pasien demam berdarah 2 pasien demam berdarah@dakitanews Nganjuk – Secara beruntun, belasan anak-anak usia SD warga Dusun Plosorejo, Desa Kepanjen, Kecamatan Pace seminggu terakhir, diresahkan oleh serangan wabah yang tanda-tandanya mirip dengan demam berdarah. Para penderita mengeluh demam, panas tinggi hingga muntah-muntah. Namun pihak Pemkab Nganjuk masih belum tetapkan kondisi luar Biasa (KLB).

Bahkan Valentino, 10, anak Warsidi, 45, kebayan desa setempat sampai kritis dan harus dirawat di Intensive Care Unit (ICU) RSUD Nganjuk setelah mengalami muntah-muntah dan mimisan. Namun demikian sebagaian besar anak-anak tersebut rawat jalan seteah ditangani dokter puskesmas setempat.

Pantauan @dakitanews.com Hari ini, beberapa anak yang mengalami gejala penyaki mirip demam berdarah (DB) menjalani pengobatan rawat jalan di rumah. Mereka sebelumnya sudah pernah berobat ke dokter praktik, Puskesmas Pace dan RSUD Nganjuk. Sementara sebagian anak-anak lainnya masih menjalani rawat inap.

Selain Valentino, kemarin ada dua anak lagi asal Plosorejo, yakni kakak beradik Romi, 12 dan Salsabila, 10, yang dirawat di Ruang Anggrek RSUD Nganjuk.

Menurut orang tua anak yang sakit, Kholid Mawardi, 40, yang anak perempuannya mengalami gejala serupa kemarin mengatakan, bahwa mereka datang ke UGD RSUD Nganjuk pada Sabtu lalu (10/01). Anaknya yang bernama Annida Amalia Yusnia, 12, saat itu mengeluh panas tinggi dan pusing-pusing serta mual sepulang sekolah. Meskipun tidak tampak bintik-bintik merah di kulitnya, namun Siti Maryam, 35, ibu Annida tetap was-was dan memutuskan untuk membawa bocah kelas VI SD ini ke RSUD Nganjuk.

“Trombositnya turun, tapi sedikit. Dari 150 ke 146.” Kata Kholid mengulangi penjelasan tim medis RSUD Nganjuk saat itu. Karena dianggap belum serius, pihak rumah sakit meminta Kholid untuk merawat anaknya di rumah saja.

Meskipun indikasi Annida terkena demam berdarah masih lemah, namun hingga siang kemarin kondisi masih demam tinggi. Dia masih tertidur lemas di dalam kamar dan enggan ditemui orang. Kholid dan Maryam pun masih mengkhawatirkan penyakit yang mendera anaknya. Dugaannya anaknya terserang DB, karena pada pertengahan Desember lalu, desanya sempat kedatangan tim fogging dari Dinas Kesehatan (Dinkes6) Kabupaten Nganjuk.

“Pernah difogging tapi tidak masuk rumah, hanya lewat di jalan menumpang mobil pikap,” kenang Kholid. Padahal sebelum fogging diulai saat itu, sempat ada sosialisasi agar warga menutup peraltan makan, jendela, dan barang-barang sensitif lainnya, agar tidak tersemprot cairan pembasmi nyamuk penyebab deman berdarah.

“Ternyata (petugas fogging) cuma lewat saja naik mobil, mampir halaman depan pun tidak,” imbuh Kholid. Sementara untuk mencegah wabah semakin meluas, Maryam, istri Kholid kemarin melakuka langkah seperti yang dikampanye dinkes setempat denga cara 3 M yakni dengan menguras bak mandi dan ember tempat penimbunan air, serta sumur di rumahnya.

Yuston Muhtadi, Kepala Dusun Plosorejo tak menampik serangan panas-demam massal yang menimpa belasan anak-anak di kampungnya. Sampai kemarin Yuston menghitung, sudah ada 15 anak yang terserang gejala mirip demam berdarah selama seminggu terakhir. Mereka ada yang sudah pulang dan rawat jalan, masih opname di rumah sakit, atau baru masuk UGD kemarin pagi. Jujukan warga antara lain di dokter praktik di Kecamata Pace Puskesmas Pace, RSI Aisyiyah Nganjuk dan RSUD Nganjuk.“Termasuk anak perangkat desa, sekarang kritis di ICU RSUD Nganjuk,” ujar sang kasun.

Serangan penyakit secara bersamaan itu disebut sang kasun baru pertama kali terjadi. Kalaupun ada tahun-tahun sebelumnya, hanya menyerang satu atau dua orang warga. Yuston juga membenarkan sudah pernah ada tindakan fogging dari pemerintah akhir tahun lalu. Namun dirasakannya kurang efektif, karena faktanya masih banyak warga yang sakit. “Tidak cukup sekali fogging,” ujarnya.

Sementara di RSUD Nganjuk kemarin, Valentino, anak kebayan desa setempat masih tergolek lemah di ruang ICU. Eko Santoso, Humas RSUD Nganjuk mengatakan, selain Valentino yang memang dinyatakan positif demam berdarah, di ICU kemarin juga ada satu pasien anak-anak yang juga terserang deman berdarah, asal Kelurahan Werungotok, Kecamatan Nganjuk. “Valentino sudah masuk sejak Senin, yang Werungotok baru kemarin (6/1),” ujar Eko.

Sedangkan di ruang Anggrek, kemarin pihaknya kedatangan enam pasien anak-anak b8aru yang diduga juga terserang demam berdarah. Dua di antaranya adalah warga Dusun Plosorejo. Namun karena masih gejala awal, maka tim medis belum membuat kesimpilan akhir bahwa pasien-pasien tersebut sudah positif terjangkit. “Observasi deman berdarah memang butuh berhari-hari,” ujarnya.

Eko tak menampik, bahwa keluhan demam-panas, pusing dan mual-mual pada anak-anak bisa jadi gejala awal demam berdarah. Namun parameter yang lebih akurat bisa dilihat dari turunnya trombosit pasien dari angka normal. “Kalau (trombosit) turun, kuat dugaan memang kena demam berdarah,” imbuhnya.

Keberadaan sejumlah pasien deman berdarah di RSUD, disebut Eko belum sampai pada taraf kejadian luar biasa (KLB). Sedangkan peristiwa sakit massal yang menimpa belasan anak di Plosorejo, menurut Eko bisa jadi karena ada sumber bibit penyakit demam di kampung setempat, seperti timbunan air atau sanitasi yang kurang sehat.”Harus dicek langsung secara teliti untuk memastikannya,” tukas Eko.(Jati)

Keterangan Gambar : Pasien DB yang dirawat di RSUD Nganjuk