ADAKITANEWS, Tulungagung – Raungan mesin pemasah (alat untuk menghaluskan,red) kayu yang bersahutan dengan bisingnya mesin bor, menjadi hal biasa bagi warga perkampungan nelayan di Pantai Sine Desa Kalibatur Kecamatan Kalidawir Kabupaten Tulungagung. Suara yang ditimbulkan oleh alat-alat pertukangan yang digerakkan oleh motor itu, seolah melengkapi ramainya deburan ombak setiap harinya.

=========

Seperti itulah gambaran suasana di bibir pantai, di sudut kampung nelayan setempat. Terdapat galangan perahu, tempat dimana sejumlah nelayan membuat perahu yang mereka gunakan untuk melaut.

Mereka, para nelayan, menekuni pembuatan perahu tersebut sudah sejak 30 tahun silam. “Hemat”, itulah alasan mereka membuat perahu sendiri. Selain hemat, dengan mengerjakan perahunya secara mandiri, mereka juga tidak bergantung pada perajin perahu dari daerah lain.

Satu per satu papan panjang 4 meter dengan lebar 30 sentimeter serta tebal 3 sentimeter yang telah diproses itu, selanjutnya disambung antara papan satu dengan papan lainnya sesuai pola yang telah ditetapkan.

Adalah Lani, 50, salah satu perajin perahu kayu di desa setempat. Dia memiliki keterampilan membuat perahu nelayan secara otodidak. Dengan dibantu 3 pekerjanya, ia tampak sedang menyelesaikan pembuatan perahu yang direncanakan memiliki panjang 12 meter, lebar 2,5 meter dengan ketinggian 2 meter. Perkiraan, setelah perahu yang bisa dibilang seukuran sekoci ini jadi, beratnya bisa mencapai sekitar 2 ton.

Untuk keperluan bahan baku pembuatan perahu, Lani mengaku memilih kayu balau dan labat. Karena jenis kayu ini, dikenal kuat juga awet. Uniknya, dalam penyambungan kayu, Lani menghindari penggunaan paku dari besi. Sebagai gantinya dia membuat sendiri paku dari kayu, yang biasanya disebut dengan “nagel”. Sedangkan untuk merekatkan sambungan antar kayu, dia gunakan lem kayu.

“Saya memilih kayu balau dan labat, karena lebih awet dan kuat bisa bertahan selama 20 tahun. Untuk pakunya saya pakai kayu juga, karena kalau terbuat dari logam, nanti cepat rapuh karena terkena air laut,” kata Lani.

Lanjut Lani, usaha pembuatan perahu tradisional ini sudah ia lakoni sejak 30 tahun silam. Untuk menyelesaikan sebuah perahu ukuran sekoci ini, diperlukan waktu sekitar 2 bulan, untuk kondisi normal.

“Yang susah itu kalau pas cuaca buruk, waktu pembuatannya bisa lebih lama. Karena untuk mebengkokkan kayu, diperlukan proses pembakaran” ceritanya.

Perahu tradisional ini, mampu bertahan hingga 20 tahun dan tidak gampang pecah. Kemampuan perahu ini dalam menjelajahi lautan sekitar 15 mil dari pantai. Namun jika dalam kondisi cuaca buruk, hanya sampai batas 5 mil saja, karena tinggi perahu hanya 2 meter, jika terjadi ombak tinggi, dikhawatirkan air laut akan masuk.

Di pantai Sine, setidaknya terdapat 4 galangan perahu. Ini sudah mencukupi untuk kebutuhan perahu bagi nelayan setempat. Dengan kondisi ini, maka nelayan Pantai Sine tidak akan tergantung pada perahu daerah lain, yang harganya lebih mahal.

“Harga sebuah perahu antara Rp 100 juta sampai Rp 150 juta. Harga tersebut sudah lengkap dengan jaring dan mesin, jadi bisa langsung dipakai kerja,” pungkas Lani.(bac)

Keterangan gambar : Salah satu galangan tempat pembuatan perahu nelayan di Pantai Sine Tulungagung.(foto : acta cahyono)

http://www.adakitanews.com/wp-content/uploads/2018/03/adakitanews20180325_140958.jpghttp://www.adakitanews.com/wp-content/uploads/2018/03/adakitanews20180325_140958-150x150.jpgREDAKSIGaya Hidupadakitanews,Berita,nelayan,pantai sine,Perahu,Tulungagung
ADAKITANEWS, Tulungagung – Raungan mesin pemasah (alat untuk menghaluskan,red) kayu yang bersahutan dengan bisingnya mesin bor, menjadi hal biasa bagi warga perkampungan nelayan di Pantai Sine Desa Kalibatur Kecamatan Kalidawir Kabupaten Tulungagung. Suara yang ditimbulkan oleh alat-alat pertukangan yang digerakkan oleh motor itu, seolah melengkapi ramainya deburan ombak setiap...