Singkong hari ini seharusnya menjadi isu seksi untuk dibahas. Dalam buku Handbook of the Netherlands East Indies, pada masa Pemerintahan Hindia-Belanda, pernah mengekspor tepung tapioka terbesar di dunia.

Pada tahun 1928, negara tujuan ekspornya seperti : Amerika 21,9 persen, Inggris 16,7 persen, Jepang 8,4 persen, dan sisanya 7 diekspor ke Belanda, Jerman, Belgia, Denmark dan Norwegia. Di negara tujuan ekspor tersebut, tepung tapioka kemudian dijadikan bahan baku dalam berbagai olahan seperti industri tekstil, lem, furnitur dan lain-lain.

Saat ini kebutuhan akan bahan baku yang berasal dari singkong sangatlah tinggi untuk memenuhi kebutuhan industri di dalam negeri. Bahkan tahun 2016 saja, Indonesia harus mengimpor tepung tapioka dalam satu tahunnya mencapai 1 juta ton. Kondisi seperti ini menjadi pertanyaan besar ketika lahan pertanian Indonesia yang begitu luas tidak bisa dioptimalkan untuk menghasilkan singkong.

Melihat Indonesia dari sudut pandang agraris dengan luas daratan mencapai 1.922.570 kilometer persegi. Berdasarkan data BPS dalam kurun waktu 4 tahun terakhir yaitu pada tahun 2013, Indonesia memiliki luas daratan 191,09 juta hektare. Dari luas daratan tersebut, sekitar 95,81 juta hektare berpotensi untuk pertanian, yang terdiri dari 70,59 juta hektare berada di lahan kering, 5,23 juta hektare di lahan basah non rawa, dan 19,99 juta hektare di lahan rawa.

Walaupun sebagian besar lahan tersebut sudah dimanfaatkan, dalam data rencana strategis (RENSTRA) Kementerian Pertanian 2015-2019, ada lahan cadangan sekitar 34, 7 juta hektare. Luasan lahan cadangan berada di kawasan budidaya (APL) seluas 7,45 juta hektare.

Sebagai informasi bahwa menurut undang-undang nomor 26 tahun 2007 peruntukan lahan kawasan budi daya bisa digunakan untuk pertanian dalam rangka optimalisasi implementasi rencana. Pada lahan hutan produksi yang dapat dikonversi (HPK) terdapat 6,79 juta hektare dan sekitar 20,46 juta hektare di kawasan hutan produksi (HP).

Pada ketersediaan lahan cadangan yang begitu luas tersebut menjadi potensi untuk dioptimalkan dalam kegiatan pertanian. Menjadi menarik ketika kegiatan pertanian salah satunya diarahkan pada pengembangan singkong. Dengan bisa memanfaatkan potensi tersebut saya pikir INDONESIA akan menjadi negara dengan ketahanan pangan yang stabil dan berdaulat di bidang pangan.

SINGKONG SEBAGAI BAHAN PANGAN

Terdapat dua kecenderungan pada pola konsumsi pangan yang berkarbohidrat di Indonesia yaitu dari padi-padian dan umbi-umbian yang mengarah kepada dua pola (pattern). Saat ini pola konsumsi pangan pokok penduduk dengan sumber karbohidrat masih didominasi oleh beras dan terigu.

Boleh dikatakan bahwa kontribusi umbi-umbian dalam konsumsi pangan penduduk masih rendah, dimana kontribusi energinya kurang dari 5 persen dari total konsumsi energi yang berasal dari pangan sumber karbohidrat. Hal ini perlu diperjuangkan agar terjadi peningkatan konsumsi umbi-umbian khususnya singkong.

Gambaran pola konsumsi pangan masyarakat Indonesia tersebut yang sangat didominasi oleh beras dan gandum yang merupakan dua jenis komoditi pangan sulit ditingkatkan volumenya harus ditanggapi secara serius. Semestinya terigu atau gandum tidak boleh terlalu dominan sebagai pangan di Indonesia. Ketergantungan pada beras dan gandum perlu dihentikan mengingat ada sumber karbohidrat lainnya khususnya dari umbi-umbian sangat potensial dan tersebar di seluruh wilayah Indonesia yang sangat besar manfaatnya bagi kesehatan.

