan seputar indikasi permainan panitia , Barozi menampik keras. ” Dalam seleksi sudah transparan tidak ada yang ditutup-tutupi,” pungkasnya.(Jati)

Keterangan gambar: Logo Kementerian Agama.(google.com)

http://www.adakitanews.com/wp-content/uploads/2016/12/Logo-Kemenag-1024x993.pnghttp://www.adakitanews.com/wp-content/uploads/2016/12/Logo-Kemenag-150x150.pngREDAKSIDaerahadakitanews,Berita,kemenag nganjuk,nganjuk,penyuluh agama
ADAKITANEWS, Nganjuk – Pengumuman hasil seleksi penerimaan tenaga penyuluh agama Islam non PNS yang diselenggarakan oleh Kantor Kementrian Agama (Kemenag) Nganjuk berbuntut pro kontra. Sejumlah peserta calon penyuluh yang tidak lolos seleksi mengaku mencium gelagat tidak beres dari panitia seleksi dan menduga adanya praktik titipan dari oknum Kemenag. Yang paling...