ADAKITANEWS, Kota Blitar – Pemanfaatan barang bekas saat ini sudah mulai menjadi tren. Salah satunya dengan mengubahnya menjadi benda fashion. Berawal dari kecintaan akan model kostum carnival dan fashion show, pria muda berusia 28 tahun bernama Yuda Kriesnawan akhirnya memberanikan diri menyulap berbagai bahan bekas menjadi sesuatu yang bernilai tinggi.
=========

Di sebuah galeri yang berukuran tidak terlalu luas beralamatkan di Jalan Sawunggaling Kelurahan Sentul Kota Blitar inilah, Yuda Kriesnawan menuangkan ekspresinya. Setiap sudut ruangan, telah penuh dengan berbagai kostum mulai kostum carnival, fashion show, hingga pakaian adat yang ditata rapi dan menarik.

Yang paling menarik mata, yakni jenis kostum carnival dan fashion show yang terbuat dari bahan bekas alias daur ulang. Bahan yang awalnya dianggap tidak bernilai dan rongsok, ternyata bisa disulap menjadi busana yang indah dan berharga.

Berawal dari enam tahun yang lalu, saat Yuda secara tidak sengaja melihat acara karnaval di Kabupaten Jember. “Pada mulanya saya memang membuat kostum carnival pertama kali sekitar tahun 2011, tepatnya setelah saya melihat karnaval di Jember. Bisa dibilang sebagai pengagas kostum carnival di Blitar, karena pada carnival Kota Blitar yang kebetulan dulu diadakan pada malam hari hanya saya yang menggunakan kostum carnival,” jelas Yuda Kriesnawan saat ditemui Tim Adakitanews.com, Minggu (28/05).

Yuda menjelaskan, desain pertamanya untuk kostum carnival adalah kostum berwarna biru yang bersayap, seperti kupu-kupu. Namun, pada saat itu dia belum menggunakan bahan daur ulang. Ide untuk membuat kostum berbahan daur ulang bermula pada saat acara fashion show tahun 2013. Yuda bersama satu partnernya membuat busana dengan menggunakan gelas air mineral bekas.

“Pada saat itu, saya belum mandiri untuk mengikuti fashion show, dan masih diajak oleh senior make up, Mas Iwan namanya,” terangnya.

Sejak mengikuti lomba kostum dan mendapatkan juara pertama, lanjut Yuda, dirinya dengan dibantu satu partnernya terus membuat busana dari bahan daur ulang. Daur ulang yang mereka gunakan seperti paranet, karung bawang merah, karung bawang putih, kantong plastik, karung beras, anyaman bambu, dan lan-lain. “Mendesain dan membuat kostum daur ulang sendiri tidak mudah, karena desainer harus mampu menyesuaikan bahan dengan model yang dibuat,” pungkasnya.

Pada awalnya, kata Yuda, saat mengenalkan kostum daur ulang memang sepat dicemooh. Karena menggunakan pakaian yang tak lazim modelnya dan bahan dasarnya. Dia terus membuktikan bahwa kostum yang dibuatnya akan bernilai dan memiliki keunikan serta ramah lingkungan. “Terbukti hingga saat ini, penyewaan dan explore busana daur ulang ramai di kalangan masyarakat Blitar Raya,” papar Yuda.

Untuk mengenalkan kostum carnival, dia sering tampil pada setiap karnaval yang ada di Blitar Raya. Selain untuk membuat nama, dia mengaku sangat bangga bisa menampilkan karyanya walaupun tanpa ada imbalan apapun. “Memang dengan berjalannya waktu yang awalnya hobi menjadi sebuah usaha sampingan. Hasil jerih payah membuat nama membuahkan hasil, dari sewa pada saat itu dihargai Rp 50 ribu hingga jutaan rupiah,” ungkapnya.

Yuda menambahkan, untuk mencari inspirasi model banyak hal yang dilihat mulai dari melihat model pakaian berbahan kain hingga barang kerajinan umum lainnya. Seperti keset, rangkaian bunga, dan lain-lain. “Selebihnya otodidak dari pikiran saya, terutama pada saat finishing ide-ide kreatif selalu muncul,” ungkap Yuda.

Kesulitan dalam pembuatan kostum daur ulang itu, menurut Yuda, terletak pada penyesuaian model dan bahan yang digunakan. Karena tekstur bahan daur ulang yang tidak selalu mudah diatur pemilihan model juga akan mempengaruhi. Model yang selaras dan jatuh sesuai bahan daur ulang itulah yang dikatakan kostum ini bisa tercipta dengan sempurna. “Ya, inilah yang dikatakan tidak boleh asal-asalan dalam menciptakan kostum daur ulang. Pengerjaan juga tidak harus dijahit sesuaikan dengan bahan yang digunakan bisa ditusuk jelujur, dilem, atau cara lainnya,” terangnya.

Selain menentukan model, pencarian bahan bekas tidak mudah. Karena tidak asal bahan bekas, dirinya harus memilih bahan bekas yang berkualitas baik. Sehingga jika dibuat kostum akan terlihat layaknya pakaian yang terbuat dari kain. “Salah satunya kostum yang dianggap tidak seperti dari bahan bekas itu, yang terbuat dari paranet hitam ini. Paduan gaun hitam dengan hiasan bunga plastik dianggap orang ini gaun cantik yang dibuat dari bahan kain pada umumnya,” terangnya.

Menurut Yuda, meskipun galeri yang dia miliki tidak selalu buka, namun dengan mengutamakan kualitas busana dan kepuasan para penyewanya, mereka akan selalu datang hingga sabar menantinya. “Rata-rata mereka memang sewa melaui ponsel, karena terbentur aktivitas pekerjaan utamanya yang sesuai dengan basic yang dimiliki,” tambahnya.

Rasa lelah tidak menjadi halangan lagi, motivasi dengan banyaknya peminat pakian daur ulang menjadikan dia terus bersemangat menciptakan busana-buasana indah. Kurang lebih ada 50 kostum daur ulang yang ada di galerinya. “Tidak hanya semata mendapatkan income tetapi kreativitas saya terus diasah dan itu membuat saya semakin terampil serta bangga,” pungkasnya.(blt2)

Keterangan gambar: Yuda dengan beberapa koleksi gaun fashion show daur ulangnya.(ist)

http://www.adakitanews.com/wp-content/uploads/2017/05/IMG-20170527-WA0015-1024x683.jpghttp://www.adakitanews.com/wp-content/uploads/2017/05/IMG-20170527-WA0015-150x150.jpgREDAKSIAda Sajaadakitanews,Berita,blitar,daur ulang,fashion,kreatif
ADAKITANEWS, Kota Blitar - Pemanfaatan barang bekas saat ini sudah mulai menjadi tren. Salah satunya dengan mengubahnya menjadi benda fashion. Berawal dari kecintaan akan model kostum carnival dan fashion show, pria muda berusia 28 tahun bernama Yuda Kriesnawan akhirnya memberanikan diri menyulap berbagai bahan bekas menjadi sesuatu yang bernilai...