ADAKITANEWS, Jombang – Rencana pemberlakuan sistem satu arus di Jalan RE Martadinata mendapat kritikan keras dari kalangan masyarakat, terutama di Desa Kepatihan Kecamatan/Kabupaten Jombang. Upaya hukum pun, direncanakan akan dilakukan oleh warga sekitar.

Jalan RE Martadinata yang masuk dalam wilayah Administrasi Desa Kepatihan ini, merupakan akses jalan yang sering dilalui oleh masyarakat Jombang. Hal tersebut dikarenakan Jalan RE Martadinata adalah akses menuju Pasar Citra Niaga yang merupakan pasar induk masyarakat jombang. Selain itu, juga merupakan akses bagi mayoritas pelajar yang berasal dari wilayah utara Kabupaten Jombang.

Adang Dwi Widagdo, warga Jalan RE Martadinata Gang Setia menyampaikan kekesalannya terhadap sistem satu arah tersebut. Pria yang kerap disapa Adang ini mengatakan bahwa sistem satu arah itu tidak memecahkan permasalahan kemacetan yang kerap terjadi di wilayah tersebut.

“Permasalahan sesungguhnya adalah banyaknya pedagang yang buka lapak di bahu jalan, parkir liar dan proses bongkar muat sehingga arus lalu lintas terhambat,” ungkap Adang saat diwawancarai, Kamis (15/03).

Adanya sistem satu arus itu, Adang mengatakan bahwa dirinya juga harus memutar jalan untuk bepergian. Dengan begitu, lanjut Adang, akan merugikan berbagai pihak masyarakat. “Sejak berlakunya one way kita kalau keluar harus memutar dan mengambil jalan tikus dan celakanya sekarang pun jalan tikus ditutup juga oleh warga sekitar,” cakapnya.

Dengan hal yang dirasa merugikan banyak pihak itu, Adang menegaskan akan melakukan upaya hukum bila sistem satu arus itu terus berlanjut. “Jika ini masih berlanjut, tidak menutup kemungkinan kita akan melakukan class action sesuai aturan hukum yang ada,” tegas Adang yang diketahui juga merupakan seorang Lawyers di Jombang.

Selain Adang, Silvi, 16, salah satu pelajar sekolah negeri di Jombang mengatakan kesulitan ketika hendak berangkat ke sekolah dengan melalui Jalan RE Martadinata. Pelajar asal Kecamatan Tembelang Kabupaten Jombang itu harus memutar kiloan meter hanya untuk menuju ke sekolahnya. “Ya bingung, biasanya kalau lewat sini (Jalan RE Martadinata,red) bisa cepat sampai, ini harus memutar dulu ke arah Ringincontong,” ujar Silvi menyesalkan kebijakan tersebut.

Sementara sempat diwawancarai melalui sambungan telepon, Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Jombang, Imam Sudjianto menyampaikan bahwa kebijakan yang diberlakukannya tersebut masih dalam tahap uji coba dan sosialisasi. “Ini kan masih dalam tahap sosialisasi, belum ada penindakan. Nanti kalau memang menurut evaluasi, itu benar-benar tidak diinginkan masyarakat maka kita cabut itu,” pungkas Kadishub Kabupaten Jombang.(ar)

Keterangan gambar: Kondisi di Jalan RE Martadinata Desa Kepatihan Kabupaten Jombang.(foto:adi rosul)

http://www.adakitanews.com/wp-content/uploads/2018/03/adakitanews20180312_165224-1024x575.jpghttp://www.adakitanews.com/wp-content/uploads/2018/03/adakitanews20180312_165224-150x150.jpgREDAKSIDaerahadakitanews,Berita,jalur satu arah,jombang
ADAKITANEWS, Jombang - Rencana pemberlakuan sistem satu arus di Jalan RE Martadinata mendapat kritikan keras dari kalangan masyarakat, terutama di Desa Kepatihan Kecamatan/Kabupaten Jombang. Upaya hukum pun, direncanakan akan dilakukan oleh warga sekitar. Jalan RE Martadinata yang masuk dalam wilayah Administrasi Desa Kepatihan ini, merupakan akses jalan yang sering dilalui...