Sidang Walikota Madiun Non Aktif: Ada Pemberian Uang Rp 1,2 M Kepada Bambang Irianto

2084

ADAKITANEWS, Sidoarjo – Saksi-saksi yang dihadirkan dalam sidang dugaan korupsi Pasar Besar Madiun (PBM) semakin menunjukkan bukti-bukti adanya peran besar terdakwa Walikota Madiun non aktif, Bambang Irianto.

Seperti pada sidang keterangan saksi kali ini di Pengadilan Tipikor Surabaya di Juanda Sidoarjo, Jumat (28/04). Dari lima orang saksi yang dipanggil Jaksa Penuntut Umum (JPU) untuk memberikan keterangan, hanya dua orang yang hadir. Keduanya adalah Dewa Kusuma selaku arsitek dan Joko Supriyanto selaku sopir yang merupakan pegawai dari Ali Fauzi, Progress Manajer.

Dalam keterangannya, Dewa Kusuma mengatakan tahun 2011 dirinya diajak oleh Ali Fauzi untuk membantu proyek PBM. Namun menurutnya hanya enam bulan. “Saya dijadikan sebagai pelaksana arsitek. Saya masuk pembangunannya baru 50 persen,” katanya.

Saat ditanya JPU soal pembayaran-pembayaran terkait PBM, Dewa mengaku tidak tahu. “Karena saya hanya menangani teknis bangunannya saja,” ujarnya.

Kendati demikian Dewa mengaku pernah diajak oleh Ali Fauzi dan staf keuangannya, Vivin Yulia Candra ke Bank Syariah Mandiri untuk mengambil uang. “Saat itu saya lihat Bu Vivin dan Teller bank tersebut memasukkan uang ke dalam plastik hitam. Setelah itu saya diajak ke kantor Pak Bambang di Jalan Jawa. Pak Ali dan Bu Vivin masuk ke ruangan sedangkan saya nunggu di luar. Jadi tidak tahu apa yang diobrolkan. Waktu itu Pak Bambang tidak ada, mereka ditemui Bu Elok. Dan setelah kami pulang kami papasan dengan Pak Bambang yang baru pulang,” paparnya.

Hal senada juga dinyatakan Joko Supriyanto di dalam ruang sidang. Saat itu, akhir Desember 2011, Joko mengaku dirinya disuruh mengantar untuk mengambil uang. “Saya disuruh mengantar ke bank. Saya memang gak lihat uang, tapi saya hanya lihat tas hitam yang dibawa dari bank yang kira-kira berisi uang lalu saya mengantar mereka ke rumah Pak Walikota,” katanya.

Mendengar kesaksian Joko yang hampir sama dengan Dewa, mengundang pertanyaan Penasehat Hukum terdakwa. “Apakah waktu diperiksa di KPK, saksi hanya disuruh tanda tangan, kok ini jawabannya sama,” katanya sambil menunjukkan copy keterangan saksi saat diperiksa KPK.

Sementara itu terdakwa Bambang Irianto langsung membantah pernah bertemu dengan kedua saksi. “Papasan saja kita tidak pernah,” ujarnya.

Majelis Hakim akhirnya memutuskan untuk melanjutkan sidang pada Selasa (02/05) mendatang. Rencananya, JPU akan memanggil saksi Elok, serta juga akan memanggil lagi saksi Ali Fauzi dan Vivin Yulia Candra. Namun, pemanggilan tersebut langsung mendapat keberatan dari PH terdakwa.

Usai persidangan, JPU, Feby Dwiyandospendy mengatakan keterangan saksi menunjukkan adanya penyerahan uang sebesar Rp 1,2 miliar kepada saksi Elok, staf keuangan perusahaan milik terdakwa Bambang Irianto terkait proyek PBM. “Dua saksi ini memang tidak mengetahui nominal uang yang diberikan kepada terdakwa. Namun menunjukkan adanya bukti penyerahan uang,” katanya.

Feby menambahkan, terkait pemanggilan ulang saksi Ali Fauzi dan Vivin Yulia Candra merupakan tindakan akomodir yang dilakukan JPU kepada PH. “Pemanggilan ulang itu sebenarnya karena permintaan Penasehat Hukum pada sidang sebelumnya untuk konfrontir. Kalau PH keberatan saya tidak tahu, silakan tanya ke mereka sendiri,” jelasnya.

Sementara itu, Penasehat Hukum Terdakwa, Indra Priangkasa mengatakan, keterangan saksi pengambilan uang termin di Bank Syariah Mandiri itu jelas salah. “Seharusnya di Bank Jatim. Kaitannya pengambilan berarti harus ada bukti penarikan. Tadi tidak ada bukti. Pertanyaan besar kalaupun Ali Fauzi melakukan penyerahan kepada terdakwa kok juga tidak ada tanda terima. Itu mustahil kalau tidak minta tanda terima, bisa jadi memang tidak ada pemberian,” tegasnya.

Indra menambahkan pihaknya tidak keberatan dengan pemanggilan ulang. “Saya tidak keberatan dengan konfrontasinya, tapi saya keberatan dengan mekanisme hukum acara. Saksi yang pernah dihadirkan, maka yang harus dibatasi adalah pertanyaan yang sudah ditanyakan sebelumnya. Yang dikhawatirkan muncul pertanyaan baru yang akan merusak fakta hukumnya,” pungkasnya.(sid2)

Keterangan gambar : Saksi saat memberikan keterangan dalam persidangan. (bawah) Terdakwa Bambang Irianto.(foto : mus purmadani)