ADAKITANEWS, Jombang – Asosiasi Pengusaha Rokok Indonesia (ASPRI) di Jombang menolak rencana kenaikan harga rokok yang diperkirakan hingga menyentuh angka Rp 50 ribu per bungkus.

Ketua ASPRI Jombang, Abdul Rahman beralasan, kenaikan harga itu dikhawatirkan akan memicu matinya daya beli masyarakat hingga bangkrutnya perusahaan. Bahkan, kondisi ini dipastikan akan menyebabkan pabrik melakukan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) massal.

“Alasannya, kalau rokok Rp 50 ribu per bungkus, otomatis kita tidak bisa jual. Yang jelas kita mem-PHK-kan karyawan itu sudah pasti. Kalau memang begitu tolong pemerintah harus bisa berfikir kedepan bagaimana caranya rokok pengusaha kecil menengah itu bisa berkembang pesat,” kata Abdul Rahman, Rabu (23/08).

Abdul Rahman mencotohkan, salah satu perusahaan rokok berbasis home industri di Desa Plandi Kecamatan Jombang. Dengan dibantu 35 karyawan, home industri tersebut terus memproduksi rokok berbagai ukuran untuk memenuhi pesanan pasar di luar Jawa, seperti Sumatera dan Kalimantan.

Setiap harinya perusahaan itu mampu menghasilkan kurang lebih 40 ribu batang rokok. Menurutnya, jika harga rokok benar-benar dinaikkan hingga kisaran Rp 50 ribu per bungkus, maka dia memastikan puluhan buruh dari salah satu industri kecil bakal dirumahkan akibat menurunnya daya beli.(Tari/Jati)

Keterangan gambar: Home industri rokok di Desa Plandi, Jombang.