ADAKITANEWS, Blitar – Para peternak ayam petelur masih terus melakukan boikot terhadap pakan pabrikan. Dampaknya, banyak agen pakan yang mulai merugi lantaran omzet mereka terus menurun.

Salah satu agen di Desa/Kecamatan Wonodadi Kabupaten Blitar, Beky Hardihansyah mengaku, akibat dari aksi boikot yang dilakukan para peternak ayam, penjualan pakan dalam sebulan ini mengalami penurunan.

“Sebelumnya saya bisa menjual 6 ribu ton pakan dalam sebulan, tapi kini menjadi 5500 ton sejak diboikot Februari lalu,” keluh Beky saat diwawancara, Kamis (30/03).

Soal harga telur, Beky berpendapat jika dampak dari penggelontoran telur tunas ke pasaran yang dilakukan oleh pabrikan tidak terlalu berpengaruh secara signifikan. Pasalnya, jumlah telur tunas yang dikeluarkan ke pasaran pasti sangat sedikit.

“Logikanya begini, telur tunas yang digelontorkan ke pasar becek itu sangat sedikit. Kalaupun banyak pasti pengusaha merugi. Bayangkan, untuk yang sudah jadi bibit ayam bisa terjual Rp 5 ribu per ekor, kalau telur tunas hanya sekitar Rp 700 per butir. Jadi gak mungkin kalau yang diperbanyak oleh pabrikan malah telur tunasnya, kan bisa rugi,” papar Beky kepada wartawan.

Beky berharap agar para peternak bisa lebih dewasa menyikapi masalah ini, sehingga para petenak mampu menilai kualitas pakan yang berdampak baik bagi keberlangsungan peternak. “Jangan ada boikot seperti itu lagi lah, karena ujung-ujungnya berpengaruh juga pada produksi. Kalau begini kan agen seperti kami juga ikut terkena imbas,” pungkasnya.

Informasi yang dihimpun, sebelumnya para peternak melakukan boikot terhadap empat produk pakan pabrikan, seperti Pokphand, Japfa Comfeed, Malindo, dan Wonokoyo. Namun saat ini boikot hanya tinggal dilakukan terhadap Pokphand, alasannya lantaran pakan pabrikan tersebut dituding menggelontorkan telur tunas ke pasar tradisional, sehingga membuat harga telur dari kalangan peternak hancur.

Sebelumnya diketahui, setelah beberapa waktu sempat mereda, para peternak ayam petelur di Blitar Raya kembali melakukan unjuk rasa hingga menggeruduk Istana Presiden untuk mendesak pencopotan Menteri Pertanian, Amran Sulaiman. Para peternak membawa empat tuntutan, diantaranya menghentikan integritor, peredaran telur tunas di pasaran, menyediakan jagung dengan harga murah dan stok cukup, serta adanya larangan impor tepung telur, sehingga pengusaha kue bisa membeli telur fresh dari para peternak.(blt1)

Keterangan Gambar : Gudang Pakan Pokhpand di Wilayah Wonodadi Blitar.(foto:glorian)