Dahulu, di era Bung Karno, kesenian rakyat mendapat tempat terhormat. Karenanya, kesenian rakyat pun berkembang sedemikian rupa. Bahkan, berkat kegigihan Bung Karno, tak jarang kesenian rakyat itu “nongol” di panggung dunia.

Salah satu kesenian rakyat paling digemari Bung Karno adalah Tari Lenso. Bung Karno sangat sering menari tari Lenso. Bahkan, ketika kedatangan tamu dari negara lain, Bung Karno menjamunya dengan tari lenso. Ia pun terkadang tenggelam dalam gerak tari lenso bersama tamu-tamunya.

Beberapa sumber menyebutkan, tari lenso berasal dari tanah Maluku. Tarian ini dipertunjukkan secara beramai-ramai ketika ada pesta, seperti pernikahan, panen, tahun baru, dan lain-lain. Lenso sendiri berarti “sapu-tangan”. Tari lenso juga sering dipergunakan untuk menyambut tamu.

Tari Lenso, tarian khas daerah Maluku itu sudah mendunia. Popularitasnya terdongkrak di masa Presiden Soekarno. Bahkan sang proklamator itu memamerkan tarian tersebut saat melakukan kunjungan kenegaraan ke Roma, Italia.

Paling anyar, adalah pembacaan puisi Wapres Jusuf Kalla (JK), baik di depan peserta Musyawarah Besar Masyarakat Maluku (Mubes Mama) di Ambon dan di acara Mata Najwa, Metro TV, 26 November 2015 lalu.

Salah satu penggalan puisi JK berjudul Ambonku, Ambon Kita Semua, menyebut ajakan agar orang Maluku menari lenso.

JK tidak salah. Tari Lenso memang identik dengan Maluku. Tarian tradisional ini melekat dan hidup dalam budaya masyarakat Maluku secara turun temurun.
Dulu, Tari Lenso merupakan tarian sosial. Namun seiring waktu tarian tersebut menjadi tarian pertunjukan dimana selalu dipentaskan saat penyambutan tamu-tamu besar, pelantikan raja, dan acara-acara nasional. Bahkan masyarakat Maluku yang beragama Kristen juga sering membawakan Tari Lenso di acara-acara gerejawi.

Eklevina Eirumkui dari Balai Pelestarian Nilai Budaya Ambon menulis, Tari Lenso merupakan tarian tradisional Maluku yang dalam perkembangannya telah mengalami pengaruh kebudayaan asing akibat dari penjajahan bangsa Portugis beratus-ratus tahun yang lalu. Tari lenso pertama kali dikenal di Maluku ketika bangsa Portugis masuk di Maluku yaitu sekitar tahun 1612.

Kata Lenso berasal dari bahasa Portugis yang artinya ”sapu tangan”. Memang, sapu tangan merupakan properti utama yang harus digunakan penari. Biasanya sapu tangan yang digunakan berwarna putih atau merah. Itulah sebabnya tarian ini dinamakan Tari Lenso.

Setelah bangsa Portugis meninggalkan Maluku, bangsa Belanda datang dan menjajah Maluku karena rempah-rempah. Pada zaman ini tari Lenso mengalami perkembangan yang pesat karena setiap perayaan ulang tahun Ratu Wilhelmina, pemerintah Belanda selalu menugaskan penduduk Negeri Kilang untuk tampil membawakan Tari Lenso pada saat diadakan pesta rakyat.
Sejak saat itu Tari lenso semakin dikenal berbagai lapisan masyarakat Maluku. Terlebih di seluruh tempat di pulau Ambon yaitu di jazirah Leitimur, jazirah Nusaniwe, kota Ambon, dan di kepulauan Lease yaitu pulau Saparua, pulau Haruku, dan pulau Nusalaut.

Tari lenso begitu melekat dengan masyarakat karena siapa saja boleh membawakan tarian ini tanpa membedakan status sosial, ekonomi, umur, jenis kelamin. Namun seiring perkembangan zaman dan kreativitas dari para pelaku tari terjadi penataan gerakan sehingga hanya bisa ditarikan oleh kaum perempuan saja tanpa batasan umur. Jumlah penarinya tidak terbatas, namun harus disesuaikan dengan kebutuhan dan lokasi.

Busana yang dipakai oleh penari adalah Baju Cele dan kebaya putih lengan panjang dan Kain Salele. Dengan memakai baju dalam atasan yang disebut Cole, rambut disanggul biasa dan dihiasi bunga ron berwarna putih. Untuk menahan kain salele agar tidak mudah jatuh dipakai tali kain renda.

Gerakan Tari Lenso

Gerakan Maju
Kaki kanan dan tangan kanan bersamaan maju, kemudian diikuti oleh kaki kiri dan tangan kiri dengan hitungan 4 (empat) dalam birama 4/4 (empat per empat). Posisi badan sedikit merendah sdengan posisi lutut yang ditekuk. Bahu digoyang perlahan mengikuti irama sedangkan tangan yang di depan (kiri atau kanan) diangkat sejajar pinggang dan telapak tangan diarahkan keatas serta lenso dibiarkan berjuntai kebawah.

Posisi kepala miring kearah dalam dengan dagu sedikit bersandar pada bahu yang tangannya berada di depan. Gerak ini dipakai oleh penari untuk bergerak membuat pola lantai yang telah ditentukan.

Gerakan Jumput
Lutut ditekuk rendah sehingga posisi badan berada dalam keadaan setengah duduk. Tangan kanan dan kiri maju kedepan secara bergantian. Tangan yang berada didepan diangkat setinggi dada sedangkan tangan yang dibawah, sikutnya sedikit ditekuk, kemudian telapak tangan diputardari dalam kearah luar.
Gerakan putar ini harus dilakukan semaksimal mungkin sehingga Lenso turut berputar juga. Posisi bahu berputar kearah kiri dan kanan secara bergantian dengan membuat sudut putaran kira- kira 90 (sembilan puluh) derajat. Semua gerak ini dilakukan dalam hitungan empat.
Gerakan Mundur

Gerakan mundur adalah kebalikan dari gerakan maju dan berfungsi dalam pembentukan pola lantai. Sekarang telah terjadi banyak modifikasi gerakan yang disesuaikan dengan tempat dan kondisi tarian ini dibawakan.

REDAKSIDaerahSeni BudayaMaluku
Dahulu, di era Bung Karno, kesenian rakyat mendapat tempat terhormat. Karenanya, kesenian rakyat pun berkembang sedemikian rupa. Bahkan, berkat kegigihan Bung Karno, tak jarang kesenian rakyat itu “nongol” di panggung dunia. Salah satu kesenian rakyat paling digemari Bung Karno adalah Tari Lenso. Bung Karno sangat sering menari tari Lenso. Bahkan,...