Kediri(adakitanews.com)—Puluhan warga Desa Desa Belor, Kecamatan Purwoasri, Kabupaten Kediri menggelar doa bersama. Syukuran dan doa bersama ini, setelah mereka mendapatkan kembali sertifikat tanahnya.

Awalnya, sebanyak 30 sertifikat tanah warga yang mayoritas petani disita oleh Kejaksaan karena terkait dengan kasus korupsi dana Kredit Ketahanan Pangan dan Energi (KKPE) di desanya. Puluhan dokumen kepemilikan tanah itu nyaris dilelang oleh pihak bank.

Indah, selaku koordinator warga Desa Belor mengaku, bersyukur. Itu merupakan ungkapan rasa syukur dengan kembalinya puluhan sertifikat tanah itu, sekaligus mendoakan arwah sejumlah masyarakat yang menjadi korban kasus tersebut. Karena memikirkan kasus kredit macet itu, beberapa orang telah meninggal dunia.

“Tepat pada 1 Maret 2022, Alhamdulillah perjuangan kita selama 7 tahun dikabulkan Tuhan. Doa kita, ikhtiar kita membuahkan hasil. Sertifikat warga sebanyak 30, tanpa mereka harus mencicil, kini keluar secara betul betul luar biasa. Sama Allah dilancarkan, dikembalikan utuh kepada warga,” ungkap Indah, pada Selasa (1/2/2022).

Kasus korupsi KKPE sendiri mulai terjadi, sejak 2011. Kasus tersebut akhirnya terbongkar setelah warga melapor ke kepolisian, pada 2015. Ada empat terdakwa yang terlibat. Mereka, Sekretaris Desa Belor Sunari, sekaligus pemrakarsa program KKPE. Kemudian, Sumadi wakil ketua serta Cholis Agustiono sebagai bendahara. Cholis lah yang menggelapkan uang storan petani, hingga mengakibatkan terjadinya kredit macet.

Sundusin, korban kredit macet KKPE ini mengaku, awalnya didatangi Cholis dengan maksud menawarkan pinjaman uang dengan jaminan sertifikat tanah. Pria paruh baya ini kemudian menyerahkan tiga sertifikat tanahnya dengan nilai pinjaman sebesar Rp 150 juta.

“Saya sudah bayar angsuran rutin setiap bulan. Tetapi Bank Jatim datang ke rumah dengan maksud mau menyita,” kata Sundusin. Pria paruh baya ini pun terkejut. Ternyata, uang angsurannya tidak disetor kepada Bank Jatim. Sehingga terjadi kredit macet.

“Alhamdulillah, sekarang rasanya sudah plong dihati. Sudah 11 tahun kami menantikan ini, sejak tahun 2011. Saya bersyukur sekali. Atas nama para korban saya mengucapkan terima kasih kepada Bu Indah yang telah membantu masalah kami, sampai akhirnya sertifikat kami kembali,” ungkap Sundusin.(Gar).