Kediri(adakitanews.com)—Istilah santri bukan muncul begitu saja, santri berasal dari kata cantrik. Cantrik adalah mengabdi kepada seorang guru untuk belajar. Sebagaimana abdi, cantrik tinggal bersama guru setiap hari.

Seorang cantrik setiap hari membantu apa saja yang dilakukan dan bahkan dibutuhkan oleh guru. Mereka membantu mengerjakan kegiatan rumah tangga seperti menyapu, menimba, memasak, menerima tamu, mewakili guru menghadiri undangan, mengantar putra-putra guru, mengerjakan sawah, berdagang.

Dan semua itu dilakukan tanpa ada imbalan material. Tetapi mereka ikhlas, memang tidak mengharapkan imbalan dari guru.

Dengan cara mengabdi ini, seorang cantrik dapat belajar langsung kepada guru berbagai macam ilmu. Mereka belajar tentang ajaran Islam, pengetahuan, dan juga kemampuan (life skill). Pelajaran yang mencakup berbagai dimensi ini kemudian diadopsi dalam kurikulum modern ke dalam aspek kognisi, affeksi, maupun konasi, psikomotorik, atau skill.

Metode cantrik atau nyantrik ini kemudian disematkan kepada orang yang melakukan pengabdian demi menggali pengetahuan dengan sebutan atau istilah santri. Berakar metode tersebut, santri belajar banyak hal secara menyeluruh.

Tidak fokus pada satu materi saja. Maka wajar jika santri pada akhirnya terjun di berbagai bidang. Tak terbatas pada satu bidang ilmu saja. Melalui model belajar ini, guru dan santri melakukan pembelajaran sosial. Santri belajar banyak hal. Guru menjadi model pembelajaran. (Ratna Wilis Dahar: 1988).

Lebih dari itu, hal yang sangat penting dari santri adalah pembelajaran bukan semata terkait dengan nilai-nilai materialistis seperti bagaimana bertani dan berdagang sukses. Santri tidak hanya belajar bagaimana dapat menanam dan memperoleh hasil pertanian yang melimpah.

Para santri tidak semata belajar bagaimana agar memperoleh untung yang banyak dalam berdagang. Tetapi santri belajar bagaimana menyikapi realitas sosial dan kehidupan. Santri belajar mandiri dan tidak menggantungkan kepada orang lain.

Santri belajar dari guru bagaimana harus bersikap saat ada orang datang membutuhkan pertolongan. Santri belajar bagaimana membantu orang lain. Bahkan, menjadikan teman se-pesantren sebagai saudara, layaknya saudara senasab sehingga di antara mereka para alumni pesantren masih memiliki hubungan kedekatan seperti saat di pesantren.

Santri dan Sun (of) Three

Santri belajar banyak di pesantren belajar pengetahuan ilmiah dan juga pengetahuan praktis, teori, dan sekaligus praktik. Belajar nilai-nilai material dan spiritual. Belajar aqidah, syari’ah, dan juga akhlaq.

Jika mengacu pada landasan kehidupan berbangsa dan bernegara maka pelajaran dari pesantren sudah sangat cukup untuk memenuhi nilai-nilai Pancasila dan UUD 1945.

Tiga dimensi pengetahuan telah dipelajari di pesantren dan insyaallah dikuasai oleh santri. Tiga dimensi itu adalah aqidah (keyakinan, kepercayaan), syari’ah, dan akhlaq.

Aqidag adalah dimensi pertama dan mendasar yang seharusnya dijadikan sebagai landasan hidup santri. Maka tidak ada ceritanya dan tidak patut terjadi seorang santri itu tidak menjadikan Tuhan sebagai sentral kehidupan.

Shalat lima waktu sebagai salah satu ukuran apakah Tuhan dijadikan sebagai sentra kehidupan atau tidak. Dengan menjadikan Tuhan sebagai sentra kehidupan, maka santri sudah memenuhi sila pertama dari Pancasila. Bukankah sila pertama ‘menjiwai’ sila kedua dan seterusnya?

Syari’ah adalah dimensi tata kelola hidup manusia. Bagaimana manusia harus menjalani hidupnya. Boleh dan tidak boleh, baik dan buruk, diatur dalam dimensi syari’ah. Maka kepatuhan santri kepada Yang Maha Kuasa, ditentukan seberapa patuh terhadap aturan syari’at yang telah ditetapkan oleh-Nya.

Kepatuhan santri kepada aturan sebagai perwujudan dari system tata kelola telah mencerminkan pada kepatuhan sila kedua, ketiga, keempat dari Pancasila. Perlu disadari bahwa secara penerjemahan sila-sila tersebut dikembangkan secara detail dan tata aturan perundang-undangan sebagaimana tertuang dalam UUD 1945.

Kepatuhan santri pada syari’ah sebagai perwujudan penempatan Tuhan sebagai sentra kehidupan akan mengantarkannya pada posisi terpuji atau tercela. Posisi ini disebut dengan akhlaq. Dan posisi terbaik disebut dengan akhlaqul karimah. Di sinilah hadits Nabi Muhammad Saw, yang berbunyi aku diutus untuk menyempurnakan akhlaq (menjadi) mulia, harus dipahami dengan baik.

Dalam konteks Pancasila, kesempurnaan akhlaq itu akan terukur melalui cita-cita bersama sebagaimana dituangkan pada sila ke lima dari Pancasila, “Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia”.

Itulah di antara filosofi santri. Itulah fiosofi dari sun (of) three. Sun yang berarti matahari atau cahaya. Three yang berarti tiga. Tiga nilai dasar yang jika sungguh-sungguh dijadikan sebagai sumber cahaya dalam tata kelola kehidupan, baik pribadi maupun dalam berbangsa dan bernegara akan mengantarkan negeri ini menjadi negeri yang adil, damai, dan sejahtera.

Mendorong bangsa untuk taat berpegang pada nilai aqidah, syari’ah dan akhlak sebagaimana diajarkan di pesantren pada dasarnya sama dengan mendorong bangsa ini taat berpegang pada filasofi nilai-nilai Pancasila. Tugas kita bersama adalah ‘menyantrikan’ Indonesia untuk mewujudkan negeri yang thayyibatun wa rabbun ghafur.

“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (QS. Al-A’raf 96).(Ropingi el Ishaq/oky).