ADAKITANEWS, Tulungagung – Kantor Imigrasi Kelas II Blitar terus melakukan pemantauan melalui Tim Pemantau Orang Asing (Tim Pora) yang dibentuk. Tidak hanya di tingkat Kabupaten Tulungagung saja, melainkan hingga tingkat kecamatan. Tim ini memiliki fungsi koordinasi, langkah ini sebagai upaya untuk mengantisipasi terjadinya pelanggaran keimigrasian di wilayah ini.

“Untuk Tim Pora tingkat kecamatan ini kita melibatkan jajaran Polsek, Koramil dan Kantor Urusan Agama,” kata Kepala Kantor Imigrasi Kelas II Blitar, Surya Mataram, di Tulungagung, Selasa (17/10).

Jelas Surya, keterlibatan pihak Kantor Urusan Agama (KUA) ini, disebabkan adanya kasus perkawinan campuran atau lintas negara, karena ini menyangkut kewenangan KUA, maka keterlibatannya sangat diperlukan.

Disebutkan Surya, di Tulungagung ada 195 orang WNA di wilayah ini. Kebanyakan mereka berasal dari Thailand, dan Malaysia. Kabupaten Tulungagung merupakan wilayah dengan jumlah warga negara asing (WNA) terbanyak diwilayah kerja Kantor Imigrasi Kelas II Blitar.

“Kebanyakan WNA yang berada di Tulungagung mengantongi visa belajar di kampus IAIN Tulungagung, sejumlah mahasiswa asing ini mengantongi izin tinggal terbatas, dengan jangka waktu satu tahun. Hanya seorang WNA saja yaitu dari Australia yang bekerja di industri marmer,” katanya.

Sepanjang tahun 2016 hingga Oktober 2017 ini, pihak Kepala Kantor Imigrasi Kelas II Blitar, menemukan empat pelanggaran terbanyak berupa izin tinggal yang melebih batas atau overstay. Kami telah melakukan dua jenis penindakan yakni pro yustisia dan administratatif. WNA tersebut bisa dideportasi dan bahkal cegah dan tangkal (cekal).

Sementara, Bupati Tulungagung, Syahri Mulyo menyabut baik, dengan adanya Tim Pora ini, karena ini sebagai upaya deteksi dini keberadaan orang asing yang berada di Tulungagung.

“Bukan berarti kita menutup diri dengan keberadaan orang asing. Kita bersikap terbuka, namun mereka harus taat aturan di sini,” kata Bupati Tulungagung, Syahri Mulyo.

“Jangan sampai terjadi penghakiman yang dilakukan oleh masyarakat, karena memang secara kultur atau tradisi memang berbeda dengan tradisi kita,” ungkapnya.

Tambah Syahri, keberadaan Tulungagung yang memiliki garis pantai sepanjang 54 kilo meter dan langsung berhadapan dengan laut bebas, apabila tidak ada pengawasan, ini berpotensi untuk jalan keluar masuknya warga asing secara ilegal ataupun barang selundupan lewat jalur tikus. (ta1)

Keterangan gambar : Suasana Rapat Koordinasi Tim Pemantau Orang Asing (Foto : Acta Cahyono)

http://www.adakitanews.com/wp-content/uploads/2017/10/TIMPORA-3-1_1-1024x700.jpghttp://www.adakitanews.com/wp-content/uploads/2017/10/TIMPORA-3-1_1-150x150.jpgREDAKSIDaerahOrang asinng,pengawasan,timpora
ADAKITANEWS, Tulungagung – Kantor Imigrasi Kelas II Blitar terus melakukan pemantauan melalui Tim Pemantau Orang Asing (Tim Pora) yang dibentuk. Tidak hanya di tingkat Kabupaten Tulungagung saja, melainkan hingga tingkat kecamatan. Tim ini memiliki fungsi koordinasi, langkah ini sebagai upaya untuk mengantisipasi terjadinya pelanggaran keimigrasian di wilayah ini. “Untuk Tim...