ADAKITANEWS, Blitar- Pementasan drama kolosal peristiwa pemberontakan tentara Pembela Tanah Air (Peta) di kawasan monumen Peta, Jalan Sudanco Kota Blitar, Rabu (14/02) malam berlangsung meriah dan heroik.

Pementasan drama kolosal yang ke-73 dan rutin diselenggarakan setiap tanggal 14 Februari kali ini mengambil tema Labuh Bumi Pertiwi. Terlihat ratusan warga sangat antusias menyaksikan Drama Kolosal Pemberontakan PETA yang diadakan oleh Pemerintah Kota Blitar itu.

Pagelaran Drama Kolosal ini untuk memperingati peristiwa perjuangan tentara Peta yang dipimpin Sudanco Supriyadi, saat mengusir penjajah Jepang di Blitar pada 14 Februari 1945 silam.

Drama kolosal yang melibatkan 300 peserta teater dari siswa SD, SMP dan SMA se-Kota Blitar dan tokoh peran utama dari seniman muda Patrialoka tersebut memeragakan aksi heroik tentara Peta dalam melawan penjajah Jepang.

“Untuk peserta dari seniman muda Patrialoka berperan sebagai tokoh utama tentara Peta dan sebagian lagi berperan sebagai penjajah Jepang,adapun peserta lain dari tingkat SD, SMP dan SMA kita bagi dalam beberapa peran” ungkap Redi Wisono selaku sutradara pada Drama Kolosal.

Drama kolosal yang diawali dengan kedatangan tentara Jepang dan disambut meriah oleh masyarakat Indonesia, Jepang datang seakan sebagai saudara tua yang berhasil mengusir tentara sekutu di Indonesia. Tetapi, pada perjalanannya Jepang sama saja dengan tentara sekutu saat menjajah Indonesia.

Sudanco Supriyadi yang pada waktu itu menjadi komandan Peta di Blitar tidak terima. Dia bersama pasukannya berniat memberontak terhadap Jepang.

Perjuangan Sudanco Supriyadi dan pasukannya melawan tentara Jepang ditampilkan secara heroik. Meski pada akhirnya Sudanco Supriyadi dan pasukannya kalah dalam peristiwa itu.

Pementasan drama kolosal Pemberontakan PETA juga disaksikan oleh Wakil Wali Kota Blitar, Santoso dan Forpimda di Kota Blitar. Wakil Wali Kota Blitar, Santoso mengatakan, peristiwa pemberontakan tentara Peta di Blitar membuktikan sejak dulu Blitar memiliki jiwa nasionalisme tinggi.

“Pementasan drama kolosal ini untuk mengenang jasa para pahlawan sekaligus menanamkan semangat nasionalisme ke para generasi muda. Untuk tahun ini peran utama kita libatkan para seniman muda, dengan harapan para generasi muda mencontoh sekaligus memiliki semangat nasionalisme para pejuang pendahulunya,” jelas Santoso.

Dikatakannya, melalui pementasan drama kolosal ini diharapkan masyarakat terutama generasi muda selalu mengingat kegigihan para pejuang pendahulu dalam mengusir penjajah di tanah air Indonesia.(fat/wir)

Keterangan gambar: Suasana pementasan Drama Kolosal PETA ke-73 (foto: wiro)