SINGKONG SEBAGAI BAHAN ENERGI

Selama ini, lebih dari 90 persen kebutuhan energi dunia dipasok dari bahan bakar fosil. Jika eksploitasi terus berjalan dengan angka saat ini, diperkirakan sumber energi ini akan habis dalam setengah abad mendatang. Bisa dibayangkan bagaimana kehidupan manusia kelak jika bahan bakar fosil yang menjadi sumber energi utama umat manusia selama lebih dari dua ratus tahun habis begitu saja.

Untuk itu, banyak negara mulai mengembangkan alternatif sumber energi baru yang terbaharukan, ramah lingkungan, dan relatif mudah untuk dibuat. Salah satu alternatif pengganti bahan bakar fosil adalah dengan bioenergi seperti bioetanol.

Bioetanol adalah bahan bakar nabati yang tak pernah habis selama mentari masih memancarkan sinarnya, air tersedia, oksigen berlimpah, dan kita mau melakukan budidaya pertanian. Sumber bioetanol dapat berupa singkong, ubi jalar, tebu, jagung, sorgum biji, sorgum manis, sagu, aren, nipah, lontar, kelapa dan padi. Sumber bioetanol yang cukup potensial dikembangkan di Indonesia adalah singkong (Manihot esculenta).

MENGANGKAT HARGA DIRI SINGKONG

Singkong merupakan tanaman yang mudah tumbuh, dimana ada rumput tumbuh singkong pun bisa tumbuh. Singkong di beberapa daerah Indonesia dikenal dengan sebutan nama ubi kayu, gaplek, kaspe, menyong dan pohong. Dalam terjemahan bahasa Inggris singkong adalah cassava. Kemudian dalam bahasa latin disebut manihot esculinta yang dalam berbagai sumber merupakan tanaman berasal dari kawasan Amerika Selatan.

Singkong merupakan tanaman yang mudah tumbuh bahkan lahan kering atau disitu ada rumput tumbuh singkong bisa ikut tumbuh. Walaupun mudah tumbuh di berbagai lahan dengan kondisi apapun. Perlu diketahui bahwa masuknya tanaman ini dibawa oleh Portugis pada zaman kolonial dengan dasar kebutuhan ekonomi pada abad ke-16.

Sebagian orang menganggap tanaman singkong merupakan tanaman yang tidak memiliki nilai ekonomi tinggi. Anggapan seperti ini tidak selamanya tepat, bahwa singkong ketika diolah menjadi produk turunan seperti tepung tapioka akan menambah nilai ekonomi singkong tersebut.

Selain itu limbah singkong berupa ampas (onggok) bisa diolah menjadi pakan ternak sapi, kambing, ayam dan bebek dengan kandungan nutrisi yang tinggi. Limbah cair pengolahan singkong bisa digunakan sebagai pupuk cair dengan penambahan treatment untuk diaplikasikan di tanaman. Hal ini menarik jika disandingkan dengan keju produk turunan dari susu.

Daun singkong dan limbah padat berupa onggok yang sudah diolah menjadi pakan jika diberikan pada sapi akan memberikan nutrisi pada sapi. Sehingga berpengaruh pada hasil susu yang dihasilkan. Jadi, keju dan singkong secara nilai ekonomi bisa berdiri sejajar.

Pada momen Hari Tani 2017 ini, harapannya pemerintah bisa lebih memperhatikan sektor pertanian khususnya pada kesejahteraan petani singkong dengan melakukan program kerja konkret.

Penulis: Suroto, S.TP
– Mantan Presiden BEM Fakultas Teknologi Pertanian Univ Brawijaya 2012-2013
– Peraih Medali Perak pada Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS) 2013 di Univ Mataram
– Sekretaris Koordinator Daerah Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Jawa Timur 2016-2018
– Founder Singkong Harapan Nusantara

http://www.adakitanews.com/wp-content/uploads/2017/09/IMG-20170924-WA0034.jpghttp://www.adakitanews.com/wp-content/uploads/2017/09/IMG-20170924-WA0034-150x150.jpgREDAKSISuara Kitaadakitanews,Berita,jombang,singkong
Singkong hari ini seharusnya menjadi isu seksi untuk dibahas. Dalam buku Handbook of the Netherlands East Indies, pada masa Pemerintahan Hindia-Belanda, pernah mengekspor tepung tapioka terbesar di dunia. Pada tahun 1928, negara tujuan ekspornya seperti : Amerika 21,9 persen, Inggris 16,7 persen, Jepang 8,4 persen, dan sisanya 7 diekspor ke...