Angkat “Coffee Party”, UB Kediri Minta Petani Kopi Lokal Bangkit

2016-05-29_20.43.17ADAKITANEWS, Kota Kediri – Festival Brawijaya yang diselenggarakan di Lapangan Mojoroto oleh para mahasiswa-mahasiswi Agrobisnis semester VI Universitas Brawijaya Kampus III (UB) Kediri dibilang cukup fantastis. Festival yang bertajuk “Coffee Party” tersebut, langsung mendatangkan para ahli penyedu kopi dan pelukis ternama dari cekakik.

Risky Nurmala Sari, mahasiswi Agrobisnis Semester VI bagian sponsorship menjelaskan, Festival Brawijaya yang mengambil tajuk “Coffee Party” bertujuan untuk mengenalkan ragam kopi dan manfaatnya kepada kalayak umum. Mulai dari memilih biji pilihan hingga pada proses menyedu kopi dibahas secara detail oleh para ahli dan bisa langsung dipraktikkan para peserta yang hadir.

“Semua pengetahuan tentang kopi dibahas dalam Festival Brawijaya ini,” ungkap Risky Nurmala Sari saat berbincang-bincang dengan Tim Adakitanews.com di Lapangan Mojoroto Kota Kediri, Minggu (29/05).

Ia menambahkan, selama ini cekakik (ampas kopi,red) tidak memiliki kegunaan yang cukup banyak. Namun, setelah ditelisik lebih dalam ternyata cekakik bisa dibuat bahan utama melukis yang memiliki nilai seni. “Bahan untuk melukis dengan cekakik terbilang murah, namun sedikit orang yang mau memanfaatkannya,” jelas Riski Nurmala Sari.

Diakuinya, Festival Brawijaya banyak menggelar kegiatan sosial, diantaranya pemeriksaan gratis, touring “Sepedah Tuo” with Kosti Kediri, rumah baca, Art from “Ampas Kopi” with cekakik dan masih banyak lainnya. Rangkaian acara tersebut, sudah disusun oleh para panitia sejak bulan Maret akhir yang bertujuan untuk penyadaran kepada masyarakat tentang pentingnya kopi dari sektor pertanian dan bisnis. “Petani kopi di Indonesia harus bangkit,” tegas Risky Nurmala Sari.

Sementara Nur Habib, pendiri Cekakik Artist Comunity dari Desa/Kecamatan Kepung Kabupaten Kediri mengaku sudah memiliki seribu murid yang terdiri dari berbagai usia. Pihaknya menambahkan, bahwa lukisan cekakik hasil karyanya sudah melanglang buana hingga ke Amerika Serikat.

“Satu lukisan cekakik ditukar dengan buku asal mula seni dunia seharga Rp 40 juta dengan total 27 jilid,” ungkap Nur Habib, pelukis cekakik asal Kediri yang telah menekuni seni lukis ampas kopi sejak tahun 1978 hingga kini.

Menurut Nur Habib, Festival Brawijaya yang bertajuk “Coffee Party” sangatlah membantu anak didiknya untuk mengekspresikan lukisan cekakik di hadapan khalayak umum. Selain menambah wawasan, ia berharap kelak anak didiknya mampu mengalahkan lukisan Nur Habib.

“Saya akan merasa bangga ketika lukisan cekakik anak didik lebih bagus dari karya saya,” urai Nur Habib saat menyelesaikan tahap akhir lukisan cekakik miliknya.(*/blot)

Keterangan Gambar: Nur Habib, pelukis dari bahan cekakik (ampas kopi,red) saat menyelesaikan lukisannya di Festival Brawijaya UB Kediri.

Recommended For You