width=

Kediri(adakitanews.com) — Siapa yang menyangka jika tahun 2020 harus dilewati dengan kondisi duka. Pasalnya seluruh aspek harus terhenti akibat pandemi Covid-19 yang melanda di seluruh dunia, termasuk Indonesia.

Kegiatan olahraga seolah mati suri. Beragam kejuaraan maupun turnamen yang seyogianya diselenggarakan pada 2020 harus diundur, dan tak sedikit berujung pada pembatalan.

Tak terhitung berapa banyak jadwal kompetisi olahraga yang direcoki oleh virus corona yang sudah menjadi pandemi global.

Demikian dengan kompetisi sepakbola Liga 1 Indonesia, setelah mengalami fase-fase pelik soal kapan kompetisi akan dimulai. Termasuk hingga detik ini kompetisi juga tak urung mendapat kepastian kapan akan digelar.

Namun, bila kompetisi itu dilanjutkan, ada dua sisi dibalik dampak yang diberikan dalam pengambilan keputusan itu.

Bila melihat dari sisi positif, apabila kompetisi dilanjutkan membuat sejumlah pelaku pesepakbola yang sebelumnya kelimpungan akibat tak memiliki mata pencaharian selain dengan bermain sepakbola.

Maka dengan kembali dimulainya kompetisi akan membuat mereka kembali bermain dan secara otomatis pundi-pundi rupiah mereka akan kembali mengalir untuk mencukupi kebutuhan kesehariannya.

Akan tetapi, dibalik keputusan itu juga akan berdampak pada kualitas kompetisi.

Bagaimana tidak, sesuai dengan kebijakan Ketua PSSI yang berniat untuk kembali melanjutkan kompetisi di bulan Februari 2021 ini dinilai tak efektif.

Mengingat durasi waktu yang diberikan bagi peserta tim dalam melakukan sejumlah persiapan untuk menyambut kompetisi tersebut terlalu sempit.

Tentu saja, bila bicara soal sepakbola tidak terlepas dengan kondisi fisik pemain dan tim work. Dengan minimnya waktu persiapan tentunya cukup berpengaruh besar terhadap dua hal tersebut mengingat kompetisi sempat tertunda lama dan membuat hampir keseluruhan pemain menganggur.

Perihal inipun juga dibenarkan oleh Pelatih Persik Kediri, Budi Sudarsono yang menilai jika kompetisi tidak akan berjalan maksimal karena minim bagi sebuah tim untuk mempersiapkan diri menghadapi kompetisi perlu waktu kurang lebih selama 2 bulan.

“Itu kalau mau kualitas kompetisi yang berkualitas. Karena kompetisi sebelumnya juga tidak berjalan,” ujarnya, Sabtu (9/1/2021).

Meski demikian, Budi Sudarsono tetap berkeinginan agar kompetisi sepakbola tanah air tetap berjalan. Karena menyangkut banyak orang terutama bagi pelaku sepakbola yang tak banyak menjagakan mata pencahariannya melalui bermain sepakbola.

“Ya bagaimana lagi, kami kecewa ya memang keadaanya seperti ini. Kami cuma berharap kondisi Indonesia dapat segera normal kembali dari Covid-19. Agar kompetisi juga dapat berjalan normal,” ungkapnya.

Di samping itu, kompetisi yamg rencananya akan digelar tanpa adanya sistem degradasi membuat sejumlah kelemahan yang disinyalir akan muncul di tengah kompetisi.

Seperti diungkapkan oleh Pengamat sepakbola yang juga Koordinator Save our Soccer (SOS), Akmal Marhali, mengkhawatirkan para pemain dan klub peserta Liga 1 tidak akan bermain maksimal jika Liga 1 2020 tidak menggunakan sistem degradasi.

Hal ini, lanjutnya, dikhawatirkan akan membuat gelaran lanjutan Liga 1 2020 tidak akan kompetitif.

“Tidak adanya degradasi tidak mencerminkan esensi kompetisi. Yang dikhawatirkan dengan tidak adanya degradasi itu, pemain atau klub bermain setengah hati. Seadanya saja sehingga kompetisi ini tidak kompetitif,” katanya.

Selain tidak kompetitif, Akmal juga mengkhawatirkan terjadinya kemungkinan pengaturan skor. Di tengah kondisi seperti ini, dirinya khawatir ada pihak-pihak tertentu yang mengincar pendapatan melalui cara yang tidak halal.

“Yang dikhawatirkan lagi, akan terjadi jual beli pertandingan atau match fixing untuk mendapatkan pemasukan yang tidak halal di sepak bola,” jelasnya. (Oky)