ADAKITANEWS, Blitar – Khoirunisaul Mardiyah, balita berusia 1 tahun di Desa Karangbendo RT 3/RW 6 Kecamatan Ponggok Kabupaten Blitar, saat ini hanya bisa tergeletak di tempat tidur rumahnya. Putri ketiga dari pasangan Narto dan Suyanti tersebut, didiagnosa mengalami gizi buruk sejak dilahirkan.

Pihak rumah sakit memvonis Khoirunisaul menderita gizi buruk tuberculosis (TBC). Bahkan kondisi itu diperparah dengan adanya hydrochepalus (pembesaran kepala).

Dengan berat badan hanya 3,9 kilogram, Khoirunisaul belum bisa mengangkat kepalanya apalagi untuk duduk layaknya balita seusianya. “Saat ini baru bisa miring saja, namun belum bisa duduk seperti anak-anak yang lain,” ungkap ibunda Khoirunisaul, Suyanti, Rabu (30/08).

Suyanti menjelaskan, saat mengandung ia tidak menaruh curiga jika anaknya akan lahir dengan berat badan yang belum memadai. Hingga akhirnya, pasca dilahirkan secara caesar putrinya harus dirawat di dalam inkubator selama hampir satu bulan di rumah sakit.

“Saat hamil saya juga periksa kesehatan seperti ibu-ibu hamil lainnya,” ungkap Suryanti.

Sakit TBC yang dialami putrinya, lanjut Suyanti, membuat berat badan Khoirunisaul sulit berkembang. Hingga usia hampir satu tahun ini, ia sudah lima kali masuk rumah sakit dengan waktu perawatan yang rata-rata selama satu bulan.

“Rumah sakit sudah seperti rumah bagi anak saya ini, karena seringnya keluar masuk rumah sakit,” ujarnya.

Hingga usia hampir satu tahun, Khoirunisaul masih memakan bubur bayi layaknya balita. Bubur inipun didapatkan dari bantuan pemerintah beberapa bulan terakhir.
“Kalau pemeriksaan rutin di lakukan sebulan sekali ke Rumah Sakit Ngudi Waloyo, Wlingi ,” tegasnya.

Dengan penghasilan suaminya sebagai buruh memanjat pohon dan mengambil lira, dirasa tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Apalagi lira yang diambil bukanlah dari pohon kelapa miliknya sendiri, namun milik kerabatnya.

Narto, ayah Khoirunisaul mengatakan, dalam satu hari biasanya dapat mengumpulkan uang antara Rp 80 ribu hingga Rp 100 ribu. Inipun masih dibagi dengan pemilik pohon kelapa yang mendapatkan setengahnya, sebagai upah memanjat pohon kelapa.

“Kalau dulu dalam sehari bisa naik sampai 60 pohon, kalau sekarang tinggal 15 pohon. Selain sakit-sakitan juga karena punya anak kecil yang membutuhkan perawatan lebih,” ungkap Narto.

Untuk menambah penghasilannya, Narto juga membuka jasa potong rambut di belakang rumahnya. Namun hal itu tidak bisa ia kerjakan setiap hari, tergantung ada tidaknya pelanggan yang datang untuk dipotong rambutnya. “Kalau jasa potong rambut tidak setiap hari, jadi hasilnya tidak dapat diandalkan,” ungkapnya.(fat/wir)

Keterangan gambar: Khoirunisaul Mardiyah saat digendong ibunya.(ist)