Sastra Anak : Menumbuhkan Minat Baca Anak Indonesia

948

filaADAKITANEWS – Indonesia adalah negeri yang sangat beragam dalam budaya. Berbagai daerah mempunyai ciri khas masing-masing dalam merepresentasikan cerita atau kisah daerahnya. Cerita rakyat yang sering disebut sebagai legenda adalah salah satu hal yang menonjol dari setiap daerah.

Eratnya kepercayaan terhadap tradisi dan nenek moyang membuat cerita semacam ini seringkali kita dengar atau kita baca saat kita kanak-kanak, tetapi apakah jenis cerita yang dibutuhkan anak-anak Indonesia hanya dari sisi kisah-kisah legenda?

Ada banyak sekali Genre Sastra Anak yang seharusnya diceritaan kepada anak-anak semenjak dini, karena itulah cikal bakal membangkitkan minat baca anak Indonesia. Jika ditelisik lebih jauh,  Indonesia begitu tertinggal dalam minat baca daripada negara-negara Asia lainnya yang lebih maju. Apa yang salah?

Berbagai macam genre sastra anak perlu dikenalkan orangtua dan guru pada masa anak-anak.  Buku-buku ceritanya pun bukan cerita yang memakai sudut pandang maupun perspektif orang dewasa di dalamnya, walaupun tokoh ceritanya memang anak-anak tapi kebanyakan perspektif yang dipakai adalah orang dewasa.

Anak-anak perlu merefleksi diri mereka di dalam cerita yang mereka baca. Dalam sastra anak luar negeri, sebut saja karya Tom Sawyer dan Huckleberry Finn, bagaimana kita melihat seorang anak yang mempunyai jiwa berpetualang tinggi, rasa ingin tahu yang tinggi dan bandel. Sifat itu adalah sifat anak-anak yang hampir selalu ditemukan.

Anak-anak dapat melihat refleksi diri mereka sendiri dalam buku, sehingga mereka bisa melihat nilai-nilai yang bisa diambil dari cerita tersebut. Karena anak-anak memahami setiap karakter seperti mereka melihat diri mereka sendiri. Hal-hal tersebut yang harus diberikan Sastra Anak Indonesia untuk menumbuhkan minat baca pada anak-anak, agar intelegensi mereka terasah dari hal yang paling dasar yaitu membaca.

Banyak cerita yang ditujukan kepada anak-anak yang masih menganut didactisism, yaitu cara memberikan cerita atau menulis cerita yang menggurui anak-anak. Seperti di ungkapkannya nilai-nilai yang ada dalam cerita tersebut di akhir cerita.

Kata-kata seperti “Jadi adik-adik yang baik, jangan nakal ya… karena akan merugikan orang lain….” adalah salah satu bentuk didacticism yang tak seharusnya ada di sastra anak Indonesia. Anak-anak mempunyai kemampuan sendiri untuk memilah dan meresapi cerita. Dari kemampuan tersebut, mereka dapat menyerap intisari cerita tanpa ada kata-kata tambahan dari si pencerita. Disitulah esensi sastra anak masuk. Melalui sastra kita dapat memberikan pendidikan apapun kepada anak tanpa harus memberikan contoh nyata sebagai penggambaran. Penokohan dan alur cerita yang baik dapat memberikan realita yang masuk akal serta dapat dicerna oleh anak-anak.

Karakter yang sering dihadirkan pada buku cerita anak-anak adalah karakter yang menjadi impian orangtua terhadap perwujudan anak mereka. Banyak cerita ditulis dengan penggambaran seorang anak yang baik, rajin, dan pintar. Hal tersebut jauh dari sifat yang sebenarnya ada dari anak-anak. Sifat ingin tahu, nakal, dan pembangkang adalah sifat yang hampir selalu ada dalam diri seorang anak. Saat penulis cerita dapat memasuki karakter dan dunia anak yang sesungguhnya, tidaklah sulit mendapat perhatian membaca dari anak-anak, karena mereka melihat diri mereka sendiri dalam cerita.

Dalam cerita “Bridge Terabithia” karya Katherine Peterson, tokoh utamanya bernama Jess, diceritakan introvert dan pemalu. Dalam prosesnya, perkembangan Jess dari anak introvert menjadi anak yang percaya diri. Cerita yang menarik dan realistis membuat anak-anak juga akan berfikir dan berkembang. Dalam cerita itu juga disisipkan berbagai macam pelajaran hidup yang ingin diketahui anak-anak, contohnya, dalam menghadapi kematian, seringkali orang dewasa sulit menjawab pertanyaan anak-anak mengenai kematian tapi lewat cerita anak-anak dapat mengetahui apa itu kematian tanpa harus melihatnya langsung.

Dari berbagai sudut pandang sastra anak dapat memberikan apapun yang dibutuhkan anak. Pelajaran hidup dan nilai – nilai norma dapat dimasukkan sesuai porsinya. Cerita yang berkwalitas tentunya juga berpengaruh dalam minat membaca anak-anak.

Buku bergambar dapat diperkenalkan sejak dini pada anak-anak untuk memupuk rasa keingintahuan mereka. Minat baca memberikan dampak yang sangat signifikan pada kemampuan dan intelegensi anak, berangkat dari minat baca sebuah bangsa bisa bergerak ke arah yang lebih terang. (*)

*Ditulis Oleh :
Filla Lavenia Palupy
Mahasiswa sastra Inggris UNJ Jogjakarta.
Samirono CT VI No.161 Depok, Sleman, Yogyakarta.